Jul 23, 2015

The Other Blog

Dear all,

This blog is not going to be updated often as I have created another one at www.floresianay.wordpress.com which will be focusing more on parenting, housemaking, and entrepreneurship and less about my personal life. 

Good day! :)

Yasmin

Jul 24, 2014

Update

Last time I posted something here was 6, almost 7, months ago. It was January 8th 2014. Two days later my life officially changed for good.

Meet my beautiful, fatty son: Mikail Ahmad Marstiga

The picture was taken only a few hours after he was born, which is 6 months ago. 

Now, here he is

I didn't write anything about him, or this event earlier because:
  1. Everything is super chaotic once the baby arrived.
  2. I am out of word. Everything seems flat and cold compared to what I am feeling inside. 
Thus, I'm just going to say: being a mother changes me, figuratively and literally.

Jan 8, 2014

Penipuan Sore Ini

Baru beberapa hari lalu saya dan Nadya ngobrol tentang terima/tidak kalau ada telepon dari nomor tak dikenal, sore tadi saya sudah kena batunya. Sebagian orang, termasuk suami saya, memilih untuk tidak akan mengangkat telepon kalau nomornya tidak dikenal. Suami saya itu, mau ditelepon 10 kali pun kalau dia nggak kenal dengan nomornya ya nggak akan diangkat. Mana tahu penting?, saya pernah berucap. Dijawabnya, kalau penting juga nanti SMS. Hmm, ya iya juga sih ya.

Kalau suami saya saklek tidak akan angkat telepon, Nadya lebih lunak. Dia bilang ada kalanya dia akan mengangkat ada kalanya tidak. Apa faktor yang mempengaruhi tidak saya tanya lebih jauh.

Nah, kalau saya, karena saya orangnya baik (mwahahahah), biasanya semua telepon pasti saya angkat. Kenal ataupun tidak kenal dengan nomornya. Memang sih kadang jadi terjebak dengan perangkap telemarketing, tapi saya tetap beranggapan seperti tadi itu: mana tahu penting? Iya, kalau pentingnya untuk si penelepon, kalau pentingnya untuk saya, gimana? Misalnya saya menang undian apa gitu seperti waktu beberapa tahun lalu saya menang lucky draw dan dapat kursus IELTS gratis senilai 3.5 juta rupiah. Hahaha.

Maka ketika sore tadi ada nomor tak dikenal menelepon, tanpa pikir panjang saya angkat saja. Kira-kira percakapannya seperti ini:

Yasmin (Y): Halo

Penelepon (P): Halo, selamat sore. Kami dari Bank Indonesia ingin menyampaikan bahwa Ibu telah terpilih secara acak sebagai penerima hadiah.

Y: Hmmm.... *Busyet, sekarang orang nipu udah berani via telepon ya, bukan SMS lagi

P: Sebelumnya, mohon maaf betul ini nomor 0821XXXXXXX?

Y: Iya *lha, situ kan yang nelpon (entah kenapa saya penasaran bagaimana caranya mereka mau menipu orang, jadi saya teruskan pembicaraannya)

P: Iya Bu, alhamdulillah rekening Ibu sudah terpilih sebagai salah satu orang yang menerima hadiah senilai 8 juta dari Bank Indonesia. *mau nipu aja pake bawa-bawa alhamdulillah. Moga-moga kepalanya tiba-tiba ketiban kelapa.

Y: Hah? Bank Indonesia emang ada rekeningnya?

P: Nomor GSM Ibu yang terpilih. Untuk pengambilan hadiah Ibu tidak akan dikenakan biaya apapun, Ibu juga tidak perlu memberikan pin ATM. Kami hanya membutuhkan data rekening yang Ibu miliki ada di bank apa dan nomornya berapa.

Y: Hmm, nggak usah deh Mas. Saya nggak tertarik yang begini-begini.

P: Ibu cukup memberi tahu rekening bank Ibu saja kok.

Y: Nggak ah *ealah, maksa amat

P: Ibu saat ini tempat tinggal di provinsi mana Bu?

Y: Ah, masa Bank Indonesia nggak ada datanya sih.

P: Ibu saat ini di provinsi apa Bu tempat tinggalnya?

Y: *ini maksudnya dia mau ngehipnotis apa gimana sih kok pertanyaannya diulang-ulang?

P: Di mana? Di mana? Di mana? (ya nggak gitu sih ngomongnya, tapi intinya orang ini nanya berulang-ulang tentang tempat tinggal saya)

Y: Saya nggak tertarik Mas. Makasih ya. (tutup telepon).


