Dec 9, 2007

Bapak & Michael Buble

Akhir akhir ini saya suka sekali sama lagu Home yang dibawakan Michael Buble.
Entah kenapa.
Saking sukanya, saya hanya memasang satu lagu itu di playlist, sehingga saya bisa mendengarkannya berulang kali. Dari yang awalnya saya hanya ngeh bagian "let me go homee...", lama-lama jadi mengerti satu isi lagu itu.
Lalu, entah kenapa, saya jadi ingat Bapak yang saat ini bekerja di Addis Ababa, Ethiopia nun jauh disana (untuk Nadya yang nilai geografi nya 0 : Ethiopia itu di Afrika.).
Jangan bayangkan Addis Ababa itu daerah perang ya. Soalnya Addis Ababa yang merupakan ibu kotanya Ethiopia itu (menurut Bapak saya) adalah kota paling aman di Afrika. Mengalahkan Cape Town-nya Afrika Selatan.
Ini kalau saya perhatikan, terkait dengan sifat penduduknya yang sangat religius. Jadi, di Addis Ababa itu (entah apakah ini juga berlaku untuk seluruh Afrika), agama mayoritas adalah Kristen Ortodox. Dan agama ini, sangat setia dianut oleh para penduduk Addis Ababa. Bahkan, ketika suatu saat saya naik taxi, setiap kali taxi tersebut melewati gereja, si supir taxi akan langsung komat-kamit membaca doa dan diakhiri dengan membuat salib dengan gerakan tangannya (ngerti kan maksudnya?).
Jangan juga bayangkan Addis Ababa itu panas. Karena, Addis Ababa terletak di ketinggian 2500 meter di atas permukaan laut. Sebelum merasakan sendiri, saya juga tidak percaya. Tapi nyatanya, waktu saya kesana Juni kemarin, Addis Ababa jauh lebih dingin daripada Bandung.
Bandaranya pun tidak kalah canggih. Tapi kalau soal yang satu ini memang karena bandara yang ada di Addis Ababa itu (yang mana saya lupa namanya) memang pemberian dari Italia. Jadi standarnya pun standar Eropa.
Tapi sayangnya, infrastruktur yang oke punya itu melompong di dalam. Jadi di dalam bandara
itu banyak ruang nggak terpakai.
Sama juga dengan jalan rayanya. Biarpun jalan rayanya besar-besar, bahkan ada jalan layang juga, tapi mobil yang wira-wiri jarang sekali. Beda banget sama Jakarta.
Mobil yang ada pun kebanyakan mobil-mobil (supeer) tua. Mungkin keluaran tahun 70 atau 80 an.
Menurut Bapak saya, satu hal yang menyenangkan tinggal di Addis Ababa adalah karena living cost disana murah. Mata uang Ethiopia adalah Birr dan satu Birr sama dengan seribu rupiah. Untuk naik angkutan umum, cukup bayar setengah Birr atau 500 Rupiah saja!
Taxi? Dengan 50 Birr, Anda bisa carter taxi itu seharian!
Tapi, kalau jalan-jalan kesana mesti hati-hati. Soalnya, 25% penduduknya terinfeksi HIV. Bahkan ada survey yang bilang, setiap orang disana pasti punya minimal satu orang anggota keluarganya yang terinfeksi HIV. Ckckck.
Eh, kenapa jadi nglantur ngomongin Addis Ababa ya?
Jadi kembali lagi ke lagu Home nya Michael Buble. Mendengarkan lagu itu, membuat saya mengerti ketika Bapak bilang sering kangen rumah. Bapak pernah bilang, kalaupun nanti tempat kerjanya dipindah ke Eropa atau manapun, Beliau pasti akan tetap ingin pulang dan menghabiskan masa tuanya di Indonesia.
Ketika itu saya tidak mengerti. Kenapa? Bukankah enak tinggal di luar negeri?
Waktu itu beliau menjawab, "Memang benar kata orang, lebih enak hujan batu di negeri sendiri daripada hujan uang di negeri orang".
Kalau saya pikir-pikir lagi, mungkin Beliau kesepian. Tidak ada kami, lalu apa yang Beliau lakukan sepulang kerja? Apa yang meringankan langkahnya bila Beliau tahu hanya ada kamar kosong yang menunggunya?
Saya jadi merasa berdosa tidak selalu membalas emailnya hanya karena alasan sibuk. Padahal hanya butuh waktu 10 menit untuk membaca dan membalas emailnya.
Terlebih lagi saya merasa berdosa karena saya tahu, Beliau melakukan itu untuk keluarganya disini.

