Showing posts with label Islam. Show all posts
Showing posts with label Islam. Show all posts

Oct 30, 2013

The World My Son Will be Born Into

Dear son,

Soon you will be born into this world (insyaallah, if God permits). We, your father and I, are very excited to welcome you. Not one day goes by without us talking about you and talking to you (I read that you can hear sound now). The happiness is beyond words.

However, as a soon-to-be-mother, I have my anxiety as well. Do we have enough saving for your future? Am I going to make a good parent? Can I give you the care and attention that you need? The list is endless. One of my greatest concerns is about the world and the people that you're going to meet here. Let me tell you why.

This world that you're going to live in, my son, sometimes can be very deceitful. Things are not always black and white and, speaking from my own experience, there will be times when you are no longer know whether you are on one side or the other. As much as I love you, sweetheart,  I am afraid that I am not strong and wise enough to constantly tell you right from wrong. Nor is your father and anyone in this whole wide world. People are flawed, sometimes we get greedy, pompous, envious, and malign. Now, I am not saying that we are bad all the time, no. People can also be really generous, compassionate, kind, and forgiving, but you should know that humans have those two sides in them. While you need a life guidance that can consistently show you the right path, you should not depend completely on humans on that matter for we are lacking that kind of persistency quality. Instead, take the words of The Most Gracious Allah that you can read from Al-Qur'an and learn from our Prophet Muhammad's hadith.

The tricky part is, in your journey you are probably going to meet certain people who say that they are moslems yet conviniently twist the words of God. In the name of freedom, they embrace part of Qur'an that are relevant (for them) and defy those that are not, and they loudly speak about it. With their flashy degrees and fancy words, these people look and sound intelligent and sophisticated. Whether they actually have read the Holy Qur'an cover to cover or had the wisdom and capability to make and spread their own interpretation of Islam, that I doubt it. As mentioned in the first 7 ayahs of surah Luqman in the Qur'an:
1. Alif Lam Mim
2. Inilah ayat-ayat Al-Qur'an yang mengandung hikmah,
3. sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat kebaikan,
4. (yaitu) orang-orang yang melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan mereka meyakini adanya akhirat.
5. Merekalah orang-orang yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.
6. Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan percakapan kosong untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa ilmu dan menjadikannya olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.
7. Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berpaling dan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbatan di kedua telinganya, maka gembirakanlah dia dengan azab yang pedih.

Your mother is nowhere near a perfect moslem (yet, I hope). There are still many aspects of my life and behavior that are not in accordance with what they are supposed to be. I must say, for me at least, it is not easy to completely liberate myself from all of the temptation to deviate from the guidance.  However, my dear, don't let it be a reason for you to turn your back on what you commit to believe in. Don't let it be a reason to justify opposing the truth only to suit your needs and comfort.

So many wishes I have for you, my son. One of them is that I wish that you will have the wisdom and fortitude to tell right from wrong. May God gives your father and I the strength to raise and educate you to be one fine moslem.


May 28, 2009

Kenapa Berjilbab?

Pertama kali saya mulai memakai jilbab, sekitar 2,5 tahun lalu, banyak orang bertanya, kenapa? Apa pendorongnya? Ketika itu saya berniat menulis blog mengenai hal ini namun entah mengapa tak kunjung tereksekusi. Hingga akhirnya beberapa waktu lalu saya membaca blog teman saya yang membahas soal jilbab (it's a good writing, btw), saya jadi terusik kembali niatan lama.

Jujur, saya tak tahu persis kenapa saya mulai mengenakan jilbab. Pasalnya, ketika itu Mama, adik perempuan serta saudara-saudara dekat saya di Jakarta belum ada yang berjilbab. Saya tidak mengalami near death experience yang biasanya manjur bikin orang bertobat. Saya tidak bermimpi didatangi malaikat yang menyuruh saya berjilbab (saya pernah dengar cerita semacam ini lho..). Saya tidak tergabung dalam organisasi Islam.
Kejadian yang paling mungkin mempengaruhi saya adalah umrah yang saya lakukan beberapa bulan sebelum saya berjilbab. Tapi persisnya apa, dimana, bagaimana, saya tak tahu.Maka, ketika orang-orang menanyakan alasannya, sebenarnya sih saya juga bingung mau jawab apa.

