Dec 28, 2009

Menuju Ciwidey! (2)

Lanjutan dari posting sebelumnya, akhirnya saya memutuskan bahwa saya lebih sayang nyawa daripada waktu. Ketimbang berdempet-dempetan di minibus super penuh yang meliuk-liuk di jalanan pegunungan, saya lebih pilih menunggu sedikit lebih lama di bis yang cukup besar. Paling nggak kalau dua-duanya jatuh, probabilitas saya untuk tewas lebih kecil kalau saya naik bis yang lebih besar.

Naiklah saya dengan semangat 45 ke bis berwarna hijau yang sebelumnya ditunjuk oleh seseorang sebagai bis yang akan menuju Ciwidey.
Waa, bis-nya kosong melompong. Cuma ada saya, supir dan kenek. Saya baru akan duduk di bangku depan ketika si supir bilang, Neng, mau ke Ciwidey?
Iya, A'.
Naiknya bis yang depan. Yang ini masih lama jalannya.
Ehehehe. Pantesan aja kosong...

Hijrahlah saya ke bis depan. Penumpangnya baru ada beberapa orang. Masih leluasa untuk memilih tempat duduk. Saya tambatkan hati pada tempat duduk nomor 3 dari depan, soalnya nggak persis di samping jendela. Kalau persis di samping jendela ntar muka saya kena asap knalpot kendaraan lain dari luar (iyaa, saya centil).

Saya juga pilih duduk di kursi untuk dua orang, bukan tiga orang. Soalnya, kalau duduk di kursi tiga orang, saya khawatir di'jajah' sama dua orang asing lain yang akan duduk di sebelah saya (mana tau kan mereka kenal). Tapi kalau di kursi dua orang, berarti saya vs. 1 orang asing. Jadi imbang. Hehehe. So, kalau Anda bepergian sendirian dengan bis, saya sarankan pilihlah duduk di kursi untuk 2 orang!

Orang asing tersebut ternyata ibu-ibu berjilbab yang tampak baik. Dia bahkan mengajak saya mengobrol. Tapi sayang sayang, kami berbicara dalam bahasa yang berbeda. I wish I had learnt Sundanesse back when I was in college... Jadilah kami diam-diaman saja.
Selain kendala bahasa, sebenarnya saya pun mengantuk sekali sehingga saya tidak benar-benar dalam mood untuk mengobrol.

Setelah menunggu beberapa lama (entah berapa lama persisnya, tapi lamaaaa), akhirnya bis melaju juga. Hore!

Saya sempat melihat plang bertuliskan "Soreang 1x km, Ciwidey 2x km", saya lupa angka satuannya. Ooh, saya pikir, deket kok. 20an kilo itu kan paling kayak dari rumah saya ke Kebagusan, tempat saya KP dulu. Biasanya saya kesana hanya 30 menit pakai mobil.
Setupit. Ini kan bis, nggak mungkinlah mengambil rute terdekat.

Selama perjalanan saya byar-pet-byar-pet alias bangun-merem-bangun-merem. Sekali ketika saya bangun, ibu-ibu yang tadi di sebelah saya sudah pindah ke bangku depan. Kali lain saya bangun, ibu-ibu itu sudah tidak ada, bersama juga sebagian besar penumpang lainnya.

Bis pun masuk ke sebuah terminal.
Soreang Soreang, teriak keneknya.
Saya anteng saja duduk. Ini baru Soreang kok. Saya kan dari bayarnya 5 ribu untuk sampai Ciwidey. Tapi ketika semua penumpang lain turun, saya jadi panik juga.

Bertanyalah saya pada Tukang Cimol yang kebetulan di bangku seberang. Ini ke Ciwidey nggak sih, A'?
Eeh, yang ditanya malah menjawab dengan beler-beler gitu. Dasar ABG labil!
Majulah saya ke depan, bertanya pada si supir. Ini sampai Ciwidey nggak sih A'?
Iya. Ini baru sampe Soreang. Istirahat dulu, nanti baru lanjut ke Ciwidey.

