Jan 3, 2013
Jan 2, 2013
The Nice-to-have
Some years ago I asked a good friend of mine, "how do you know what you really want in your life?"
At that time I had just finished my undergraduate study and found myself overwhelmed with things I planned for myself next. I wanted to continue my study I wanted to have a career in a multinational company. I wanted to establish my own business. I wanted to get married before I reached 29 and have 3 kids then. And also some other things that I couldn't recall now. Shortly, I wanted everything.
While I was anxious, my friend was pretty certain with his life plan. I could say that because I knew that he had turned down some offers that other people would kill to get for things that he thought were truly matter. "Don't you worry that you're going to regret it one day?", my other question.
To my latter question, he responded, "no, it's not something that I really want", which led to my former question.
I was, and probably still am, a kind of person who thinks I want and need everything. My friend back then advised me that I should find out which ones I truly want and which ones that are only nice-to-haves. For example, everyone would love to have a private jet but only a few who truly want a private jet. Sure it's nice to have one, but does it motivate me to work hard? No, not yet, at least.
Another example are my red high heels. I told myself, "yes I want those" but never successfully bring myself to buy them. I finally had them though, someone gave me as a gift. Am I happy that I have them know? Of course I am! Though I only wore them twice since. First, I am not that daring to wear red high heels everywhere. Second, they hurt like hell! Honestly, my life would be just as fine if I didn't have them. If they are stolen, I won't be rushing to buy another pair. Hell, I might not!
My Crocs, on the other side, are a completely different story. I'm may not crazy about the design but I need them. Even on my worst day, at least I don't have to worry about my feet. In Indonesia, those pair of rubber are not cheap though, escpecially the ones with a slightly decent style. In fact, I bought the ones that I have now at the same price with the red high heels that I always want yet fail to purchase. Somehow, I could always put aside some money for Crocs. If my Crocs are stolen, I could see myself rushing to the mall and buy another pair within a week.
If I think about what my friend said about the nice-to-have back then, those red high heels are probably a good example. Something that I want to have for "buat punya-punya aja". However, of course at the time he told me about the nice-to-have things, I didn't fully understand what that meant. Don't think I have fully captured it now too. Hahaha.
Nevertheless, after a few years of bouncing around from one thing to another, I could see how true what my friend said then, which is not everyhing that I think I want is truly what I want. It took some time for me to understand. Some people that I know, found out what exactly they want to do in their lives, took it out from the merely nice-to-haves, and focused on what really matter. Amazing.
As I quote my friend, there's always gimmick that may disctract you to do other things. I, personally, think that the most alluring gimmick is the thought that it is a one in a lifetime opportunity or it is something that everybody else wants.
You know a quote that goes "20 years from now you'll regret things that you didn't do instead of things that did"? I don't really buy it. It's not choosing between doing or not doing, it's always choosing doing something instead of doing another thing. It's not about working or not working, but more like working or sleeping, working or spending time with your kids, working or studying.
Back to my question years ago: "how do you know what you really want in your life?". I don't know for sure yet, but I think one way that you can do is to ask yourself: "are you gonna be just fine without it?"
If your answer is "yes", you might want to drop it and focus on those that really make your life worthwhile, because you are neither young nor live forever.
Dec 4, 2012
Hopelessly Devoted To You - Darren Criss
Beautifully sad. Better not listen to this song if you've just got your heart broken. (or should you...?) *evil smirk*
Nov 27, 2012
Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia adalah salah satu pelajaran yang menjadi momok semasa sekolah dulu. Mungkin tidak di beberapa tahun pertama ketika yang dibahas hanya sekedar S-P-O, (subyek-predikat-obyek) atau mengarang cerita liburan. Namun lambat laun, sepertinya pelajaran ini semakin menjadi-jadi saja. Sebut saja persoalan imbuhan, tanda baca, kata sambung, serapan, kalimat majemuk, dsb yang bikin pusing kepala.
Ujian Bahasa Indonesia itu rasanya semacam tebak tebak buah manggis, tidak tahu mana yang benar, mana yang salah. Sehari-hari berbahasa Indonesia pun sepertinya tidak banyak membantu. Bagaimana bisa membantu kalau yang terucap kebanyakan kalau tidak bahasa sleng ya bahasa Inggris atau Jawa yang diserap dan dimodifikasi sembarangan. Nah, kan, baru paragraf kedua saja saya sudah pakai istilah sleng.