Saya pun ketika itu bukan orang yang terlalu religius (well, sekarang mungkin juga nggak terlalu sih, tapi dibandingin dulu sih insyaallah udah mendingan). Saya tidak biasa mengucapkan Assalamu'alaikum sebagai sapaan sehari-hari, misalnya. Shalat saya pun masih suka bolong-bolong. Jarang mengaji, malas ikut ceramah tarawih, suka pakai kaos ketat, sering berbohong, dan hal-hal lain yang membuat saya tidak layak dikategorikan sebagai umat muslim yang alim dan manis deh.

Entah dimana turning pointnya. Semuanya seperti proses saja. Well, umrah memang sedikit banyak memberi pencerahan. Pulang dari tanah suci saya memang jadi banyak memikirkan tentang agama. Betapa jauhnya saya dari Tuhan, betapa banyak larangan yang sudah saya langgar.
Saya ingin menjadi lebih baik, begitu niatan awalnya.
Lalu entah bagaimana sampailah concern saya tentang jilbab. Beberapa hari saya pikirkan dan saya tanyakan secara tersirat kepada teman-teman yang sudah berjilbab. Hingga suatu hari saya mengsms teman saya menanyakan, perintah berjilbab ada di surat mana ayat berapa sih?

Dijawab teman saya, Al-Ahzab: 59. Saya segera cari di Al-Qur'an. Ah ya, ada. Biarpun bahasanya agak berat buat saya. Membaca ayat-ayat itu sebenarnya masih agak bias untuk pikiran saya. Ragu apakah ini benar-benar wajib? Iya. Entah berapa proporsinya, tapi iya ragu itu ada.Tapi kemudian saya balik pola pikir saya: 'kenapa enggak?'

"Worst case"nya adalah jilbab itu wajib sehingga saya beresiko berdosa bila tidak menaatinya. Coba saya metaforakan. Katakanlah saya sedang mengambil sebuah mata kuliah. Sang dosen memberikan tugas A, B dan C yang bila ada satu saja lalai dikerjakan maka saya tidak akan lulus. Lalu, di tengah semester dosen ini memberikan tugas D. Tak dijelaskan apakah tugas ini akan mempengaruhi lulus/tidaknya saya karena, katakanlah, pada hari tugas itu diberikan saya bolos. Sehingga saya tidak memperoleh keterangan lengkap tentang makna dari tugas D ini. Masalahnya tugas D ini agak sulit dan saya harus mengorbankan 2 weekend untuk mengerjakannya.
Apa yang akan saya lakukan? Melalaikan tugas itu dengan resiko tidak lulus, atau mengerjakan tugas itu, mengorbankan 2 weekend namun nilai akhir saya lebih terjamin? Rasanya sih saya pilih opsi kedua, karena worst case nya adalah tugas D akan mempengaruhi kelulusan saya.

Nah, hal yang sama berlaku disini. Resikonya adalah saya berdosa bila tidak berjilbab. Namun bila saya berjilbab maka ada beberapa hal yang berubah (dan mungkin tidak enak). Saya coba list apa sih hal-hal yang akan membuat saya menyesal bila berjilbab. Daftar itu berisi hal-hal semacam ini:
1. Repot.
2. Panas.
3. Nggak bisa pakai baju sesuka hati.
4. Nggak enak kalau ke tempat-tempat hura-hura.
5. dst.
Yah, pokoknya semacamnyalah. Setelah saya analisis (jjjiiee..), ternyata menurut saya resiko yang bisa saya dapat tidak sepadan dengan kesenangan yang saya peroleh. I couldn't think a single reason (that really matters) why I shouldn't wear jilbab. And then I started to wear it.

Ah ya, beberapa orang berpendapat lebih baik menjilbabi hati dulu sebelum menjilbabi kepala. Saya hormati hak siapapun yang punya pendapat demikian. Tapi menurut pendapat saya tidak demikian (and because this is my blog, I want to write about my opinion, so suck it up! haha).
Berjilbab physically itu mudah. Percaya deh. Anda hanya perlu melilitkan kain di kepala, mengenakan baju dan celana lengan panjang yang tidak transparan dan ketat-ketat (amat). Piece of cake! Semua orang bisa melakukannya.