Bapak yang saat itu sedang ada di sebelah saya kemudian bertanya siapa yang menelepon. Saya ceritakanlah. Eh, ternyata si Penelepon ini setelah ditutup belum menyerah juga lho. Dia telepon lagi dan lagi dan lagi, yang tentunya langsung saya reject. Akhirnya Bapak ambil ponsel saya dan mengangkat teleponnya. Intinya sih Bapak bilang, kamu siapa nanya-nanya dsb dsb. Lalu ditutuplah teleponnya.

Belum ada 10 detik, ditelepon lagi sama si Penelepon ini. Bapak bilang tadi memang orangnya mengancam kalau dia akan gangguin sampai malam. Wah, ternyata niat bener dia gangguin.

Lantaran ditelepon-telepon terus begitu saya jadi tidak bisa pakai ponselnya. Mau cari fungsi untuk memblokir nomor saja tidak sempat karena setiap saya reject, tidak sampai 5 detik kemudian dia menelepon lagi. Untungnya saat itu saya sedang tersambung dengan wi-fi, jadilah saya aktifkan Flight Mode atau Modus Pesawat dan menggunakan wi-fi untuk browsing caranya memblokir penelepon. Ternyata tidak semua ponsel atau android dilengkapi dengan fitur built-in pemblokiran, tapi worry not karena ada banyaaakkk aplikasi gratis yang bisa dengan mudah diunduh dan digunakan untuk memblokir nomor.

Awalnya saya coba unduh dan instal aplikasi Mr. Number. Aplikasi ini sebenarnya bagus karena kita bisa memilih apakah nomor yang kita blok itu mau di-reject atau mau langsung diteruskan ke voicemail. Sayangnya, aplikasi ini kurang tepat dengan situasi saya saat ini karena ketika telepon masuk akan muncul dulu di layar baru di-reject secara otomatis. Ya, kalau orangnya menelepon satu jam sekali sih tidak masalah. Cuma karena tukang tipu ini menelepon terus tanpa jeda jadinya sebentar-sebentar di layar saya muncul panggilan itu (biarpun sedetik kemudian langsung otomatis ter-reject).

Saya pun coba cari-cari aplikasi lain hingga akhirnya saya menemukan yang namanya Calls Blacklist. Aplikasi ini tampaknya lebih sederhana karena tidak ada pilihan mau reject atau teruskan ke voicemail, cuma dalam kasus saya cara kerja aplikasi ini lebih tepat manfaatnya karena ketika panggilan dari nomor yang di-blacklist masuk tidak akan tampil di layar melainkan hanya muncul di bagian notifikasi yang ada di bagian paling atas. Fungsi notifikasi itupun bisa dinonaktifkan sehingga saya benar-benar tidak akan sadar kalau nomor tersebut menelepon atau SMS (yap, bisa ngeblok SMS juga!). Tapi kalau penasaran, masih bisa kok buka di bagian "Log" dari aplikasi ini maka akan muncul daftar panggilan dan SMS yang telah ter-blok. Juara deh! Begitu pakai saya langsung kasih rating bintang 5. Hahahaha. Padahal jumlah apllikasi yang pernah saya rating bisa lho dihitung dengan sebelah tangan. Biasanya saya terlalu ignorant dan malas untuk menyempatkan memberi rating.

Balik ke tukang tipu tadi, saya setengah kagum juga dengan kegigihan dan komitmennya untuk mengganggu. Kalau lihat dari daftar log di Calls Blacklist, dia sudah mulai setidaknya sejak jam 6 sore. Padahal aplikasi Calls Blacklist itu sendiri baru saya aktifkan kira-kira setengah jam setelah dia pertama kali mulai teror menelepon.


Bahkan di tengah-tengah panggilan dia sempat-sempatnya mengirim SMS.



Dan akhirnya baru menyerah menjelang jam 8 malam.

Saya sempat berniat mengirim SMS "Lho Mas, kok udah berhenti nelponnya? Capek yaa...?". Tapi on second thought, tidak sudi ah menurunkan derajat saya untuk menanggapi orang seperti ini.

Anyhow, menurut saya orang seperti ini bisa berbahaya. Kalau yang ditelepon pas lagi butuh uang misalnya, atau tidak cukup paham dengan modus-modus penipuan, bisa jadi kena tipu betulan. Semoga dengan saya posting ini ada manfaatnya, baik untuk yang sedang diteror telepon oleh seseorang ataupun orang-orang yang akan jadi incaran penipu kelas teri seperti ini.

Nomor yang digunakan tukang tipu ini adalah 083220007400. Nomor ini bisa dengan mudah diganti sih.