Istirahat dulu?
Kyaa! Maksudnya nunggu bisnya penuh lagi? Kyaa kyaa!
Sebenarnya nggak apa-apa sih menunggu lagi. Toh saya juga nggak dikejar waktu. Tapi males aja.

Ya sudahlah, mau apa lagi. Akhirnya saya menunggu sambil mengSMS teman-teman yang bisa diSMS. Sembari itu, si Tukang Cimol ini nampaknya ingin mengobrol lebih jauh. Di Ciwidey mau kemana Neng?
Aha, benar juga. Saya belum tahu bagaimana caranya dari Ciwidey ke Patuha, tempat keluarga saya menginap. Maka saya pun mengalihkan perhatian saya pada si Tukang Cimol.
Patuha. Tau nggak A' caranya kesana?

Lalu terjadilah diskusi antara saya, Tukang Cimol, dan Tukang Sesuatu. Kesimpulannya, naik angkot koneng. Tapi lalu hasil diskusi diralat, blablabla, hingga akhirnya saya biarkan saja mereka berdebat sementara dalam hati saya sudah berketatapan akan bertanya lebih lanjut pada orang-orang di terminal Ciwidey.
Setelah hampir satu jam, akhirnya bis jalan lagi.

Ketika sampai di perjalanan di daerah perbukitan, akhirnya saya mulai benar-benar menikmati perjalanan ini. Polusi kota sudah berganti dengan udara sejuk pegunungan. Pemandangan chaos jalanan sudah digeser dengan hijaunya pohon-pohon diantara rumah-rumah penduduk.

Sudah berapa lama ya sejak saya ada di suasana seperti ini? Sepertinya sudah lamaaa sekali.

Para penumpang pun tampak akrab satu sama lain. Mungkin mereka sering bertemu di bis, ya?
Saya seperti anak itik kehilangan induk yang nyasar ke kandang bebek. Asing. Nggak matching dengan background.
Ada anak kecil yang jari-jarinya dihias 3 buah cincin, di tangan kanannya bertengger sebuah gelang sementara di kanannya ada 3. Ada ibu-ibu paruh baya yang menawarkan makanannya pada penumpang lain (menawarkannya bukan dalam arti menjual yaa). Menarik deh melihat orang-orang ini.

Akhirnyaaaa, saya sampai di terminal Ciwidey. Ketika saya akan turun, supirnya bilang, mobil ke Patuha udah nggak ada Neng, naik ojek aja.
Eh eh, masa sih?

Mendengar itu, para tukang ojek yang sudah berkerumun di dekat pintu bis langsung berlomba menawarkan jasanya. Saya tahu, dari SMS yang dikirim Mama, jarang terminal Ciwidey ke Patuha kira-kira 9 km. Naik ojek bolehlah, saya pikir.

Berapa A'?, saya tanya pada salah seorang tukang ojek.
50 ribu. Halah. Yang bener aja! Buru-buru saya tinggalkan kerumunan tukang ojek sambil misuh-misuh.

Maun berapa, Neng? tanya si tukang ojek.
10 ribu. Orang cuman 9 kilo kok dari sini!
Yah, nggak dapet, Neng.
Ya udah. Dengan angkuhnya saya pun pergi.
Entah bagaimana caranya saya sampai ke Patuha, tapi yang jelas saya tidak akan membayar 50 ribu untuk itu. Si tukang ojek masih berusaha menawarkan jasanya, tapi saya sudah kebas.

Lalu saya masuk ke salah satu warung di terminal. Satu, untuk menghindari tukang ojek. Dua, soalnya Mama nitip minta dibelikan Pop Mie, roti tawar, susu, dan mie yang banyak (aduh Mama, anaknya udah jauh-jauh dari Bandung bawa-bawa tas gede, masih aja dititipin makanan).

