Showing posts with label Dreams. Show all posts
Showing posts with label Dreams. Show all posts

Nov 13, 2009

Beyond Nightmare

I must be dreaming!
There was no way I could run from my late grandmother's house to mine without sweating... while I was in kabaya. No, I knew I was dreaming, but that didn't keep me from... dreaming.
Wake up!
Wake up!
Wake up!
This is ridiculous. How can I not wake up when I deperately want to?

Well, you might be thinking, if I knew it was a dream, why didn't I just go on with the story? It wouldn't do me any harm because it was only a dream.
Oh, believe me, this one was beyond nightmare. First, because it felt so real. Second, in my dream, I was getting married.
Yes. Me. Getting. Married.

Did I know the groom? As a matter of fact, I did. He is a friend of mine. And when I said 'friend', he is indeed a friend, no more no less. All I have for the guy, both in the dream and reality, is just a reasonable amount of affection which I also share with any other not-bestfriend-friend. I also have strong reason to believe that, both in the dream and reality, he feels the same way about me.

So, how could we were trapped in this situation? I didn't know. It started like it was only a game. Then the next thing people did really come to my grandmother's backyard (yes, we had a graden party), a beautiful light brown wedding kabaya was prepared, and his parents showed up.
That was when I knew everything was way out of control. And it seemed like only me who thought that way. My bestfriend (yup, I even had one of my bestfriends in that dream to 'support' me) and the groom seemed don't care about the possible damage of our little 'game' where the two of us had to do the ijab kabul.

Then it was up to me to put a stop to this parade. So I went to the groom's mother. I had meant to tell her that my parents didn't even know that I was getting married. But when I got close to her I could see that the lady had this cruel cold expression. The expression of world's worst mother-in-law.
However, 'I have to tell you something. My parents, they...' they don't know I am getting married! In fact, I didn't know I'm getting married until you came. So please call it off!
I had meant to burst the words, but she did something with her eyes and they tore my spirit. '...they can't come'. I wished that would be good enough for her to call off the wedding. She nodded. Damn!

So I ran to my house. That was when I realized it was only a dream. But, I still couldn't wake up. I couldn't bear to experience this 'wedding' even only in my dream. Then I remembered Carrie from Sex and The City when she was about to get married with Aiden (or Aidan?). Ah, that's why I had dream like this. Because last night I was thinking about that episode!

*

I don't remember how I could finally escape the nightmare but I remember the relief when I was finally wake up.
Why do I share this story? Because I believe that nightmares need to be shared so that they won't burden my mind.

Sep 3, 2009

Out of Control


My teeth went out of control.
It started with one shake of one tooth. And then it fell off. Next thing, they were all shaking. I close my mouth tightly and pressed it with my hands, tried to reduce the shaking. No use.
The shaking went out of control.


They started to fell off. I spit them to my hands one by one.
I felt like crying. Not because it was painful because the truth was I didn’t feel any pain. No, it was not the pain. It was because I loved my teeth. I was proud of how they were placed nicely which were seen each time I smiled. So I felt like crying. But then again, I thought I might be choked so I didn’t cry.


In a moment I had my hands full of my teeth. At least let me have my upper teeth, I secretly prayed. After several more shaking and fell-offs then it stopped. I wasn’t sure so I waited and counted to ten.
It stopped.

What did I have left? Using my tongue, I knew that eight of my front upper teeth were still in place. I held the rest in my hands, those which really had gone out of control.
My hands were full.




I gasped and opened my eyes. Oh, what a dream…

Oct 20, 2007

mati

Rasanya baru saja saya melintas di depan taman itu bersama teman-teman. Membicarakan seseorang yang beberapa waktu lalu meninggal di tempat tersebut.
Rasanya hanya dalam hitungan jam yang lampau saya duduk di meja itu, membicarakan tugas yang harus saya dan teman-teman selesaikan.
Rasanya, baru beberapa menit yang lalu saya berjalan di antara lorong-lorong buku di perpustakaan.

Dan sekarang, saya mendapati diri saya telah menjadi ruh tanpa raga. Ada yang bilang saya sudah meninggal. Entahlah. Soalnya, saya tak ingat bagaimana saya meninggal. Kapannya pun saya tak tahu pasti. Yang jelas baru-baru ini. Karena saya masih dapat melihat dunia yang berjalan saat ini masih sama keadaannya dengan terakhir kali saya hidup.