Belajar bahasa Inggris rasanya lebih mudah. Sebenarnya saya kurang tahu juga sih bahasa Inggris yang saya gunakan sudah benar atau tidak. Anggaplah sudah (agak) benar. Bila demikian, buku dan bahan bacaan berbahasa Inggris lainnya adalah salah satu hal yang paling berjasa dalam proses pembelajaran saya. Tidak tahu apakah karena bukan bahasa ibu saya, kalau membaca buku atau artikel bahasa Inggris itu rasanya enak betul ceritanya mengalir. Pilihan kata dan kalimatnya pun beragam. Memang tak bisa disamaratakan begitu semua, tapi sebagian besar buku berbahasa Inggris yang saya baca punya efek demikian. Bukan saya bilang bahwa buku-buku berbahasa Indonesia tidak mengalir penceritaannya. Hanya saja dari yang sudah saya baca selama ini, yang tulisannya terasa lancar kebanyakan bahasanya dicampur dengan bahasa lain atau menggunakan bahasa sleng, dengan sejumlah pengecualian tentunya. Mungkin memang saya saja yang kurang banyak membaca sih. Hasilnya, tulisan saya dalam bahasa ibu sendiri pun banyak disisipi berbagai kata dan kalimat asing atau serapan.
Nah, beberapa hari lalu, saya melihat-lihat sejumlah situs produsenhandphone ponsel seperti SONY, NOKIA, dan kawan-kawannya. Ketika saya mampir di situs SONY, saya baru ngeh sadar kalau situs Indonesia mereka menggunakan bahasa Indonesia yang formal. Menariknya, ketika saya baca tidak terasa (terlalu) aneh juga lho. Bahkan pada bagian-bagian tertentu, saya cukup kagum dengan keanggunan bahasanya. Biarpun pada bagian-bagian yang lain terasa seperti hasil terjemahan Google Translate. Setidaknya kegigihan mereka untuk menulis seutuhnya dalam bahasa Indonesia yang baik patut dihargai meski pada akhirnya muncul sejumlah kata atau kalimat yang terasa janggal (walaupun tidak salah). Saya kira kata atau kalimat yang terasa aneh itu lantaran jarang digunakan di percakapan sehari-hari?
Bila bicara tentang bahasa Indonesia, saya selalu teringat mendiang nenek saya dari pihak ibu. Beliau kerap kail menggunakan kata-kata yang saya rasa tidak umum digunakan dalam percakapan, misalnya "lantas" bukan "kemudian" atau "terus"; "kencan" bukan "ketemuan" atau "janjian"; "kawan" bukan "teman". Secara makna, kata-kata tersebut lebih atau sama tepatnya, kan? Tapi tentu kalau saya gunakan dalam percakapan sehari-hari bisa-bisa saya dicap "jadul" (kata yang akan dibahasakan nenek saya sebagai "kuno").
Walaupun demikian, bagi saya, tetap ada kesenangan tersendiri ketika mendengar atau membaca tata bahasa Indonesia yang dipakai seelok itu. Mungkin saya memang kuno, ya?
Saya suka membaca beberapa blog karena alasan tersebut: karena tulisannya menggunakan bahasa Indonesia yang mengalir. Seperti blog milik Raie Kribo ini.
Komentar menarik lain yang pernah saya dengan tentang bahasa Indonesia datang dari teman saya, seorang warga negara Malaysia keturunan Cina. Teman saya ini bahasa Melayunya terpatah-patah, kalah jauh dari kemampuannya berbahasa Mandarin, Inggris, bahkan Spanyol. Meski demikian, diakuinya, bila hanya mendengar ia masih lumayan dapat memahami. Suatu kali ia pernah bilang pada saya bahwa ia pun bisa memahami sebagian percakapan dalam bahasa Indonesia walaupun ada kata-kata tertentu yang membuatnya bingung.
Tahu kata-kata apa?
Kata-kata seperti "sih", "dong", "kan", "deh". Apa artinya? Saya mau menjelaskan juga sulit. Bagaimana asal muasalnya dan kenapa semua orang Indonesia memakainya pun saya tidak mengerti.