And I’m surrounded by
A million people
I Still feel all alone
Oh, let me go home
Oh, I miss you, you know
Is that how you feel, Pak?
Huff...

Nov 22, 2007

gossip

Saya menerima sebuah email dari salah seorang Om saya. Isinya adalah sebuah forwarded email dengan judul mencolok RACISM.
Penasaran, saya buka dan baca email tersebut:

RACISM
You must pass this on .
I am sure many of you watched the recent taping of the Oprah Winfrey show in Chicago where her guest was Tommy Hilfiger.
On the show, she asked him if the statements about race he was accused of saying were true Statements like "if I'd known African-Americans, Hispanics, Jewish and Asians would buy my clothes, I WOULD NOT have made them so nice.
I wish these people would *NOT* buy my clothes, as they (my clothes) are made for upper-class white people." His answer to Oprah was a simple "YES" where after she immediately asked him to leave her show.
Suggestion? Don't buy your next shirt or perfume from Tommy Hilfiger. Let's give him what he asked for.
Let's not buy his clothes, let's put him in a financial state where he himself will not be able to afford the ridiculous prices he puts on his clothes. If we are small, then send it to the whole community that's not white people and see the result. We! have to see the result of unity.
Let's find out if Asian, Jews and Non-white really plays such a small part in the world. Stop buying all range of Hilfiger products, perfume, cosmetics, Clothes, bags, etc.
IF you are against racism, please send this message to all your friends; please do not delete it without sending it to at least one person.
Lantaran tak ada kerjaan, saya pun googling "oprah hilfiger", yang pada akhirnya menghantar saya ke situs resmi Oprah Winfrey (http://oprah.com/) dimana disitu dikatakan dengan jelas bahwa email yang beredar luas menyatakan Hilfiger pernah datang ke Oprah Show dan mengatakan hal-hal di atas adalah Big Fat Liar.
Itu semua tidak benar.
Beginilah sebuah gosip dimulai. Hanya karena sebuah email tak bernama, berita bohong jadi terasa nyata. Padahal, hanya dalam waktu kurang dari 5 menit, Anda bisa mendapatkan fakta sebenarnya tentang berita Hilfiger ini. Tapi entah mengapa, puluhan ribu orang memilih untuk langsung mem forward nya.
Moral of the story:
Percayalah pada gosip, hanya bila itu Anda dengar dari orang pertama.

Nov 17, 2007

Maaf..

“Latar Belakangnya mesti diperbaiki”, ujar Beliau setelah beberapa saat membolak-balik laporan Kerja Praktek saya. “Kamu catat ya!”.

Siap Pak!, saya segera mengeluarkan pensil dan buku. Tak butuh waktu lama untuk memenuhi lembar kosong kertas tersebut dengan berbagai catatan seperti:
- Metodologi terlalu rinci
- Gap masukkin ke latar belakang
- Data produk masukkin ke latar belakang
- Value! Bukan pedoman
- Batasan masalah : metode jangan dibatasi
- Dll

Saya tidak kaget atau heran. Berdasarkan kesaksian beberapa orang yang presentasi sebelum saya, rata-rata memang diminta merevisi Bab I dan II atau tata tulis laporan.
Beliau melanjutkan ke halaman-halaman belakang.

“Tidak bisa pakai metode ini”, vonis Beliau.

Dan sejak kata-kata itu keluar, saya berhenti mencatat. Berusaha mengerti apa yang Beliau katakan. Saya akui, saya memang tidak yakin 100% metode yang saya gunakan benar. Tapi saya juga tidak yakin metode yang Beliau usulkan juga dapat diterapkan.