Sudahlah. Sejauh ini, kematian saya ini belum menjadi persoalan besar buat saya. Karena biarpun status saya sudah meninggal, arwah saya masih bebas pergi kesana kemari. Sudah begitu, orang terdekat saya juga masih bisa merasakan kehadiran saya, bahkan mereka masih bisa melihat dan mengobrol dengan saya.
Begitulah, keadaan saya saat ini tidak terlalu beda jauh dengan keadaan ketika saya masih hidup. Saya bahkan masih tetap mengerjakan tugas-tugas kuliah saya lho. Soalnya saya kan tetap mau diwisuda Juli nanti.
Oya, saya juga masih bisa mengendarai mobil saya. Seperti saat ini. Saya sedang melaju menuju rumah orang tua saya.
Namun di tengah perjalanan saya teringat, sepertinya saya belum shalat Ashar tadi. Saya kemudian singgah dahulu ke sebuah mushola. Shalat, sekalian istirahat dulu, pikir saya.
Begitu masuk ke mushola, ternyata ada orang lain yang sedang memakai mukenanya. Ya sudah, saya tunggu saja di pojok ruangan sambil baca-baca. Namanya juga mushola, jadi bacaan yang tersedia ya Al Qur’an.
Begitu membuka halaman pertama, tiba-tiba kalimat yang pernah berkali-kali diucapkan guru dan orang tua saya terlintas di kepala.
Putus amal ibadah orang yang telah meninggal kecuali 3 hal : ilmu yang bermanfaat, amal jari’ah dan doa dari anak saleh.

Saya tersentak. Kaget luar biasa. Rasanya seperti disiram air es di sekujur badan. Saya kan sudah meninggal… Artinya, amal ibadah saya saat ini tidak akan diterima lagi?! Saya belum pernah mengamalkan ilmu yang bermanfaat, saya tak punya amal jari’ah dan saya juga belum punya anak! Artinya, tak ada maknanya lagi saya shalat Ashar sekarang?! Tak ada lagi artinya saya mengucap taubat sekarang?! Saya akan membawa dosa sebanyak ini dan pahala sesedikit ini hingga kiamat nanti?!
Tidak! Tidak! Saya belum siap! Saya belum berani mati sekarang! Saya belum sanggup menghadap Sang Khalik dengan nilai rapor seperti saat ini! Ah celaka, saya pasti masuk neraka! Ya Tuhan, mana sanggup saya menahan siksa nerakaMu!

Saya merasakan gelombang kekalutan menjalari tubuh saya. Saya berdoa, saya berteriak, saya belum mau mati sekarang! Saya tidak berani menghadapi siksaanMu, ya Allah!
Saya segera lari sekencang-kencangnya menuju rumah orang tua saya. Saya butuh solusi. Harus ada solusi dari semua ini.
Percuma.

Orang tua saya hanya dapat memandangi saya dengan raut sedih. Saya menangis dan meraung sekuat-kuatnya. Berharap Tuhan akan iba pada saya dan menghidupkan saya kembali. Paling tidak berilah saya waktu 1 atau 2 tahun lagi. Banyak utang dan janji yang belum saya lunasi. Berjuta maaf yang belum sempat saya sampaikan. Dan masih banyak banyaaaaak sekali dosa yang belum saya tebus.
Saya menangis dan menangis. Meskipun saya tahu ini tak ada gunanya. Saya kan sudah mati. Tak mungkin saya bisa hidup lagi. Tapi tak ada lain yang dapat saya lakukan. Shalat sejuta kali pun, saat ini tak akan menghantar saya lebih dekat kepada surga. Maka saya hanya menangis… tak berhenti…

**

Suara pintu dibuka membangunkan saya. Ya Tuhan, itu tadi mimpi!
Saya lihat jam di dinding, sudah pukul setengah 6 pagi. Sayup-sayup saya mendengar suara takbir menggema. Hari ini Idul Fitri. Hari ini, saya masih hidup sehat wal afiat.
Tak berani saya membuang waktu untuk segera shalat Subuh, mohon ampun. Mumpung sempat. Mimpi yang sungguh terasa nyata sekali. Saya bahkan masih dapat merasakan sesaknya dada ini karena menangis.
Saya jadi ingat perkataan seseorang dulu. Bersiaplah untuk kematian, karena manusia hidup untuk mati.