Oya, dan kalau ada yang tahu kemana (bila ada) saya bisa melaporkan penipuan-penipuan seperti ini, mohon infonya ya. Kalau kita dengar atau mengalami sendiri dijadikan target penipuan kacangan begini, mungkin reaksi kita adalah, masa iya sih  ada orang yang tertipu dengan cara seperti ini? Saya juga dulu berpikir begitu. Tapi ternyata ada, lho! Seseorang yang saya kenal pernah hampir termakan tipuan SMS berhadiah yang sebenarnya kalau saya baca SMS-nya sangat-sangat tidak meyakinkan dan dikirim dari nomor yang tidak kalah meyakinkan pula. Tapi nyatanya ada saja orang yang tertipu.

Makanya, penting itu untuk bisa menindaklanjuti si penipu-penipu kelas teri yang sengaja memanfaatkan kelemahan orang lain demi kepentingan sendiri.


Dec 24, 2013

Moving Out, Moving In!

Akhirnya! Setelah sekitar satu bulan apartemen kami resmi on sale, ketemu juga dengan pembeli yang cocok.
Huge and big THANKS to Rangga for referring us to his in-laws who ended up to be the buyer! 

Proses balik nama memang belum beres lantaran pihak developer yang akan menjadi perantara transaksi mendadak cuti bersama dari tanggal 23 Desember sampai 6 Januari (grrr...). Tapi pembayaran sudah dilakukan 50% dan kunci sudah diserahkan, jadi insyaallah Januari nanti tinggal pelunasan dan penandatanganan dokumen saja. Amin!

Karena kami belum juga menemukan rumah yang cocok untuk dibeli, sementara ini kami putuskan untuk menyewa unit lain di Kalibata City juga sembari menunggu kelahiran (which is due in 3 weeks!) dan meneruskan proses pencarian rumah dengan tenang. Bertekad membereskan segala urusan sebelum lahiran, jadilah minggu kemarin ini saya sibuk pindahan dan beres-beres apartemen baru. Canggihnya, minggu lalu suami ada kerjaan di Bandung yang berarti proses cari tempat baru dan pindahan sebagian besar saya lakukan sendiri. Well, nggak sendiri juga sih soalnya dibantu sama si Mbak Karti dari tempat Mama dan adik-adik saya. Hihihi.

Ternyata ya sodara-sodara, pindahan saat lagi hamil besar itu dapat mengakibatkan pegal-pegal akut dan linu-linu badan! Dulu waktu kandungan sama masih di trimester kedua, saya suka meremehkan gerakan-gerakan yang dilakukan di kelas senam hamil, seperti buka tutup telapak tangan. Apa sih efeknya gerakan seperti ini? Ternyataaaa, di saat-saat ini gerakan-gerakan sederhana seperti itulah yang membantu saya survive rasa sakit otot-otot di sekujur tubuh setiap bangun pagi.

Apartemen yang baru ini memang kami sewa dalam kondisi full furnished sih. Jadi saya benar-benar cuma meletakkan barang-barang di tempatnya saja. Biarpun apartemen kami dulu kecil (yang sekarang juga sama), tapi ternyata banyak banget barang-barangnya. Butuh waktu dua hari untuk memindahkan barang-barang dari apartemen lama ke yang baru. Padahal sebagian barang-barang juga sudah kami ungsikan ke rumah orang tua masing-masing beberapa hari sebelum pindahan.

Here's how our new apartment looked like before everything is put in order.



Udah macam kapal pecah! Pening rasanya berada di dalamnya.

And this is how it is now.







I like our old apartment (way) better, but it's not bad either. Semoga menjadi rumah yang menyenangkan selama 6 bulan ke depan! :)


Nov 11, 2013

On Sale: My Apartment!

Setelah hampir 2 tahun menempati apartemen di Kalibata City, akhirnya saya dan suami memutuskan untuk pindah! Sedih juga sih meninggalkan rumah (as in 'home' rather than 'house') pertama kami ini. Soalnya sudah cukup banyak effort yang dikeluarkan untuk mendandani si apartemen hingga jadi seperti sekarang. Hampir semua pernak-pernik di dalamnya kami pilih sendiri, so there's a little story in every little piece. Tapi, setelah mempertimbangkan banyak hal (termasuk cita-cita saya punya tiga orang anak. Hahaha.), kami akhirnya putuskan bahwa waktu yang tepat untuk menjual apartemen ini adalah sekarang.

It has been a very lovely home for both of us but now it is time to build a lovely home for our family (including the one kicking my belly right now and hopefully two more in the future :P ).

Yuk mareee kita mulai tur-nya...