“Saya tidak diberi data keuangan oleh perusahaannya, Pak”, saya berkata karena tidak mengerti bukan karena ingin membantah.

“Anda bisa asumsikan dengan cara begini..”, kemudian Beliau menuliskan rumus di laporan saya.

Rasanya serba salah. Di satu sisi, saya benar-benar tidak yakin data tersebut dapat diasumsikan. Namun, menimbang saran dari sejumlah teman, tidak seharusnya saya membantah dosen yang satu ini. Lagipula, apalah arti pengetahuan mahasiswa undergraduate dibandingkan seorang profesor?

Revisi metode. Begitu keputusannya. Kumpulkan minggu depan.

Saya pulang dengan agak linglung.

**

Maa… Laporan KP ku mesti revisi nih. Sebel.


Saya kirimkan SMS tersebut kepada Mama. Ya, sesampainya di kosan dan membaca buku yang bersangkutan, saya makin uring-uringan. Ditambah sakit kepala yang belum reda juga sejak semalam, saya jadi kesal. Entah kepada siapa.

Tak lama, Mama menelepon.

“Gimana, wuk?”

“Laporan KP ku mesti revisi nih Ma. Dari metode lagi. Itu sih sama aja ngerjain ulang”, saya nyerocos tanpa peduli Mama tidak familier dengan persoalan dan istilah yang saya gunakan.

“Kenapa kata dosennya? Susah ya kalau direvisi?”

“Salah metode katanya. Padahal aku ga dikasih data keuangan sama perusahaannya”

“Oo.. ya bilang dong sama dosennya?”

“Udah. Tapi katanya suruh diasumsiin aja. Aku ga ngerti ini apanya yang bisa diasumsiin”

“Sama dosen yang satunya ga apa-apa?”

“Nggak papa. Kemarin baik-baik aja”

“Oo… dosen yang ini memang sulit ya?”

Mama adalah seorang dokter. Wajar bila Beliau tidak familier dengan asumsi, laporan, revisi atau data keuangan. Tapi saya tahu Beliau berusaha mengerti apa yang saya katakan agar dapat mengatakan sesuatu yang dapat menenangkan saya.

Dan entah bagaimana, pipi saya mulai basah oleh air mata. Sudah lama sekali sejak terakhir saya menangis, saya bahkan tak ingat lagi kapan itu. Dan saya memang tergolong perempuan yang jarang menangis.

Saya tak tahu apa yang saya tangisi. Mungkin karena saya harus merevisi laporan KP, mungkin karena sakit kepala saya tidak sembuh-sembuh, mungkin karena akumulasi kelelahan minggu ini. Mungkin saya kesal karena hari ini Bandung macet luar biasa.

Mungkin karena saya kangen rumah, mungkin saya tersentuh karena Mama begitu berusaha mengerti dunia seorang mahasiswa, mungkin saya merasa bersalah karena sebelum hari ini saya tak ingat untuk menghubungi Mama. Mungkin semuanya.

**

Empat jam kemudian, revisi pengolahan data akhirnya selesai. Dan hanya ada satu orang yang ingin saya SMS saat itu.
Maa.. revisi pengolahan datanya udah selesai. Aku senaaang. :)

Nov 9, 2007

demi menyambung hidup

Perempatan lampu merah DSE - Kimia Farma - Dukomsel, Dago, Bandung.

Seorang anak berjalan agak pincang mendekati mobil saya. Ia hanya menyanyi beberapa kata, dan langsung berlalu setelah beberapa recehan logam berpindah ke tangannya. Tak lama hujan yang tadinya hanya gerimis kecil mendadak berubah menjadi deras.

Si anak berlari ke sisi jalan, menuju sebuah warung rokok. Seorang wanita berbadan agak gemuk duduk disana. Selama beberapa saat si anak berbicara dengan wanita tersebut, kemudian menyerahkan segenggam recehan di tangannya.

Si anak kemudian berlari menyebrang jalan. Hilang dari pandangan saya.


Parkiran Superindo Dago, Bandung

Hujan deras. Saya memarkir mobil di tempat terdekat dengan pintu masuk. Sembari memasang kunci stir, pandangan saya menangkap sosok familier. Si anak pincang tadi.

