Mar 30, 2009

Usia

Saya senang menggoda adik-adik saya. Sekarang-sekarang ini sih terutama yang paling kecil, yang masih kelas 1 SD. Ketika siang itu kami mengantar Mama praktek di sebuah rumah sakit, muncullah niatan iseng itu lagi.
Temanya, Ayo Ben Disunat Dulu (ABDD).
Mama pun ikut berkomplot. Hahaha.

Adik kecil saya awalnya tak terlalu peduli ketika saya melontarkan ABDD beberapa kali selama di lift. Tapi begitu Mama sok-sok menanyakan kepada susternya soal "Dokter Sunat", mulailah ia agak kalang kabut.

Hihi, senangnya melihat muka kecilnya itu merengut-rengut.

Saya pun menarik-narik tangannya di lorong yang ia tahan sekuat tenaga. Saya baru berhenti ketika Mama memanggil dari dalam ruang nurse station. Di dalam ruangan ada beberapa suster yang saya senyumi satu per satu. Maksud keikutsertaan saya dan Beni sebenarnya karena SAYA mau disuntik serviks. Jadi tidak ada hubungannya dengan Beni apalagi sunat.

Selesai disuntik salah seorang suster berkata pada Mama,
Yang satu lagi kemarin sudah disuntik juga ya, Dok..

Yang dimaksud si suster adalah Tita, adik saya yang kedua.

Kemudian si suster berkata kepada saya,
Kemarin kakaknya juga kesini.

Oh, ini anak yang pertama, saya mendengar jawaban Mama.

Ooh..

Tita, adik saya yang kedua. Mahasiswi UI tingkat pertama. Belum genap 19 tahun usianya.

**

Seperti biasa, Solo selalu gerah. Apalagi di siang bolong. Tak terkecuali di hari peringatan 1000 hari Eyang Putri saya meninggal.

Ruang tamu di rumah Eyang yang persis di pinggir jalan besar itu dipenuhi undangan, ibu-ibu pengajian, teman serta sanak saudara. Sebagian, tentu saja, saya tidak kenal, atau lupa kalau pernah kenal entahlah.

Entah bagaimana, saya nyangkut dengan sekelompok ibu-ibu yang seusia dengan eyang (mungkin bisa kita sebut sebagai sekelompok eyang-eyang).

Putrane sinten? Putranya siapa?

Putranipun Mbak Yul, Yang.
Anaknya Mbak Yul, Yang.

Oo, sing nomer kalih...
Oo, yang nomor dua.

Mboten, Yang. Kulo nomer setunggal
. Nggak, Yang. Saya nomor satu.

Ooo..

Kemudian ada eyang lain yang bergabung dan pembicaraan di atas pun terulang.

**

Saya melangkah masuk ke dalam ruangan sebuah gedung yang terletak di bilangan Kuningan. Sebuah tempat kursus bahasa Inggris dengam metode percakapan via telepon. Keberadaan saya sebenarnya sebagai utusan orang lain yang ingin mendaftarkan diri pada program tersebut.

Saya sebutkan nama orang yang seharusnya janjian dengan pengutus saya kepada resepsionis. Tak lama kemudian seorang bapak-bapak beraut gembira keluar.

Beberapa saat ia menjelaskan soal program yang dituju pengutus saya. Lalu mungkin ia merasa saya adalah calon pelanggan potensial juga. Maka diajaklah saya berbicara dalam bahasa Inggris. Blablabla... Hingga,

How old are you?

Going on 23.

Jeda sesaat.

O, you looked like 18.

Saya mengeluarkan suara tawa sopan yang biasa saya keluarkan ketika saya tak tahu harus menjawab atau menanggapi apa. Sesaat saya coba ingat kostum yang saya pakai. Cardigan kuning pastel, kaos hijau pastel bergambar kucing dengan ornamen pita-pita merah kecil... jilbabnya apa ya? Oh iya, kuning pastel juga.

**

Faktanya adalah, beberapa orang dan mungkin banyak orang lain mengira saya lebih muda dari umur saya yang sebenarnya.

a) It's a good thing. Karena berarti saya awet muda.

b) It's not a good thing. Karena berarti saya kekanak-kanakkan.