Nama Apartemen: Kalibata City
Tower: Borneo
Lantai: 5
View: Tower Cendana
Harga: Rp 400.000.000

LIVING ROOM

Ini adalah ruang tamu / ruang makan / ruang TV / ruang serbaguna. Cushion sedang dalam proses pembuatan (sudah telanjur dipesan sebelum kami putuskan untuk menjual apartemen), nantinya di atas bangku berbentuk L itu akan ada bantalan nyaman warna coklat tua dengan corak garis hijau pastel. Di bawah bangku sengaja dibuat rongga-rongga supaya bisa dipakai untuk menyimpan. Maklumlah, ruangan apartemen kan terbatas, jadi harus memaksimalkan semua celah. Hehehe.

Seluruh bagian lantai kecuali kamar mandi dan balkon dilapis parquet.


Jam dinding dan stiker burung ini dibeli dalam satu paket. Salah satu pernik yang akan saya kangenin. Meskipun yang memilih modelnya suami, I think they are really adorable and I really love them!


Karena saya dan suami sama-sama doyan baca, maka jadilah kami buat rak buku ini (biarpun akhirnya rak yang tengah dipakai untuk memajang foto dan mainan-mainan). Oya, FYI, semua furnitur (kecuali rak TV) dibuat khusus dengan material multiplex sungkai jadi memang agak bulky tapi kokoh.


Berbeda dengan furnitur yang lain, rak TV kami beli di ACE, jadi tidak berbahan multiplex sungkai. But it works just fine sih menurut saya.

KITCHEN





Husband is a foodie and he likes to cook (thank God!). Jadi dapur merupakan salah satu bagian yang paling penting buat dia. Saya sih ikut aja. Satu-satunya aspirasi saya ketika membuat kitchen set ini adalah oven. Konon ceritanya dulu saya bercita-cita baking setiap minggu.

Anyway, kembali ke kitchen set, dindingnya berbahan granit supaya tidak masalah kalau tergores pisau. Gambar-gambar di karung goni itu hasil buatan Daus, teman sekaligus desainer interior yang membantu kami menata apartemen ini. Saya sendiri sangat suka gambar-gambar Pacman merah itu. Hihihi.

BATHROOM


Kamar mandi di apartemen Kalibata City memang kecil tapi fungsional. Tidak banyak yang kami tambahkan di kamar mandi kecuali gantungan handuk, rak kecil untuk peralatan mandi dan lapisan hitam di lantai itu. Saya tidak tahu itu namanya apa, tapi lapisan itu membuat kamar mandi jadi kering karena kaki kita tidak langsung menyentuh lantai.


BALKON


Sama seperti kamar mandi, balkon juga seuprit aja. Biasanya outdoor unit-nya AC ditaruh disini. Karena saya ingin bisa cuci baju sendiri, maka jadilah mesin cuci juga ditaruh disitu. Bagian atasnya dipasang pipa kecil untuk menjemur baju.

BEDROOM


Sama seperti bangku di ruang tamu, dipan di kamar tidur juga dibuat berongga di bawahnya untuk tempat penyimpanan. Bed lamp sengaja disediakan di dua sisi karena saya dan suami kadang suka baca buku sebelum tidur. Oya, please note bahwa kasur ini tidak termasuk barang yang dijual, soalnya ini pemberian dan kami sudah pewe di kasur ini. Hehehe.


Lemari menggunakan pintu geser supaya hemat tempat. Di bagian atas lemari sengaja dikasih ruang lagi untuk menyimpan tas, kopor, dsb. Di dalam lemari bagian kanan ada meja rias yang bisa dibuka, sayangnya saya lupa fotonya ada dimana.

STUDY ROOM



Kalau desain asli dari apartemen Kalibata City, ruangan ini adalah kamar tidur kedua. Tapi karena saya banyak kerja dari rumah, akhirnya ruangan ini dijadikan ruang belajar sekaligus tempat shalat. Teteeeup banyak rak-rak yang bisa digunakan untuk penyimpanan. Aduh, keliatannya berantakan ya? Saya sudah ragu mau memasukkan foto yang kedua, maluuuu....

***

All cards on table, enaknya di Kalibata City adalah lokasinya yang strategis, dekat banget ke stasiun Duren Kalibata (apalagi dari Tower Borneo, tinggal ngesot), ada mal di bawah apartemen, jadi kalau mau makan, belanja kebutuhan sehari-hari sampai karaokean tinggal turun. Sisi kurang enaknya adalah parkir mobil yang lumayan penuh. Kalau motor sih nggak masalah karena tempatnya masih banyak. Kalau mobil, harus pintar-pintar mengatur kapan pulang supaya kebagian tempat parkir yang enak.