Sekarang ia telah berdiri di depan pintu masuk. Dengan baju setengah basah, ia memanggul payung besar, siap menawarkan jasa ojek payung.


Nov 7, 2007

Benitoz

Nah, begitu itu tampangnya. Nggemesin ya? Foto ini diambil waktu kami sedang boarding di bandara Soekarno Hatta.

Oia, namanya Beni. Tapi untuk membuatnya lebih terkesan imut, saya suka memanggilnya Benito atau Be'ito. Dia ini adik saya yang paling kecil. Januari nanti umurnya 5 tahun.

Hubungan saya dan Beni adalah love - hate relationship. Kadang dia ini nakaaaal sekali. Sampai saya sebal luar biasa. Tapi kalau lama tidak bertemu, saya kangen sekali.

Beni ini, menurut saya sih, lucu sekali. Malah kadang-kadang aneh. Karena, Beni itu :



  1. Pemakan segala kecuali Junk Food. Iya lho, dia ini suka sekali makan. Apa saja dilahapnya. Tapi dia tidak suka junk food seperti burger atau pizza. Paling banter juga kentang goreng, itu pun yang dimasak sendiri sama Mbak nya. Tapi kalau yang namanya buah... wah, jangan ditanya deh. Dari anggur, pisang, sema'a (semangka), sampe duren juga diterjang olehnya. Biasanya, kalau ada anggur atau apapun di kulkas, memang tidak dihabiskan sih. Tapi paling-paling cuma disisakan satu atau dua biji. Itu cuma salah satu trik nya supaya tidak dibilang menghabiskan makanan.

  2. Senang main sepeda. Nah, tapi main sepeda, tanpa menaiki sepedanya. Yang dilakukannya hanya berlari-lari mengitari halaman sambil menuntun si sepeda. Saya sampai terheran-heran, apa enaknya main seperti itu? Ini orang naik sepeda apa sepeda naik orang? Tapi untunglah sekarang Beni sudah bisa naik sepeda beneran.

  3. Masih pakai pampers. Hihi. Tapi jangan bilang-bilang ya.. Dia malu lho kalau ketahuan masih pakai pampers. Habisnya dia masih suka ngompol sih. Bikin pesing dimana-mana.

  4. Pencari perhatian. Super pencari perhatian, tepatnya. Pokoknya dia tidak rela kalau orang di sekitarnya berbicara tanpa melibatkan dirinya. Pernah suatu kali saya sedang berbicara sama Mama. Selama kami berbicara itu, Beni ikut-ikutan ngomong hal-hal yang nggak nyambung sama sekali. Mungkin karena kesal tidak digubris, kemudian ia berteriak "Bunda, Bunda!! Aku... Aku mauuu!!". Mama pun mengalihkan perhatiannya ke Beni, dan bertanya, "Kenapa, Ben?". Setelah sukses mendapat perhatian, tampaknya dia malah jadi bingung sendiri. "Aku mauuu... mm... apa ya?". #%#$*%$!!

  5. Tidak suka bangun paling akhir. Sebenarnya ini akibat dari doktrin Mama kepada Beni (dan semua anak yang lain juga sebetulnya) bahwa orang yang bangunnya telat itu artinya pemalas. Dan pemalas itu tidak baik. Maka itu, Beni sangat takut bangun paling akhir, biarpun pada kenyataannya memang dia yang paling sering bangun terakhir. Tapi bukan Beni namanya kalau tidak cerdik (saya tidak akan menggunakan kata licik untuk mendeskripsikan anak kecil). Suatu hari ia terbangun dan mendapati Tita (adik saya yang kedua) sudah bangun terlebih dahulu. Tapi si Tita ini masih asik berkutat dengan HPnya dan belum beranjak dari tempat tidur. Menyadari bahwa dirinyalah yang bangun paling terakhri, maka Beni pun mencari cara agar fakta itu tidak ketahuan oleh Mama. Ia pun berkata pada Tita, "Mbak Tita, Mbak Tita disini dulu ya. Jangan kemana-mana". Segera setelah mengatakan hal tersebut ia segera beranjak keluar kamar. Kemudian tak lama terdengar suara cemprengnya mengadu, "Bunda, aku bangun duluan dong! Mbak Tita belum bangun tuh. Mbak Tita anak malas!".

