Jun 5, 2010

Menciptakan Kesempatan

Anak perempuan itu bernama Iis. Usianya baru 12 tahun. Baru lulus SD. Tingginya mungkin sekitar 145 cm. Dadanya masih rata, perawakannya kurus dan tampangnya masih bocah. I betted she had not got her period yet.

Baru beberapa hari ia tinggal di Jakarta, di rumah orang tua saya. Bapak Ibunya ada di kampung. Dia bilang dia mau kerja di Jakarta.
Jadi apa?
Pembantu.

Mama memang sedang mencari pembantu, tapi ia sendiri tidak menyangka yang datang adalah bocah di bawah umur begini. Iis seperti enggan disuruh pulang. Ditanya mau disekolahkan apa tidak, dia pun tampak tak mau. Keluarganya miskin, ia adalah anak paling tua. Tak ada biaya untuk sekolah. Di kampung ia kadang bekerja mengasuh anak tetangganya. Lalu, daripada di rumah tidak sekolah dan tidak bekerja tetap, keluarganya mengirim ia untuk merantau ke Jakarta.

Mama dan Tante saya yang di kampung mencoba membujuk ibu Iis untuk menyuruh anaknya pulang. Karena jelas ia tidak mungkin bekerja di rumah kami. Ibunya tidak mau, Iis juga tidak mau. Akhirnya sebuah keluarga muda yang baru punya anak menjemput Iis untuk dijadikan pengasuh bayi mereka.


***


Kemarin di kampung Eyang, saya bertemu anak perempuan lain. Usianya juga 12 tahun, ia baru tamat SD. Ia anak pertama dari 5 bersaudara. Ayahnya kerja serabutan, ibunya tidak bekerja.
Di rumah yang ukurannya tidak lebih dari 5x5 meter itu keluarganya berbagi tempat dengan 2 keluarga lain.

Tante saya bilang ia ingin melanjutkan sekolah. Saya tanya langsung padanya, mau sekolah lagi?
Ia hanya menunduk sambil membelai-belai adik bungsunya yang baru berusia satu minggu.
Kalau tidak sekolah, mau ngapain? Saya bertanya pada Tante saya.
Tante saya bilang, bekerja. Seperti Iis yang dikirim ke Jakarta atau bekerja di sawah.

***

Saya pernah bertemu sebuah keluarga, mirip seperti keluarga anak perempuan tadi. Sang Ayah kerja serabutan, ibunya pun serabutan. Anaknya 5 orang. Tinggal di sepetak ruangan beralaskan tanah yang hanya berisi sebuah tempat tidur, kursi dan meja. 15 menit saja berada di dalam rumah itu saya tidak tahan ingin keluar. Baunya tidak enak, ada kandang sapi di sebelahnya.

Beberapa tahun kemudian si Ibu meninggal karena TBC. Sang Ayah kelimpungan.
Dari kacamata saya, musibah itu memang bagian dari rencana Tuhan. Anak pertama sudah bisa mandiri dan jualan bakso di Bandung. Sementara empat yang lain ditampung di rumah yang layak. Beberapa tinggal di rumah sanak saudara. Ada juga yang dijadikan anak angkat.

Salah seorang Bapak yang membantu keluarga tersebut pernah bilang pada saya. Ini berarti memutus rantai kemiskinan. Seorang anak yang terlahir di keluarga miskin umumnya tidak memperoleh kesempatan sekolah. Ia hanya akan mengulang siklus hidup orang tuanya. Ada beberapa pengecualian, tapi Bapak ini bicara secara general.

Menyekolahkan seorang anak yang tidak mampu berarti memberikan kesempatan tidak hanya pada anak itu, tapi pada keluarganya untuk bangkit dari kemiskinan, untuk lepas dari rantai kemiskinan. Sehingga di generasi berikutnya, anak tidak mampu yang disekolahkan ini akan membentuk keluarga dengan standar hidup lebih baik, dst.
Kadang yang dibutuhkan sebuah keluarga, sebuah generasi, adalah sebuah kesempatan untuk seseorang dari mereka menaikkan standar hidup mereka. Satu orang yang lepas dari rantai kemiskinan nantinya akan membawa satu orang lain, dan satu orang lain akan membawa satu orang lain lagi, dst.