Harganya masih bisa nego gak?
Ya, bisalah dikit-dikit. Hehehe.

Kalau tertarik, silakan kontak saya di email floresiana.yasmin@gmail.com. Kalau tidak, ya mohon bantuannya ya untuk menyebarkan informasi ini ke teman-teman. Hehehe.

Have a great Monday, people!





Oct 30, 2013

The World My Son Will be Born Into

Dear son,

Soon you will be born into this world (insyaallah, if God permits). We, your father and I, are very excited to welcome you. Not one day goes by without us talking about you and talking to you (I read that you can hear sound now). The happiness is beyond words.

However, as a soon-to-be-mother, I have my anxiety as well. Do we have enough saving for your future? Am I going to make a good parent? Can I give you the care and attention that you need? The list is endless. One of my greatest concerns is about the world and the people that you're going to meet here. Let me tell you why.

This world that you're going to live in, my son, sometimes can be very deceitful. Things are not always black and white and, speaking from my own experience, there will be times when you are no longer know whether you are on one side or the other. As much as I love you, sweetheart,  I am afraid that I am not strong and wise enough to constantly tell you right from wrong. Nor is your father and anyone in this whole wide world. People are flawed, sometimes we get greedy, pompous, envious, and malign. Now, I am not saying that we are bad all the time, no. People can also be really generous, compassionate, kind, and forgiving, but you should know that humans have those two sides in them. While you need a life guidance that can consistently show you the right path, you should not depend completely on humans on that matter for we are lacking that kind of persistency quality. Instead, take the words of The Most Gracious Allah that you can read from Al-Qur'an and learn from our Prophet Muhammad's hadith.

The tricky part is, in your journey you are probably going to meet certain people who say that they are moslems yet conviniently twist the words of God. In the name of freedom, they embrace part of Qur'an that are relevant (for them) and defy those that are not, and they loudly speak about it. With their flashy degrees and fancy words, these people look and sound intelligent and sophisticated. Whether they actually have read the Holy Qur'an cover to cover or had the wisdom and capability to make and spread their own interpretation of Islam, that I doubt it. As mentioned in the first 7 ayahs of surah Luqman in the Qur'an:
1. Alif Lam Mim
2. Inilah ayat-ayat Al-Qur'an yang mengandung hikmah,
3. sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat kebaikan,
4. (yaitu) orang-orang yang melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan mereka meyakini adanya akhirat.
5. Merekalah orang-orang yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.
6. Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan percakapan kosong untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa ilmu dan menjadikannya olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.
7. Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berpaling dan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbatan di kedua telinganya, maka gembirakanlah dia dengan azab yang pedih.

Your mother is nowhere near a perfect moslem (yet, I hope). There are still many aspects of my life and behavior that are not in accordance with what they are supposed to be. I must say, for me at least, it is not easy to completely liberate myself from all of the temptation to deviate from the guidance.  However, my dear, don't let it be a reason for you to turn your back on what you commit to believe in. Don't let it be a reason to justify opposing the truth only to suit your needs and comfort.

So many wishes I have for you, my son. One of them is that I wish that you will have the wisdom and fortitude to tell right from wrong. May God gives your father and I the strength to raise and educate you to be one fine moslem.


Apr 13, 2013

Selective Arguing Habit

I think it wasn't long after we started dating when he, my boyfriend (now husband), complained mentioned about how I seemed to always try to argue, about everything and anything that he said (which reminded me of Corrine Bailey Rae's "Like A Star", btw)

Those who know me well know that I don't like conflict. When someone says something that I don't agree on, often I just let it slide in silence, as if I don't hear it, or a low and short 'humm', as if I am in the middle of thinking about other thing. I do this quite a lot. I think I am just too lazy to get into any confrontation.

There are some exceptions, of course. One is when the subject is important for me. The other is when the person is important that I wish to keep him/her around for long. In the latter case, I think it is essentials for him/her to know me as my true self.

Even in the beginning of the relationship with my husband (then boyfriend), I could tell that I want and I will make this one works. So when he told me about my challenging, if not arguing, habit, I noticed that it was because he was already important to me and I wanted to keep him around for a very very long time, if he could accept me as who I truly was (and am), Fortunately, he did (and he does).

And exactly one year and 5 days ago, we had our first "argument" as husband and wife.



What did we argue about? Something frivolous that I can't recall.

Happy 1st anniversary! Love you to the moon and back and even more...