Mar 25, 2009

Bocor

Kalau Anda berada pada kisaran usia saya atau di atas saya, mungkin Anda ingat sebuah iklan lama produk sirup. Ceritanya ada tiga orang ibu-ibu bertamu ke ibu-ibu yang lain (kita sebut sebagai ibu Sirup). Ketika ketiga ibu-ibu ini menunggu ibu Sirup, kepanasan, kehausan, kemudian voila... dihidangkanlah air sirup untuk masing-masing orang. Adegan berikutnya tentu saja menggambarkan bagaimana ketiga ibu-ibu ini menikmati sirup segar. Kemudian ibu Sirup datang dan mendapati gelas para tamunya sudah kosong. Lalu salah satu dari mereka berkomentar, "gelasnya bocor!", sambil tersenyum malu.

Ingat?

Itulah yang saya alami sekarang.
Namun pada kasus saya, yang 'bocor' atau mendadak habis bukan sirup jeruk nan lezat melainkan uang.
Ouh.

Terjadinya begitu cepat dan natural, sampai-sampai saya tidak menyadari kemana saja lembaran-lembaran lucu nan menggemaskan itu melayang. Lembaran-lembaran gaji bulan terakhir proyek yang saya kerjakan tahun lalu.
Rasanya seperti sakit hati. Hanya saja lebih sakit.

Saya butuh pekerjaan paruh waktu nih. Kabari ya kalau Anda tahu informasinya.

*Hiks!

Mar 24, 2009

Berharap

Ada hal menarik yang saya temukan pada buku Tea for Two nya Clara Ng. Disebutkan disitu tentang percobaan yang dilakukan oleh Skinner (saya cukup yakin percobaan ini nyata). Dua ekor burung merpati masing-masing ditempatkan pada kotak yang berbeda. Pada masing-masing kotak terdapat tuas yang dalam menyalurkan makanan. Bedanya, pada kotak pertama, tiap kali tuas ditekan, merpati di dalamnya akan memperoleh makanan. Sementara pada kotak kedua, apabila tuas ditekan, kadang-kadang merpati di dalamnya memperoleh makanan, kadang-kadang tidak. Random.

Setelah beberapa saat, makanan disingkirkan sehingga tidak satupun merpati akan memperolehnya lagi. Merpati pertama berhenti menekan tuas setelah beberapa kali kegiatan itu tak lagi memberikan hasil baginya. Sementara merpati kedua terus menerus menekan tuas, tanpa sadar bahwa apa yang diinginkan sudah tak lagi ada, hingga akhirnya mati kelelahan.

Kasihan ya?

Merpati kedua. Ia tidak tahu kapan harus berhenti berharap dan menghabiskan energi pada sesuatu yang sebenarnya tak ada.

Bukan hal yang mudah, ya kan? Berhenti berharap.
Ketika usaha demi usaha yang dilakukan tak memberikan hal yang diharapkan, ada dorongan untuk.. berusaha lagi. Mungkin hanya satu usaha lagi yang diperlukan. Satu lagi. Satu lagi. Hingga akhirnya jadi terlalu banyak. Ketika sudah terlalu banyak, rasanya malah semakin sayang untuk mengakhiri.

Saya pernah mengalami seperti itu. Beberapa teman saya pun, sok taunya saya, juga ada yang mengalaminya. Tentu saja memiliki harapan itu baik, sangat baik. Saya juga orang yang senang berharap macam-macam. Namun ada beberapa harapan yang di luar kendali kita.
Misalnya harapan besok cuaca cerah. Atau harapan agar orang lain berubah sifat. Terobsesi pada harapan yang di luar kendali kita, menurut saya, bisa bikin gila.

Saya menulis ini ada pemicunya. Salah seorang teman saya, sepertinya saat ini sedang mengharapkan perubahan pada diri orang lain. Saya sungguh bersimpati padanya. Saya bayangkan perasaan menginginkan sesuatu begitu besar namun tak banyak hal yang dilakukan bisa membawanya lebih dekat pada harapan itu. Menyiksa.