  6. Bapak = nama. Ya, saya baru menyadari itu beberapa saat lalu ketika nyekar ke kuburan eyang kakung saya. Ternyata Beni itu menganggap Bapak adalah sebuah nama, sama halnya dengan "Tuti" atau "Budi" dll. Ketika kami nyekar ke kuburan eyang kakung, Bapak saya berkata, "Ben, ini Bapaknya Bapak yang dikubur disini". Kalimat itu tampaknya menjadi rancu buat Beni karena terlalu banyak mengandung kata 'Bapak'. Beni pun menjawab, "Bapak? Bapak kan disini", sambil mengarahkan telunjuknya ke Bapak. "Iya, yang dikubur itu Bapaknya Bapak", Beliau masih berusaha menjelaskan. "Bapak dikubur?", ujar Beni sambil melihat ke arah kuburan. "Bukan, bukan, Bapaknya Beni disini. Yang disitu itu Bapaknya Bapak", ujar Bapak lagi. "Bapak ada dua?", Beni masih tidak mengerti. "Begini lho Ben, Bapak kan punya Mama, itu Eyang", ujar Bapak sambil menunjuk eyang putri, "yang dikubur itu itu suaminya eyang. Bapaknya...". "Oh, suaminya Eyang!" potong Beni senang. Ia pasti merasa gembira karena merasa berhasil meluruskan benang yang kusut. Suaminya eyang kok dibilang Bapaknya Bapak, begitu mungkin pikirnya.

Aduuh, saya gemas sekali sama anak itu. Biarpun dia suka bertingkah aneh dan kadang nakal, tapi dia bisa juga jadi anak baik. Misalnya saja, setiap kali ia punya coklat atau biskuit, ia selalu mencari kakak-kakaknya untuk membagi makanannya. Tidak hanya untuk kakak-kakaknya, ia pun selalu ingat untuk membagi makanannya dengan pengasuhnya.

Dia juga mau tuh, saya jadikan mainan. Misalnya, saya suruh dia mencoba-coba pakai wig seperti di samping ini.







Semakin ingat dia saya jadi semakin kangen.




Oct 30, 2007

saya, kemarin

Kemarin adalah hari sibuk dan superrr melelahkan buat saya.
Ini gara-gara ada pengumpulan tugas-tugas seperti Laporan Kerja Praktek dan tugas Perancangan Tata Letak Pabrik (PLO) dari Pak Anas. Pluss, progress modul 6 PLO berupa ARC. Pluss, UTS Komunikasi Profesional.

Saya menginap di kosan Nadya malam sebelumnya lantaran minta diajarkan bahasa Perancis. Soalnya minggu kemarin saya bolos satu pertemuan CCF. Daripada nanti cengo di kelas, mending saya kejar dulu bahan kemarin, begitu menurut pemikiran saya.

Pagi-pagi, saya dan Desti (teman sekamar saya) pulang. Kenapa jadi ada Desti di kosan Nadya?
Itu karena Desti juga menginap di sana. Tapi bukan di kamar Nadya melainkan di kamar Galuh,
demi mengerjakan PLO.

Nah, jadi saya pulang ke rumah sekitar jam 7 lewat dikit. Sebelumnya mampir dulu ke Dipati Ukur untuk mengambil laporan KP kami yang baru dijilid terus beli kupat tahu dulu untuk saya sarapan (yang akhirnya dengan sukses tidak saya habiskan).

Sampai di rumah, saya menimang-nimang laporan KP saya. Senangnya sudah selesai... Jadi terharuuu... Hiks...

Lalu saya pun membaca-baca lagi laporan tersebut sambil senyum-senyum sendiri. Lalu tiba-tiba saya menangkap suatu keanehan yang terlalu panjang kalau saya jelaskan disini.
Intinya, ada data yang salah ketik!

Wah, gimana ya? Ya sudahlah, pasrah saja. Toh belum tentu dosen pengujinya ngeh. Begitu pikir saya.