Mar 28, 2013

Need A Win

There's this hilarious episode of How I Met Your Mother where everyone argued about the fastest way to get to some restaurant downtown (I think) and they ended up racing down to prove their point. Turned out, everybody was in need of a win for different reason (well, except Barney. Haha.).



Yea, kinda in need of a win too here, now. =P

Jan 3, 2013

Kuesioner


Bantu perusahaan lokal untuk menjadi lebih baik dengan mengisi kuesioner ini ya. :)

Jan 2, 2013

The Nice-to-have


Some years ago I asked a good friend of mine, "how do you know what you really want in your life?"

At that time I had just finished my undergraduate study and found myself overwhelmed with things I planned for myself next. I wanted to continue my study I wanted to have a career in a multinational company. I wanted to establish my own business. I wanted to get married before I reached 29 and have 3 kids then. And also some other things that I couldn't recall now. Shortly, I wanted everything.

While I was anxious, my friend was pretty certain with his life plan. I could say that because I knew that he had turned down some offers that other people would kill to get for things that he thought were truly matter.  "Don't you worry that you're going to regret it one day?", my other question.

To my latter question, he responded, "no, it's not something that I really want", which led to my former question.

I was, and probably still am, a kind of person who thinks I want and need everything. My friend back then advised me that I should find out which ones I truly want and which ones that are only nice-to-haves. For example, everyone would love to have a private jet but only a few who truly want a private jet. Sure it's nice to have one, but does it motivate me to work hard? No, not yet, at least.

Another example are my red high heels. I told myself, "yes I want those" but never successfully bring myself to buy them. I finally had them though, someone gave me as a gift. Am I happy that I have them know? Of course I am! Though I only wore them twice since. First, I am not that daring to wear red high heels everywhere. Second, they hurt like hell! Honestly, my life would be just as fine if I didn't have them. If they are stolen, I won't be rushing to buy another pair. Hell, I might not!

My Crocs, on the other side, are a completely different story. I'm may not crazy about the design but I need them. Even on my worst day, at least I don't have to worry about my feet. In Indonesia, those pair of rubber are not cheap though, escpecially the ones with a slightly decent style. In fact, I bought the ones that I have now at the same price with the red high heels that I always want yet fail to purchase. Somehow, I could always put aside some money for Crocs. If my Crocs are stolen, I could see myself rushing to the mall and buy another pair within a week.

 If I think about what my friend said about the nice-to-have back then, those red high heels are probably a good example. Something that I want to have for "buat punya-punya aja". However, of course at the time he told me about the nice-to-have things, I didn't fully understand what that meant. Don't think I have fully captured it now too. Hahaha.

Nevertheless, after a few years of bouncing around from one thing to another, I could see how true what my friend said then, which is not everyhing that I think I want is truly what I want. It took some time for me to understand. Some people that I know, found out what exactly  they want to do in their lives, took it out from the merely nice-to-haves, and focused on what really matter. Amazing.

As I quote my friend, there's always gimmick that may disctract you to do other things. I, personally, think that the most alluring gimmick is the thought that it is a one in a lifetime opportunity or it is something that everybody else wants.

You know a quote that goes "20 years from now you'll regret things that you didn't do instead of things that did"? I don't really buy it. It's not choosing between doing or not doing, it's always choosing doing something instead of doing another thing. It's not about working or not working, but more like working or sleeping, working or spending time with your kids, working or studying.

Back to my question years ago: "how do you know what you really want in your life?". I don't know for sure yet, but I think one way that you can do is to ask yourself: "are you gonna be just fine without it?"
If your answer is "yes", you might want to drop it and focus on those that really make your life worthwhile, because you are neither young nor live forever.



Dec 4, 2012

Hopelessly Devoted To You - Darren Criss

Beautifully sad. Better not listen to this song if you've just got your heart broken. (or should you...?) *evil smirk*

Nov 27, 2012

Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia adalah salah satu pelajaran yang menjadi momok semasa sekolah dulu. Mungkin tidak di beberapa tahun pertama ketika yang dibahas hanya sekedar S-P-O, (subyek-predikat-obyek) atau mengarang cerita liburan. Namun lambat laun, sepertinya pelajaran ini semakin menjadi-jadi saja. Sebut saja persoalan imbuhan, tanda baca, kata sambung, serapan, kalimat majemuk, dsb yang bikin pusing kepala.

Ujian Bahasa Indonesia itu rasanya semacam tebak tebak buah manggis, tidak tahu mana yang benar, mana yang salah. Sehari-hari berbahasa Indonesia pun sepertinya tidak banyak membantu. Bagaimana bisa membantu kalau yang terucap kebanyakan kalau tidak bahasa sleng ya bahasa Inggris atau Jawa yang diserap dan dimodifikasi sembarangan. Nah, kan, baru paragraf kedua saja saya sudah pakai istilah sleng. 