***

Jadi, kemarin saya memandangi anak perempuan berambut keriting pendek ini. Mungkin dialah yang akan menjadi kunci bagi keluarganya untuk meningkatkan standar hidup mereka. Mungkin tidak secara signifikan, tapi barangkali ia akan jadi tonggak pertama. Perjalanan bisa jadi masih panjang, tapi tetap harus dimulai kan.
Dan, bukankah kita, sebagai manusia yang secara ekonomi lebih berkecukupan, bertanggung jawab untuk menciptakan kesempatan itu?

Bila Anda ingin tahu lebih lanjut soal anak ini, butuh dokumen-dokumen resmi keluarganya termasuk surat keterangan tidak mampu, atau apapun, email saya di
floresiana.yasmin@gmail.com

Terimakasih.

4 comments:

  1. jadi inget paparan Anies Baswedan di TEDx.. hehehe..

    ReplyDelete
  2. Istilahnya poverty trap, min. http://en.wikipedia.org/wiki/Poverty_trap

    Min.. betapa beruntungnya kita ya..

    ReplyDelete
  3. Anonymous2:52 PM

    Dear Yasmin,

    Sebelas tahun yang lalu di rumahku juga kedatangan dua anak perempuan serupa (bedanya mereka berumur 15 tahun)... namanya Yanti dan Siti mereka berasal dari Palas, Lampung Selatan....

    Jadilah mereka bekerja di rumah kami sebagai Pembantu Rumah Tangga, namun kami memperlakukan mereka seperti keluarga... jika kami bepergian ke mal atau rekreasi kami ajak bahkan sampai naik pesawat ke luar kota

    Mereka juga kami berikan pendidikan agama, dipanggilkan guru ngaji (Alhamdulillah, Yanti sekarang sudah memakai Jilbab). Selain itu mereka kami ikutkan kursus menjahit serta komputer he he.. mungkin agak aneh tapi mereka excited dan suka...

    Hubungan kami sangat berdasarkan kekeluargaan dan kami kenal baik juga kedua orang tua mereka... bahkan lucunya ketika saya dan istri berangkat Haji tahun 2003, mereka yang menunggu rumah kami berdua sambil mengasuh buah hati kami Arif yang masih berusia 2 tahun (kami tidak bisa menitipkan kepada famili, karena orang tua kami telah meninggal dan saudara satu-satunya tinggalnya jauh ~ saya hanya 2 bersaudara dan istri adalah anak tunggal)... Tetangga semua heran karena kami menitipkan anak kecil 2 tahun hanya pada kedua pembantu rumah tangga itu :)

    Sekarang mereka berdua masing-masing sudah berkeluarga dan tinggal di kampung halamannya Desa Bumi Daya, Kecamatan Palas, Kabupaten Lampung Selatan... Ilmu menjahit, mengaji, buku-buku pengetahuan dll yang dipelajari ketika ikut kami dulu sebagian dipakai untuk usaha berjualan kecil-kecilan sambil mendidik anak-anak mereka di kampung .... and you know what ?

    Kami terkadang berlibur ke lampung selatan dan menginap di rumah mereka karena mereka telah menganggap kami juga sebagai orang tuanya.... senang bagaikan mendapat saudara baru :)

    we live in the ordinary world with extraordinary people :)

    Best Regards,

    Wahyu Darmayani
    sunter, 7 Juni 2010

    ReplyDelete
  4. @mona: hehe. iya, mirip2 ya? intinya setiap orang itu seharusnya dikasih kesempatan. dan yang bisa memberi kesempatan itu ya kita2 yang beruntung itu kan. :)

    @batari: poverty trap! thanks Batariii!

    @pak wahyu: iya pak, menusia memang hidup untuk saling berbagi ya. salut buat pak wahyu! :D
    semoga saya juga bisa berbagi sama orang lain. :)

    ReplyDelete

Humor me. Drop some comment.

The Other Blog

Dear all, This blog is not going to be updated often as I have created another one at www.floresianay.wordpress.com which will be focusi...