Namun, ternyata hidup memang tidak mudah. Setelah saya baca dan cermati lebih dalam, ternyata itu bukan sekedar salah ketik, tapi juga salah hitung!
Mampus!

Akhirnya, sekitar jam 8 kurang, saya print ulang 2 halaman yang salah tersebut. Kemudian saya tergopoh-gopoh ke kamar teman saya untuk meminjam cutter. Setelah di potong pinggir kanan dan bawah, kemudian di tempel dengan double tape hasil perhitungan yang salah itu pun hilang tak berjejak.

Hore...

Karena penasaran, kok bisa-bisanya saya salah, saya lihat lagi data di komputer. Ternyata saya menemukan kenyataan yang sempat membuat saya lemas seketika. Hmm.. tapi tidak akan saya kasih tahu disini ah. Mana tahu ada dosen yang baca-baca blog saya. Hehe.
Tapi sudahlah, kesalahan itu saya yakin insyaallah tidak akan ketahuan. Amin.

Menjelang setengah 10, saya buru-buru mandi biarpun Desti menyarankan untuk absen mandi saja pagi ini. Tapi saya tidak mau ah. Daripada nanti waktu ujian nggak konsen gara-gara badan saya gatal. Oya, kekhawatiran Desti ini cukup beralasan mengingat waktu ujian kami adalah jam 10. Saya mandi secepat kilat, bersih tidak bersih yang penting kalau ada yang nanya saya bisa bilang saya sudah mandi.


Jam setengah 10 saya siap. Tapi saya tidak langsung berangkat ke kampus. Soalnya Nisa baru datang dan mau mengerjakan tugas PLO Pak Anas yang saya sebutkan tadi. Mengisi waktu kosong sementara Nisa mengerjakan tugas nya (dibantu Desti), saya berusaha mereview ulang bahan ujian.

Akhirnya, sekitar jam 10 kurang 15 kami ngebut ke kampus. Untungnya tidak telat.
Selama 105 menit kemudian, saya pun berusaha mengerjakan soal-soal ujian. Hanya satu kata : bingung.

Selesai ujian, saya pun mengumpulkan tugas PLO dan kembali ke rumah. Karena tidak membawa mobil, saya pulang naik angkot. Selama perjalanan, hanya satu hal yang memenuhi pikiran saya...

**

Begini, kira-kira beberapa waktu lalu, ISENG-ISENG saya menanyakan kepada salah seorang teman, "Gimana lo sama si X (nama pacar teman saya)?".
"Baik baik.."
"Kapan nih nikahnya", sekali lagi saya tegaskan bahwa saya menanyakan itu hanya untuk ISENG. Namun ternyata pertanyaan iseng itu punya jawaban serius,
"Paling cepet setelah wisuda Juli depan"
Hah??
"Eh, lo beneran udah mau nikah?", saya tak menyangka akan mendapat jawaban seyakin itu.
"Hehe. Doain ya. Tapi rencananya sih 2009, paling cepet ya Juli 2008".
OMG.

Nah, kejadian tersebut sudah lewat beberapa minggu lalu. Kemudian beberapa hari kemarin, di sela-sela gladi resik wisuda, saya mendapat kabar dari teman saya yang lain.
"Eh, lo tau gak si Z (nama teman saya yang mau nikah 2009) kan mau nikah"
"Oh iya, waktu itu dia bilang. Katanya paling cepet setelah lulus" saya merasa senang karena bisa terkesan up to date.
"Bukannya mau bulan Mei?"
"Hah? Masa? Siapa yang bilang?" saya mulai merasa out of date.
"Dari...."
Pembicaraan selanjutnya tidak saya tulis karena menyangkut kepentingan banyak orang terutama para agen suplai gosip yang sedang menyamar.