Berjilbab secara fisik itu mudah. Yang sulit adalah menjilbabi hati. It might be the hardest thing to do in life. It is, for me. Sampai saat ini saya masih belum mampu mensterilkan hati saya dari iri, malas, dengki, dendam, buruk sangka, sombong, malas (did i mention 'malas' twice?) dkk. Tiap hari pasti ada yang mampir. Tiap hari.
Tapi apakah karena saya belum bisa menjinakkan hati makanya saya tidak menjinakkan aurat? Masalahnya, saya tidak tahu kapan saya bisa menjinakkan hati saya. Mungkin tidak akan pernah bisa. Tuhan selalu membolak-balikkan hati manusia, bukan? Lagipula ketika saya merasa bahwa hati saya telah steril, bukankah itu artinya juga sombong ya? Kayak nge-looping.

Saya tidak melihat bahwa setelah hati bersih barulah saya berjilbab. Bukan, jilbab itu bukan tujuan kalau buat saya. Jilbab adalah alat yang saya gunakan agar hati saya bisa (lebih) bersih.
Makanya, kalau menurut saya sih, berjilbab bukan jaminan lebih bersih hatinya dari yang tidak berjilbab. Pada kasus saya, berjilbab berarti saya ingin menjadi lebih baik tapi saya juga mengakui bahwa saya butuh bantuan dari orang-orang sekitar saya agar sampai kesana. Kasarnya, saya minta dicemooh kalau saya kedapatan mencontek atau berkata kasar atau tidak shalat atau terlalu lengket sama yang bukan muhrim atau hal-hal lainnya. Persis seperti reminder. Mungkin reaksi pertama adalah malu pada masyarakat.
Tapi, salahkah? Menurut saya sih tidak. Yang penting tujuannya, saya tidak melakukan hal-hal tidak terpuji, tercapai. Orang lain tidak terluka. Masalah niat itu urusan saya dengan Tuhan. Daripada niatnya sudah tidak betul, menyakiti orang lain pula. Combo double deh. Hehe.

Buat orang lain mungkin remindernya bisa macam-macam. Kalung bertuliskan ayat Al-Qur'an kek, tato henna bertuliskan Allah kek, bisa jadi apa saja. Saya memilih jilbab karena itu yang paling terasa dan terlihat. Tiap kali saya bercermin. Tiap kali saya menggaruk kepala, leher atau telinga. Tiap kali melihat lengan dan kaki yang terbungkus hingga pergelangan. Semuanya mengingatkan bahwa saya punya cita-cita untuk menjadi umat muslim yang lebih baik. Ada yang harus dikerjakan dan ada yang harus dihindari. Ada kiamat yang akan datang. Ada banyak dosa yang telah saya lakukan. Jilbablah yang menjadi remindernya. Meskipun tidak selalu saya dengarkan sih. Haha.


PS. Saya tidak pernah memaksa atau menyuruh orang untuk berjilbab. Tidak Mama saya atau adik saya (meskipun saya bersyukur ketika akhirnya mereka berjilbab). Saya percaya bahwa keinginan itu harus datang dari hati dan pikiran masing-masing. Seperti agama. Mungkin sepanjang Anda membaca tulisan ini Anda berpikir "sotoy banget sih lo Min" atau "sok alim banget sih". Hey, it's just an opinion. I truly do not have any intention to offense anyone at all. :)

Aug 13, 2007

Journey to Arab [part 2]

Mereka menyebutnya Madinnah Al-Munawarrah. Mulanya, saya tak mengerti apa maksudnya. Ya sudahlah, bukankah memang wajar kalau tiap kota punya julukan masing-masing? Seperti Bogor kota hujan, Bandung kota Kembang (beeeut…), atau Palembang kota... Pempek(??).

Saya tiba di Madinnah menjelang sore. Beruntung sekali, hotel yang saya tempati berada di depan masjid Nabawi. Saya katakan “di depan”, tapi bukan berarti tinggal ngesot untuk masuk ke dalam. Karena saudara-saudara, yang namanya masjid Nabawi itu gedaaaaa benerrrrrr.