Belajar bahasa Inggris rasanya lebih mudah. Sebenarnya saya kurang tahu juga sih bahasa Inggris yang saya gunakan sudah benar atau tidak. Anggaplah sudah (agak) benar. Bila demikian, buku dan bahan bacaan berbahasa Inggris lainnya adalah salah satu hal yang paling berjasa dalam proses pembelajaran saya. Tidak tahu apakah karena bukan bahasa ibu saya, kalau membaca buku atau artikel bahasa Inggris itu rasanya enak betul ceritanya mengalir. Pilihan kata dan kalimatnya pun beragam. Memang tak bisa disamaratakan begitu semua, tapi sebagian besar buku berbahasa Inggris yang saya baca punya efek demikian. Bukan saya bilang bahwa buku-buku berbahasa Indonesia tidak mengalir penceritaannya. Hanya saja dari yang sudah saya baca selama ini, yang tulisannya terasa lancar kebanyakan bahasanya dicampur dengan bahasa lain atau menggunakan bahasa sleng, dengan sejumlah pengecualian tentunya. Mungkin memang saya saja yang kurang banyak membaca sih. Hasilnya, tulisan  saya dalam bahasa ibu sendiri pun banyak disisipi berbagai kata dan kalimat asing atau serapan.

Nah, beberapa hari lalu, saya melihat-lihat sejumlah situs produsen handphone ponsel seperti SONY, NOKIA, dan kawan-kawannya. Ketika saya mampir di situs SONY, saya baru ngeh sadar kalau situs Indonesia mereka menggunakan bahasa Indonesia yang formal. Menariknya, ketika saya baca tidak terasa (terlalu) aneh juga lho. Bahkan pada bagian-bagian tertentu, saya cukup kagum dengan keanggunan bahasanya. Biarpun pada bagian-bagian yang lain terasa seperti hasil terjemahan Google Translate. Setidaknya kegigihan mereka untuk menulis seutuhnya dalam bahasa Indonesia yang baik patut dihargai meski pada akhirnya muncul sejumlah kata atau kalimat yang terasa janggal (walaupun tidak salah). Saya kira kata atau kalimat yang terasa aneh itu lantaran jarang digunakan di percakapan sehari-hari?

Bila bicara tentang bahasa Indonesia, saya selalu teringat mendiang nenek saya dari pihak ibu. Beliau kerap kail menggunakan kata-kata yang saya rasa tidak umum digunakan dalam percakapan, misalnya "lantas" bukan "kemudian" atau "terus"; "kencan" bukan "ketemuan" atau "janjian"; "kawan" bukan "teman". Secara makna, kata-kata tersebut lebih atau sama tepatnya, kan? Tapi tentu kalau saya gunakan dalam percakapan sehari-hari bisa-bisa saya dicap "jadul" (kata yang akan dibahasakan nenek saya sebagai "kuno").

Walaupun demikian, bagi saya, tetap ada kesenangan tersendiri ketika mendengar atau membaca tata bahasa Indonesia yang dipakai seelok itu. Mungkin saya memang kuno, ya?

Saya suka membaca beberapa blog karena alasan tersebut: karena tulisannya menggunakan bahasa Indonesia yang mengalir. Seperti blog milik Raie Kribo ini.

Komentar menarik lain yang pernah saya dengan tentang bahasa Indonesia datang dari teman saya, seorang warga negara Malaysia keturunan Cina. Teman saya ini bahasa Melayunya terpatah-patah, kalah jauh dari kemampuannya berbahasa Mandarin, Inggris, bahkan Spanyol. Meski demikian, diakuinya, bila hanya mendengar ia masih lumayan dapat memahami. Suatu kali ia pernah bilang pada saya bahwa ia pun bisa memahami sebagian percakapan dalam bahasa Indonesia walaupun ada kata-kata tertentu yang membuatnya bingung.

Tahu kata-kata apa?
Kata-kata seperti "sih", "dong", "kan", "deh". Apa artinya? Saya mau menjelaskan juga sulit. Bagaimana asal muasalnya dan kenapa semua orang Indonesia memakainya pun saya tidak mengerti.

Intinya, saya merasa saya harus banyak belajar lagi tentang bahasa Indonesia, memperluas kosakata, memahami pemakaian imbuhan, tanda baca, dsb. Saya akui, ketika saya mendengar seseorang berbicara atau melakukan presentasi dalam bahasa Inggris yang baik dengan lancar, saya selalu kagum. Tapi kekaguman yang sama juga saya selalu berikan pada mereka yang dapat bertutur kata dengan baik, runut, dan anggun dalam bahasa Indonesia, karena jujur saja, saya kira tidak banyak orang yang memiliki kemampuan demikian.