Intinya, saya merasa saya harus banyak belajar lagi tentang bahasa Indonesia, memperluas kosakata, memahami pemakaian imbuhan, tanda baca, dsb. Saya akui, ketika saya mendengar seseorang berbicara atau melakukan presentasi dalam bahasa Inggris yang baik dengan lancar, saya selalu kagum. Tapi kekaguman yang sama juga saya selalu berikan pada mereka yang dapat bertutur kata dengan baik, runut, dan anggun dalam bahasa Indonesia, karena jujur saja, saya kira tidak banyak orang yang memiliki kemampuan demikian.
Sebenarnya, tanpa tata bahasa yang baik pun saya rasa orang-orang lain masih dapat memahami dan mengerti maksud perkataan kita. Namun dengan tata bahasa yang baik itulah tingkatan kita bisa terangkat jadi lebih terdidik, atau berbudaya, atau apapun, yang pasti meningkat.
Bisa juga jadi tampak lebih kuno sih. :P
Ujian Bahasa Indonesia itu rasanya semacam tebak tebak buah manggis, tidak tahu mana yang benar, mana yang salah. Sehari-hari berbahasa Indonesia pun sepertinya tidak banyak membantu. Bagaimana bisa membantu kalau yang terucap kebanyakan kalau tidak bahasa sleng ya bahasa Inggris atau Jawa yang diserap dan dimodifikasi sembarangan. Nah, kan, baru paragraf kedua saja saya sudah pakai istilah sleng.
Belajar bahasa Inggris rasanya lebih mudah. Sebenarnya saya kurang tahu juga sih bahasa Inggris yang saya gunakan sudah benar atau tidak. Anggaplah sudah (agak) benar. Bila demikian, buku dan bahan bacaan berbahasa Inggris lainnya adalah salah satu hal yang paling berjasa dalam proses pembelajaran saya. Tidak tahu apakah karena bukan bahasa ibu saya, kalau membaca buku atau artikel bahasa Inggris itu rasanya enak betul ceritanya mengalir. Pilihan kata dan kalimatnya pun beragam. Memang tak bisa disamaratakan begitu semua, tapi sebagian besar buku berbahasa Inggris yang saya baca punya efek demikian. Bukan saya bilang bahwa buku-buku berbahasa Indonesia tidak mengalir penceritaannya. Hanya saja dari yang sudah saya baca selama ini, yang tulisannya terasa lancar kebanyakan bahasanya dicampur dengan bahasa lain atau menggunakan bahasa sleng, dengan sejumlah pengecualian tentunya. Mungkin memang saya saja yang kurang banyak membaca sih. Hasilnya, tulisan saya dalam bahasa ibu sendiri pun banyak disisipi berbagai kata dan kalimat asing atau serapan.
Nah, beberapa hari lalu, saya melihat-lihat sejumlah situs produsen
Bila bicara tentang bahasa Indonesia, saya selalu teringat mendiang nenek saya dari pihak ibu. Beliau kerap kail menggunakan kata-kata yang saya rasa tidak umum digunakan dalam percakapan, misalnya "lantas" bukan "kemudian" atau "terus"; "kencan" bukan "ketemuan" atau "janjian"; "kawan" bukan "teman". Secara makna, kata-kata tersebut lebih atau sama tepatnya, kan? Tapi tentu kalau saya gunakan dalam percakapan sehari-hari bisa-bisa saya dicap "jadul" (kata yang akan dibahasakan nenek saya sebagai "kuno").
Walaupun demikian, bagi saya, tetap ada kesenangan tersendiri ketika mendengar atau membaca tata bahasa Indonesia yang dipakai seelok itu. Mungkin saya memang kuno, ya?
Saya suka membaca beberapa blog karena alasan tersebut: karena tulisannya menggunakan bahasa Indonesia yang mengalir. Seperti blog milik Raie Kribo ini.
Komentar menarik lain yang pernah saya dengan tentang bahasa Indonesia datang dari teman saya, seorang warga negara Malaysia keturunan Cina. Teman saya ini bahasa Melayunya terpatah-patah, kalah jauh dari kemampuannya berbahasa Mandarin, Inggris, bahkan Spanyol. Meski demikian, diakuinya, bila hanya mendengar ia masih lumayan dapat memahami. Suatu kali ia pernah bilang pada saya bahwa ia pun bisa memahami sebagian percakapan dalam bahasa Indonesia walaupun ada kata-kata tertentu yang membuatnya bingung.