People don't change, kalau kata orang bule. Saya tidak suka kalimat itu, dan tidak pernah sepenuhnya setuju. Most people don't change, itu lebih baik. Dan sebagian kecil yang berubah saya rasa tidak melaluinya dalam kejapan mata dan tidak mudah. Mengutip Batari, tidak semudah membalikkan kura-kura.

Sulit memang untuk mengakui bahwa apa yang kita harapkan tidak akan terjadi. Menyakitkan juga. Mungkin karena itulah terasa lebih enak untuk memelihara harapan itu. Meskipun itu berarti merelakan mendapat sesuatu yang kurang dari apa yang pantas diperoleh.

Anyway, saya jadi ingat salah satu adegan di Grey's Anatomy ketika Ibunya Preston Burke bicara pada Derek:
Do you know when to walk away?
Do you know when not to take less than you deserve?

If you do then you're an honorable man.

Mar 20, 2009

Liburan


Vacation is a celebration of life


Kira-kira demikian kata (atau kutip) Bapak saya kurang lebih satu setengah tahun yang lalu. Waktu itu kami sedang berlibur di sebuah negara asing yang belum pernah kami kunjungi sebelumnya. Tanpa pemandu. Tanpa sanak saudara yang dapat dimintai informasi. Hanya berbekal peta dan bahasa Inggris yang sayangnya bukan bahasa resmi dari negara tersebut.

Beberapa hari kemarin saya berlibur lagi. Tidak jauh-jauh, hanya ke Semarang. Kali ini rombongan terdiri dari saya, dan dua sahabat saya, Batari dan Mayang.
Kenapa Semarang?
Haha, banyak lho yang nanya gitu. Kok Semarang? Kenapa bukan Yogya? Atau Bali? Atau Surabaya?

Tentu ada alasannya.
1. Tiket ke Semarang lebih murah.
2. Jaraknya tidak dekat-dekat amat dengan Bandung.
3. Ada saudaranya Batari dan Didot (teman lama saya dan Batari) yang tinggal di Semarang, sehingga ada sumber informasi mengenai point of interest dari Semarang.
4. Kami bertiga belum pernah kesana. Kecuali mungkin Batari, waktu dia masih kecil. Tapi karena dia tidak ingat, jadi tak masuk hitungan.
5. Alasan lain: Bali mahal. Yogya baru saja dikunjungi Batari. Surabaya adalah kampung halaman Mayang.

Saya tidak akan cerita banyak soal liburan ini. Itu sudah privilege nya Batari sebagai pemilik kamera yang mendokumentasikan tempat-tempat (dan makanan tentunya.. Batari gituu..) yang kami kunjungi.

Tapi ada satu foto yang ingin saya pamerkan.


Maaf ya, bukan bermaksud tidak sopan dengan memajang foto telapak kaki saya disini.
Perhatikan deh garis putih yang bermuara ke jari tengah saya. Hoho, itu terbentuk akibat kaki saya terpanggang matahari Semarang yang T.E.R.I.K. (Anyway, jangan lupa bawa payung kalau ke Semarang. Untuk menghalau panas, bukan hujan).
Biasanya saya tidak suka kulit saya belang. Tapi sekali ini saya senang. Rasanya seperti oleh-oleh liburan.

Liburan itu menyenangkan, penting, perlu. Kalau ada kesempatan segeralah berlibur. Kesempatan tak datang dua kali kan? Saya pun kalau bukan sekarang-sekarang ini berlibur, entah kapan lagi. Sebentar lagi mungkin kami bertiga tak bisa lagi menyeleraskan waktu dengan mudahnya.
Tidak harus ke tempat terkenal, tidak harus mahal, tidak harus lama-lama juga. Yang penting jangan lupa bawa peta dan sedia payung.
Oia, dan yang paling penting, don't forget to bring your besties! Celebrate your life with your loved ones.

The Other Blog

Dear all, This blog is not going to be updated often as I have created another one at www.floresianay.wordpress.com which will be focusi...