Berbeda dengan Masjidil Haram di Mekkah yang nyaris tidak memiliki halaman luar, masjid Nabawi ini memiliki halaman yang luas. Dari pagar depan masjid hingga ke pintu masuk kira-kira berjarak sekitar 100 meter (hoho. Ini hasil perkiraan kasar saya).
Konon, kota Madinnah di masa Nabi Muhammad hijrah dulu ya masjid Nabawi ini. Dengan kata lain, kota Madinnah jaman dahulu kala sebesar masjid ini. Pada zaman khulafaur rasyidin (zaman kepemimpinan sahabat-sahabat Nabi), kota Madinnah kemudian diperluas. Seluruh kotanya dijadikan masjid, dan sekitarnya, ya dijadikan kota. Terbayang kan bagaimana besarnya masjid ini?

Begitu sampai, saya sudah tak sabar ingin masuk ke dalamnya. Kabarnya, masjid ini tergolong mewah. Benar saja. Belum juga masuk, saya sudah terkagum-kagum dengan pintunya. Pintu kayu besaaaar dengan ukiran berlapis emas. Masuk ke dalam, semua ruangan full AC. Ini juga yang membedakannya dengan Masjidil Haram yang lebih terkesan terbuka sehingga mungkin meskipun ada AC, jadi tidak telalu terasa.

Sudah ber-AC, lantainya marmer pula, jadilah masjid ini menjadi tempat yang sejuk sekali. Tidak kalah dengan Masjidil Haram, di masjid Nabawi pun kita masih bisa menikmati air zam-zam. Di semua sudut masjid terdapat tempat-tempat air berisi air zam-zam berikut gelas-gelas plastic di sampingnya. Air zam-zam ini langsung “diimpor” dari Masjidil Haram.

Sama juga seperti Masjidil Haram, disini pun terdapat petugas-petugas keamanan yang mengecek tiap pengunjung yang masuk. Dan karena di masjid Nabawi ini tempat laki-laki dan wanita terpisah (lagi-lagi ini berbeda dengan di Masjidil Haram dimana pintu masuk antara laki-laki dan wanita tidak dipisahkan), maka yang memeriksa bagian wanita pun petugas wanita juga. Memakai pakaian hitam-hitam dan bercadar, petugas disini tampak cukup galak. Yang jelas, lebih galak daripada satpam-satpam di mal.

Keistimewaan lain dari kota Madinnah adalah karena disinilah adanya makam Nabi Muhammad saw. Di sebuah tempat di dalam masjid Nabawi yang disebut dengan Roudlah. Sebenarnya tidak tepat begitu juga sih.
Jadi begini ceritanya. Dahulunya, ketika Nabi Muhammad saw masih hidup dan masjid Nabawi belum segedaaaa sekarang, Nabi memiliki rumah di belakang masjid. Antara rumah Nabi dan mimbar yang biasa dipakai Nabi Muhammad untuk berdakwah terdapat sebuah taman. Diceritakan bahwa Nabi Muhammad saw pernah bersabda bahwa diantara taman-taman yang ada di surga, salah satunya adalah taman yang berada antara rumahnya dan mimbarnya. Tempat itu lah yang kemudian disebut Roudlah yang saat ini sudah menjadi bagian dari masjid Nabawi. Makam Nabi Muhammad saw sendiri tidak jauh dari situ. Karena sesuai pesannya, Nabi Muhammad saw dimakamkan di rumahnya.

Roudlah ini tidak setiap hari di buka. Hanya pada hari tertentu dan jam-jam tertentu saja. Ramenya minta ampuuuun. Uniknya, dalam menghadapi massa yang demikian banyak, pihak keamanan masjid memiliki strategi sendiri. Sebelum pintu Roudlah dibuka, pengunjung diminta berbaris sesuai dengan Negara asal masing-masing. Setelah itu barulah tiap Negara mendapatkan gilirannya masing-masing. Tapi biarpun sudah diatur demikian, tetap saja selalu ada celah hingga keadaan menjadi rusuh.

Di daerah sekitar masjid Nabawi terdapat berbagai macam toko-toko. Ada yang menjual makanan, perhiasan, pakaian, mainan, sampai toko kelontong. Kalau mau berjalan sedikit, maka ada juga pasar yang menjual barang-barang dengan harga lebih murah. Bentuknya mirip-miriplah sama Pasar Tebet yang ada di Jakarta itu. Hanya saya pasar disini tidak sesesak yang di Tebet itu. Paling tidak masih ada ruang untuk bernafas.