Usai dari warung, eh masih saja tukang-tukang ojek ini menunggu saya.
Mau kemana si Neng?
Patuha.
Patuha perkebunan?
Patuha resort.
Saya tidak tahu apakah Patuha resort dan Patuha perkebunan ini adalah tempat yang sama. Lalu salah satu dari tukang ojek ini ada yang bilang, kalau ke Patuha bisa naik angkot kuning yang ada di depan terminal. Langsunglah saya ngacir ke depan.

Pada kenek angkot saya bertanya, ini ke Patuha nggak A'?
Wah, enggak Neng. Mobil ke Patuha udah abis.
Yahh yahh yahh yahh....
Lalu datanglah sih supir angkot. Neng mau ke Patuha perkebunan apa Patuha hotel?
Patuha hotel!
O, kalo Patuha hotel kita lewat.
Hore!

Usut punya usut, ternyata ada perkebunan yang namanya Patuha, yang letaknya jauuh entah dimana. Itulah mengapa tukang ojek men-charge saya 50 ribu. Aduh saya jadi tak enak hati sudah berburuk sangka pada tukang ojek.

Di angkot baru ada saya seorang. Si supir bilang mau menunggu beberapa penumpang lagi, biar cukup untuk bensinlah. Yaa, paling nggak biar ada 25 ribu lah, katanya.
Haha, nice try! Tapi saya lebih baik menunggu penumpang lain daripada bayar 25 ribu.

Angkot kuning akhirnya jalan. Saya duduk di depan bersama supir. Ternyata yang namanya 9 km dari terminal itu palsu! Mana adaaa.
Setelah kira-kira 20 menit perjalanan, saya tanya pada si supir, masih jauh A'?
Setengah dei.
Uwaaa. Berada di angkot cukup lama, akhirnya saya sadar, kaca spion kiri angkot ini tidak ada. Gantinya, dipasang sebuah cermin yang tampaknya dari tempat bedak muka berukuran sekitar 8x5 cm. Sama sekali tidak memantulkan apapun kecuali badan angkot sendiri. Haha, benar-benar cuma formalitas.

Si supir ini ternyata baik, sehingga saya menyebut dia orang baik ketiga (OBKt). Sesekali ia mengajak saya mengobrol. Tapi lagi-lagi, karena kendala bahasa, saya kebanyakan hanya manggut-manggut saja.

Setelah melewati jalan berliuk-liuk, akhirnya saya diturunkan di depan Patuha Hotel. Oh God!
Saya lihat jam, saat itu pukul setengah 5. Padahal saya off dari Kanayakan sejak pukul 11 pagi. Lima setengah jam perjalanan!

Namun akhirnya saya memang bersenang-senang di Ciwidey dan Kawah Putih. Bagaimanapun, cukuplah sekali saja saya kesana. Kalaupun kapan-kapan kesana lagi, maunya ditebengin mobil orang aja.

PS. I promise to post the pictures later. :)

3 comments:

  1. Lalu terjadilah diskusi antara saya, Tukang Cimol, dan Tukang Sesuatu. Kesimpulannya, naik angkot koneng.

    Ngakak gak karu-karuan gue!
    Hahahaha.
    Keren deh Mamiiiin..
    Bangga deh guee ;)

    ReplyDelete
  2. Eh, apa maksut lo ngakak? Parah banget lo, ngetawain apa Nad?
    Ckckckck.

    Btw, gue baru sadar ini postingan panjang amat yak.

    ReplyDelete
  3. mayang8:55 AM

    Heboh banget deh miiinnn...
    Gue bangga lo bisa menempuh perjalanan itu dengan selamat! :))
    Berhasil! Berhasil! Hore hore! *menyanyi ala Dora the Explorer*

    ReplyDelete

Humor me. Drop some comment.

The Other Blog

Dear all, This blog is not going to be updated often as I have created another one at www.floresianay.wordpress.com which will be focusi...