Tahu kata-kata apa?
Kata-kata seperti "sih", "dong", "kan", "deh". Apa artinya? Saya mau menjelaskan juga sulit. Bagaimana asal muasalnya dan kenapa semua orang Indonesia memakainya pun saya tidak mengerti.
Intinya, saya merasa saya harus banyak belajar lagi tentang bahasa Indonesia, memperluas kosakata, memahami pemakaian imbuhan, tanda baca, dsb. Saya akui, ketika saya mendengar seseorang berbicara atau melakukan presentasi dalam bahasa Inggris yang baik dengan lancar, saya selalu kagum. Tapi kekaguman yang sama juga saya selalu berikan pada mereka yang dapat bertutur kata dengan baik, runut, dan anggun dalam bahasa Indonesia, karena jujur saja, saya kira tidak banyak orang yang memiliki kemampuan demikian.
Sebenarnya, tanpa tata bahasa yang baik pun saya rasa orang-orang lain masih dapat memahami dan mengerti maksud perkataan kita. Namun dengan tata bahasa yang baik itulah tingkatan kita bisa terangkat jadi lebih terdidik, atau berbudaya, atau apapun, yang pasti meningkat.
Bisa juga jadi tampak lebih kuno sih. :P
Sep 20, 2012
Recent Series: The Newsroom
So I claim to be a TV series junkie though I rarely write about any of them here. Worry not, I still do spend a good amount of time watching them but I just don't know how to talk about series without revealing my nerdy side. :))
Anyway busway, ada satu series yang baru banget selesai saya tonton yang mau saya share disini (yah, mau nerdy ya nerdy deh).
THE NEWSROOM
Tersirat dari judulnya, serial ini bercerita tentang lika liku proses produksi acara berita TV yang dibawakan oleh Will McAvoy. Di awal-awal cerita, Will digambarkan sebagai karakter yang ignorant dan harsh, sampai-sampai nama asisten sendiri pun lupa melulu. Tapi seiring ceritanya berjalan, karakter Will pun makin kelihatan baiknya.
Saya paling suka bagian yang menunjukkan bagaimana susahnya memproduksi acara TV yang bermutu di tengah tuntutan rating atau bagaimana ribetnya para kru mengembangkan berita. Berita-berita dalam plot cerita pun merupakan berita-berita nyata seperti kebocoran minyak BP di Gulf of Mexico, kematian Osama bin Laden, dll.
Kalau saya perhatikan dari serial ini, sepertinya jenjang karir news anchor di Indonesia dan di US agak berbeda. Bila di sini kita sering melihat wajah-wajah muda sebagai news anchor, di serial The Newsroom, Will McAvoy ini digambarkan sebagai seseorang yang sudah kawakan di dunia jurnalistik. Oya, selain itu Will juga punya pengalaman sebagai District Attorney yang membuat adegan wawancara dengan narasumber seringkali seperti proses interogasi. Seru! Hehehe.
Awalnya saya kira serial ini tipe serial yang serius seperti Damage, tapi ternyata nggak seserius itu juga sih lantaran banyak adegan dan dialog lucu dan menggelitik diselipkan disana sini. Nuansa romansa juga diselipkan, biarpun not in a way that will make you go 'aaaww... cocwiiit'. Ada dua tema romance dalam series ini. Yang pertama adalah antara Will dan Mackenzie McHale, executive producer-nya sekaligus mantan pacarnya. Yang kedua antara Jim Harper, Maggie (something, I forgot her last name), dan Don (something). Saya sih lebih suka menyimak romansa yang pertama soalnya lebih lucu.
Anyway busway, ada satu series yang baru banget selesai saya tonton yang mau saya share disini (yah, mau nerdy ya nerdy deh).
THE NEWSROOM
Tersirat dari judulnya, serial ini bercerita tentang lika liku proses produksi acara berita TV yang dibawakan oleh Will McAvoy. Di awal-awal cerita, Will digambarkan sebagai karakter yang ignorant dan harsh, sampai-sampai nama asisten sendiri pun lupa melulu. Tapi seiring ceritanya berjalan, karakter Will pun makin kelihatan baiknya.