Saya sudah bilang kan ya kalau masjid Nabawi itu gedaaa banget? Namun, entah mengapa, ketika waktu shalat tiba, keadannya tetap menjadi penuh sesak.Membuat saya bertanya-tanya ada berapa milyar orang sih di dalam sini? Hah, berlebihan sih. Nggak mungkinlah sampai milyaran, memangnya RRC? Tapi entahlah berapa jumlahnya, pastinya banyak sekali sampai penuh.Padahal, saya kembali mengingatkan… Masjid ini kan dulunya KOTA.

Pernah suatu kali saya tarawih di masjid bersama ibu dan adik saya. Sampai selesai shalat Isya, keadaan masih terkendali. Yah, paling-paling kesikut sana sini. Maklumlah, disana saya termasuk bertubuh kecil apabila dibandingkan wanita-wanita Arab dan Afrika (yes!).
Menjelang shalat tarawih, mulailah menjadi agak ricuh. Serombongan ibu-ibu Arab tiba-tiba mengambil tempat di depan saya. Membuat saya bertanya-tanya, dimana akan saya letakkan kepala saya ketika sujud nanti? Sebelum ibu-ibu ini datang saja saya hanya punya ruang sekitar 20 cm di depan saya. Itu saja sudah membuat saya jungkir balik melipat tubuh saya yang mungil ini saat sujud atau ruku’.
Ternyata benar saja, kehadiran para ibu membuat ruang sujud saya jadi limit mendekati 0 cm. Kecuali saya gadis plastic atau pemain sirkus, rasanya hampir mustahil jidat saya ini bisa menyentuh lantai.
Maka, selesai dua rakaat pertama, saya pun berniat pindah ke belakang. Saya cari-cari ke belakang, kok tidak ada tempat juga ya? Jangankan untuk shalat, untuk berjalan saja susah. Saya pun mulai agak panik. Mana shalat tarawih ronde kedua sudah mau mulai lagi. Saya terus berjalan ke belakang, berharap menemukan sepetak tampat kosong. Nihil.
Hingga akhirnya saya terdampar di halaman. Meskipun tidak penuh, di halaman masjid pun cukup banyak orang yang shalat. Ya sudahlah, shalat di halamannya pun tak apa.

Namun justru dengan berada di belakang itu saya dapat melihat keunikan lain. Di masjid Nabawi, dalam satu malam tarawih, biasanya dibaca satu juz Al-Qur’an. Yes honey, it’ll take quite a long time. Dan saya akui memang lelah rasanya berdiri selama itu.
Nah, untuk ibu-ibu yang sedang sakit atau sudah tua atau capek, bisa melaksanakan shalat sambil duduk di bangku. Tidak hanya ibu-ibu, anak-anak maupun remaja juga ada yang demikian. Biasanya mereka sudah membawa bangku kecil dari rumah. Bahkan belakangan saya lihat di depan masjid juga ada yang menyewakan bangku-bangku itu. Disini shalat sambil duduk ternyata bukan hal aneh.

Yang paling saya syukuri dari “terlempar”nya saya ke halaman masjid adalah akhirnya saya menyadari mengapa mereka menyebutnya Madinnah Al Munawarrah. Di tengah hitamnya langit malam, lampu-lampu yang seolah terpasang di sekujur dinding masjid Nabawi bersinar terang membuat masjidnya Nabi Muhammad saw ini layaknya istana dalam dongeng.

Sebuah kota dimana terdapat makam Nabi Muhammad saw di dalamnya, bersinar dengan indahnya, Saya mengerti sekarang. Memang sungguh namanya yang pantas bagi Madinnah.

Madinnah Al Munawarrah, Madinnah yang bercahaya.


nb. hingga saat ini pun, hanya dengan mendengar kata Madinnah Al Munawarrah, masih dapat membuat pemandangan malam itu terbayang jelas dalam ingatan saya.
Subhanallah.

The Other Blog

Dear all, This blog is not going to be updated often as I have created another one at www.floresianay.wordpress.com which will be focusi...