Nah, kemarin itu, saya tidak sengaja bertemu teman saya itu (yang tadi kita namakan Z). Saya langsung tembak saja, "Eh denger-denger mau nikah bulau Mei?"
Yang ditanya kemudian nyengir lalu menjawab, "Hehe. Ya doain ya Min". OMG.
"Lho, berarti sebelum lulus dong?"
"Iya"
"Oh, gitu ya... Udah mulai bikin persiapan dong?"
"Ya, tapi sebelumnya kita harus menghadap ke orang tua dulu"
"Oooh... Jangan lupa undang gue ya", saya tak tau lagi mau ngomong apa.
"Pasti pasti. Lo harus dateng!". OMG.

**

Nah, hal tersebutlah yang kemudian menggelayuti pikiran saya selama beberapa jam setelah selesai UTS. Sejak naik angkot, turun di gang plesiran, mampir beli makan siang dan jus tomat, minum jus tomat sambil melanjutkan perjalanan, sampai di kosan, nyuci baju, makan siang, jemur baju, sampai menjelang tidur siang.

Dulu waktu sepupu saya yang lebih muda menikah, saya mengerti karena ia dibesarkan di desa nenek saya dimana orang-orang disana cenderung untuk menikah muda. Ketika teman saya yang lain menikah, saya mengerti karena toh dia 3 tahun di atas saya lagipula calon suaminya sudah cukup matang a.ka berumur.

Tapi teman saya yang si Z ini, dia seumur dengan saya. Malah lebih muda dia beberapa bulan. Dia juga dibesarkan di Jakarta seperti saya. Calon suaminya pun setahu saya hanya satu tahun di atasnya.

Dulu beberapa tahun yang lalu saya kadang suka main sama dia. Saya masih ingat dulu dia cerita tentang mantan pacar SMA nya, orang yang mendekati dia saat itu (dan orang itu bukan calon suaminya sekarang), dll. Entah dia ingat atau tidak, dulu kami pernah belanja di Superindo berdua. Yang dibeli ya barang-barang instan khas anak kos. Ternyata sekarang dia sudah mau menikah. Wah.. saya tak tahu mau ngomong apa.

Ada rasa senang, tapi juga ada rasa skeptis. Kok bisa ya? Kenapa mesti secepat itu sih? Memang nggak pengen seneng-seneng sendiri dulu? Memangnya sudah yakin benar? Bukannya baru satu atau dua tahun ya pacarannya? Pertanyaan-pertanyaan yang tentunya tidak berani saya tanyakan langsung kepada si Z. Mungkin benar seperti yang Novi dalam blog nya, time doesn't measure. Siapa bilang usia muda berarti belum siap menikah? Siapa bilang satu dua tahun pacaran belum cukup untuk memutuskan menikah? Toh saya tak tahu apa yang terjadi dibalik proses tercetusnya rencana menikah ini.
Biarpun saya juga bukan orang yang bercita-cita menikah (terlalu) muda. (Haha. Kalau ini mah karena belum ada calon nya aja! *kidding)

Tapi teman saya yang satu ini memang penuh kejutan. Saya berharap dia mendapatkan yang terbaik.


Saya semakin mengantuk. Akumulasi dari kelelahan selama gladi resik dan hari H wisuda. Capek tau berdiri selama satu jam lebih sambil berkonsentrasi pada para wisudawan yang sedang bersalaman dengan rektor. Saya dituntut untuk mengabadikan semua momen tersebut. Biarpun pada akhirnya ada juga sih yang lewat dan jauh dari sempurna (maaaaffffff sekaliiii....).


Saya pun tertidur.

worse!!

My English is getting worse. Oh God, I even don't remember when I have to use 'had' or 'have had' or 'verb+ing'. In fact, I don't even know wheter I am writing right grammars now.

When I was in high school, I took English course in ILP. It didn't last for long (only for 3 terms) because I was getting bored (Is it right? Or I should write 'I got bored'?).

Several weeks ago I bought Newsweeks and I found it was very difficult to me to understand the articles. Then I try to read Globe. It was easier, maybe because it was written by Indonesian journalist. But still, every time I go to international site, I don't think I really understand what the sites saying (Again, is it right to put 'saying' after the subject without 'to be'?)

I do I do I do envy people who can speak English very fluently without thinking before they say it or write it.
Uh!

The Other Blog

Dear all, This blog is not going to be updated often as I have created another one at www.floresianay.wordpress.com which will be focusi...