Saya paling suka bagian yang menunjukkan bagaimana susahnya memproduksi acara TV yang bermutu di tengah tuntutan rating atau bagaimana ribetnya para kru mengembangkan berita. Berita-berita dalam plot cerita pun merupakan berita-berita nyata seperti kebocoran minyak BP di Gulf of Mexico, kematian Osama bin Laden, dll.
Kalau saya perhatikan dari serial ini, sepertinya jenjang karir news anchor di Indonesia dan di US agak berbeda. Bila di sini kita sering melihat wajah-wajah muda sebagai news anchor, di serial The Newsroom, Will McAvoy ini digambarkan sebagai seseorang yang sudah kawakan di dunia jurnalistik. Oya, selain itu Will juga punya pengalaman sebagai District Attorney yang membuat adegan wawancara dengan narasumber seringkali seperti proses interogasi. Seru! Hehehe.
Awalnya saya kira serial ini tipe serial yang serius seperti Damage, tapi ternyata nggak seserius itu juga sih lantaran banyak adegan dan dialog lucu dan menggelitik diselipkan disana sini. Nuansa romansa juga diselipkan, biarpun not in a way that will make you go 'aaaww... cocwiiit'. Ada dua tema romance dalam series ini. Yang pertama adalah antara Will dan Mackenzie McHale, executive producer-nya sekaligus mantan pacarnya. Yang kedua antara Jim Harper, Maggie (something, I forgot her last name), dan Don (something). Saya sih lebih suka menyimak romansa yang pertama soalnya lebih lucu.
Mac & Will
Tokoh lain yang saya suka adalah Charlie Skinner, bosnya Will. No particular reason but the fact that the character is played by Sam Waterston, yang main District Attorney Jack McCoy di Law & Order itu lho.
Sam Waterston as Charlie Skinner
However, seperti layaknya berbagai produksi film maupun serial Amerika yang lain, ada juga bagian-bagian yang dramatis-dramatis ke-Amerika-an banget. Tapi tidak banyak kok, hanya di akhir-akhir season.
Serial ini setipe dengan True Blood yang hanya belasan episode per seasonnya. Malah The Newsroom tidak sampai belasan, hanya 10 episode di season 1. Season 2 nya baru Juni tahun depan keluar, so there's plenty of time to catch up.
Sep 13, 2012
Super Cook!
Needless to say that being married has brought several, if not many, new things into my life. One of the major new things is now I have to cook prepare meals think about what we're gonna have for dinner every day.
When you live alone you only think about yourself. For example, I don't mind skipping dinner once or twice a week just so I can linger in front of TV longer. Or I have no problem having eggs for 7 straight days for dinner. I can even leave vegetables out of my menu for weeks.Yeah, I happen to have a quite low standard for my daily meals.
Now that I live with someone else, the husband, things get hmm... more complicated, if I may say. Because he happens to have higher standard for his meals. Luckily, he likes to cook too. More than I do, at least.
However, in my attempt to be a better wife, I started to learn to cook. You know, apparently, cooking is not as difficult as I thought it would be. Of course I'm not talking about any complicated dish, I'm referring to food that taste good enough and make you happy enough to go through the day.
The problem, or at least my problem, is I don't know what to cook. I've lived 26 years and I only know about 20 dishes. I believe I've tried at least 50 dishes during my lifetime, but for some reason I weirdly understand (because it's so me) I can't recall those other 30ish dishes when I need them. To say I'm not knowledgeable about food is probably correct.
When I have eggs, onion, olive oil, and potato, I can only think of omelet or sunny side egg with potato. I have zero creativity in cooking.
I've been hoping for some application or program to help me and people like me, where I can easily input all the ingredients that I have and the program will tell me what fancy dish I can make with them.
Wishful thinking, isn't?
Except it's not.
Few days ago, out of desperation I tweeted if someone knew certain application. And one of the responses direct me to www.supercook.com, which is exactly what I mean!
I tried it yesterday, I input eggs, onion, olive oil, and potato and I got more than 20 recipes that I work with! The husband and I ended up having Italian potato soup for dinner yesterday. :D
I think the website is basically only matching your ingredients with the recipes in other cooking sites. Because once I clicked on the recipe I got redirected to another site.
If you have the same problem as mine, you really should try this supercook.com. Great stuff!