May 7, 2007

nightmare?

Saya dan keluarga saya sedang berlibur ke Amerika. Kami sedang berjalan-jalan di sebuah pertokoan ketka tiba-tiba semua stasiun televisi menayangkan berita telah terjadi pemboman di suatu tempat di Amreika oleh sebuah pesawat jet tidak dikenal. Dan selama siarannya berlangsung, bom-bom itu semakin bertambah banyak. Lalu entah bagaimana, tiba-tiba datanglah banjir besar. Maka, kami sekeluarga pun terseret arus. Yang ada di pikiran saya waktu itu adalah bahwa saya harus segera ke bandara.

Maka, dengan cara yang ajaib, kami pun tiba di depan bandara. Ternyata sudah banyak turis-turis seperti kami disana, semua panik. Saya bahkan sempat bertemu dengan salah seorang teman kampus saya yang juga kebetulan sedang berlibur. Di tengah kericuhan suasana, saya dan keluarga menebak-nebak,siapa gerangan yang berani menggempur Amerika? Apakah China? Jepang?

Belum lagi pertanyaan itu terjawab datanglah sebuah tank berikut tentara-tentaranya. Saya berdoa salam hati, semoga ini berarti baik. Salah seorang tentara keluar dari tank. Dan entah bagaimana, tiba-tiba saja Bapak mengacungkan senapan ke arahnya. Sebagai reaksi, tentara itu melempar granat ke arah kami. Untungnya kami sempat menghindar.

Lalu mulailah saya dan seluruh orang yang ada disana memohon untuk dipulangkan ke negara masing-masing. Saya benar brnar kalut waktu itu. Saya benar benar takut kami akan terjebak dalam perang antah berantah ini.

Tak lama, si tentara memberikan pengumuman : hanya wanita dan anak-anak yang akan dipulangkan. Prianya (mungkin) menyusul.

Entah bagaimana, saya punya firasat para laki-laki ini tak akan dipulangkan ke negaranya. Mungkin mereka akan dijadikan ’romusha-romusha’. Maka saya pun menangis sekeras-kerasnya. Saya tidak mau meninggalkan Bapak saya disini. Saya menangis lamaaaaa sekali. Hingga tiba-tiba...

”yasmin... yasmin..”. Ada yang memanggil saya dan detik berikutnya, saya mendapati saya ada di tempat tidur, di Taman Plesiran, Bandung, Indonesia. .Yang saya sadari selanjutnya adalah saya bangun dengan nafas memburu. Mungkin akibat ’menangis’ dalam mimpi?

Mimpi saya boleh jadi sangat buruk. Tapi di akhir cerita, saya benar-benar sangat lega ketika tahu itu hanya mimpi. Berbeda dengan di lain waktu ketika saya sedang bermimpi indah, dan tiba-tiba terbangun. Rasanya saya kesal sekali pada yang membangunkan (ketika itu mama yang membangunkan saya).

Saya tidak tahu, mana yang lebih baik :
Mimpi indah dan mengetahui (sayangnya) itu hanya mimpi?
Atau
Mimpi buruk dan mengetahui (thank God!) itu hanya mimpi?

Dec 30, 2005

fufufufu...

seharusnya hari ini gue jalan sama temen2 gue... hahaha.... tapi batal. maksudnya guenya... soalnya duit gue tinggal 6 ribu perak. hehehe...

oya, gue barusan baca blog fs nya kety. posting terakhir disitu tentang signs. mmm, maksudnya bukan rambu jalan yah... itu loh... omens...
hohoho... dulunya gue skeptis banget sama hal2 kayak gitu. tapi setelah baca the alchemist, gue mulai percaya kalo omen itu beneran ada.

btw, semalem gue mimpi gigi gue tanggal. banyak pula. perasaan mimpi gigi tanggal kayak gitu ada artinya yah? apa sih artinya?
huhuhu,,,, apa artinya gue bakal ketiban rejeki guedeeee...????

The Other Blog

Dear all, This blog is not going to be updated often as I have created another one at www.floresianay.wordpress.com which will be focusi...