Aug 21, 2012
Memaafkan
Sekitar awal bulan puasa ini, saya baca sebuah tweet dari seorang teman yang mengutip ceramah agama yang sedang atau baru saja disimak. Kira-kira isinya begini, lebaran itu bukan tentang saling meminta maaf tapi saling memberi maaf.
Tweet itu cukup bikin saya kepikiran dan mengingat-ingat pengalaman meminta dan memberi maaf. Dan setelah saya renungkan selama 7menit hari 7 detik malam, rasanya memang memaafkan itu lebih sulit daripada meminta maaf ya. Well, tergantung sejauh mana kita rela swallowing our pride juga sih. Soalnya kalau saya ogah minta maaf ketika saya tahu sebenarnya saya salah itu biasanya karena gengsi lagi tinggi. :P
Tapi untuk mampu memaafkan, sincerely forgiving, dibutuhkan keikhlasan. We know that it ain't easy, yes? I think it's not about forgetting but more about letting go. Pun, ketika misalnya kita bilang sudah memaafkan seseorang tapi masih merasa senang kalau dengar kabar buruk tentang orang tersebut atau merasa dengki saat mendengar kabar baiknya, apakah masih bisa dikatakan sudah ikhlas memaafkan? For me, I think can say that I have sincerely forgiven someone when I no longer feel any hint of bitterness when I heard that he/she is doing well and happy. Let bygones be bygones. Kita tahulah untuk sampai pada tahap itu seringkali tidak mudah dan cepat. Ramadhan dan Lebaran mestinya menjadi momen untuk membiasakan hati dengan keikhlasan. Ikhlas memaafkan dan ikhlas juga bilatidak belum dimaafkan. :)
Oh, dan ikhlas swallowing the pride untuk meminta maaf. :P
Having said that, saya ikhlas nih swallowing my pride (if I have any...) dan mengucapkan:
Selamat hari raya Idul Fitri 1433 H. Mohon maaf lahir batin, ya.
Kalau diantara orang-orang yang baca blog ini ada yang merasa punya salah sama saya, insyaallah sudah saya maafkeun (bukannya saya merasa ada yang merasa salah lho yaa)
:)
Tweet itu cukup bikin saya kepikiran dan mengingat-ingat pengalaman meminta dan memberi maaf. Dan setelah saya renungkan selama 7
Tapi untuk mampu memaafkan, sincerely forgiving, dibutuhkan keikhlasan. We know that it ain't easy, yes? I think it's not about forgetting but more about letting go. Pun, ketika misalnya kita bilang sudah memaafkan seseorang tapi masih merasa senang kalau dengar kabar buruk tentang orang tersebut atau merasa dengki saat mendengar kabar baiknya, apakah masih bisa dikatakan sudah ikhlas memaafkan? For me, I think can say that I have sincerely forgiven someone when I no longer feel any hint of bitterness when I heard that he/she is doing well and happy. Let bygones be bygones. Kita tahulah untuk sampai pada tahap itu seringkali tidak mudah dan cepat. Ramadhan dan Lebaran mestinya menjadi momen untuk membiasakan hati dengan keikhlasan. Ikhlas memaafkan dan ikhlas juga bila
Oh, dan ikhlas swallowing the pride untuk meminta maaf. :P
Having said that, saya ikhlas nih swallowing my pride (if I have any...) dan mengucapkan:
Selamat hari raya Idul Fitri 1433 H. Mohon maaf lahir batin, ya.
Kalau diantara orang-orang yang baca blog ini ada yang merasa punya salah sama saya, insyaallah sudah saya maafkeun (bukannya saya merasa ada yang merasa salah lho yaa)
:)
Subscribe to:
Posts (Atom)
The Other Blog
Dear all, This blog is not going to be updated often as I have created another one at www.floresianay.wordpress.com which will be focusi...
-
Anak perempuan itu bernama Iis. Usianya baru 12 tahun. Baru lulus SD. Tingginya mungkin sekitar 145 cm. Dadanya masih rata, perawakannya kur...
-
Di suatu petang. Dua orang adik kakak perempuan mengobrol di teras rumah. Datanglah seorang ibu-ibu. "Udah ada uang buat bayar kontraka...
-
When I was a child, about 10 or 11, there was this Japan serial called 101st Proposal. It was a story about a man named Tetsuro in the conqu...