Sebenarnya, tanpa tata bahasa yang baik pun saya rasa orang-orang lain masih dapat memahami dan mengerti maksud perkataan kita. Namun dengan tata bahasa yang baik itulah tingkatan kita bisa terangkat jadi lebih terdidik, atau berbudaya, atau apapun, yang pasti meningkat.

Bisa juga jadi tampak lebih kuno sih. :P

Sep 20, 2012

Recent Series: The Newsroom

So I claim to be a TV series junkie though I rarely write about any of them here. Worry not, I still do spend a good amount of time watching them but I just don't know how to talk about series without revealing my nerdy side. :))

Anyway busway, ada satu series yang baru banget selesai saya tonton yang mau saya share disini (yah, mau nerdy ya nerdy deh).

THE NEWSROOM


Tersirat dari judulnya, serial ini bercerita tentang lika liku proses produksi acara berita TV yang dibawakan oleh Will McAvoy. Di awal-awal cerita, Will digambarkan sebagai karakter yang ignorant dan harsh, sampai-sampai nama asisten sendiri pun lupa melulu. Tapi seiring ceritanya berjalan, karakter Will pun makin kelihatan baiknya.

Saya paling suka bagian yang menunjukkan bagaimana susahnya memproduksi acara TV yang bermutu di tengah tuntutan rating atau bagaimana ribetnya para kru mengembangkan berita. Berita-berita dalam plot cerita pun merupakan berita-berita nyata seperti kebocoran minyak BP di Gulf of Mexico, kematian Osama bin Laden, dll.

Kalau saya perhatikan dari serial ini, sepertinya jenjang karir news anchor di Indonesia dan di US agak berbeda. Bila di sini kita sering melihat wajah-wajah muda sebagai news anchor, di serial The Newsroom, Will McAvoy ini digambarkan sebagai seseorang yang sudah kawakan di dunia jurnalistik. Oya, selain itu Will juga punya pengalaman sebagai District Attorney yang membuat adegan wawancara dengan narasumber seringkali seperti proses interogasi. Seru! Hehehe.

Awalnya saya kira serial ini tipe serial yang serius seperti Damage, tapi ternyata nggak seserius itu juga sih lantaran banyak adegan dan dialog lucu dan menggelitik diselipkan disana sini. Nuansa romansa juga diselipkan, biarpun not in a way that will make you go 'aaaww... cocwiiit'. Ada dua tema romance dalam series ini. Yang pertama adalah antara Will dan Mackenzie McHale, executive producer-nya sekaligus mantan pacarnya. Yang kedua antara Jim Harper, Maggie (something, I forgot her last name), dan Don (something). Saya sih lebih suka menyimak romansa yang pertama soalnya lebih lucu.


 Mac & Will

Tokoh lain yang saya suka adalah Charlie Skinner, bosnya Will. No particular reason but the fact that the character is played by Sam Waterston, yang main District Attorney Jack McCoy di Law & Order itu lho. 

Sam Waterston as Charlie Skinner


However, seperti layaknya berbagai produksi film maupun serial Amerika yang lain, ada juga bagian-bagian yang dramatis-dramatis ke-Amerika-an banget. Tapi tidak banyak kok, hanya di akhir-akhir season.

Serial ini setipe dengan True Blood yang hanya belasan episode per seasonnya. Malah The Newsroom tidak sampai belasan, hanya 10 episode di season 1. Season 2 nya baru Juni tahun depan keluar, so there's plenty of time to catch up.


Sep 13, 2012

Super Cook!

Needless to say that being married has brought several, if not many, new things into my life. One of the major new things is now I have to cook prepare meals think about what we're gonna have for dinner every day.

When you live alone you only think about yourself. For example, I don't mind skipping dinner once or twice a week just so I can linger in front of TV longer. Or I have no problem having eggs for 7 straight days for dinner. I can even leave vegetables out of my menu for weeks.Yeah, I happen to have a quite low standard for my daily meals. 

Now that I live with someone else, the husband, things get hmm... more complicated, if I may say. Because he happens to have higher standard for his meals. Luckily, he likes to cook too. More than I do, at least.

However, in my attempt to be a better wife, I started to learn to cook. You know, apparently, cooking is not as difficult as I thought it would be. Of course I'm not talking about any complicated dish, I'm referring to food that taste good enough and make you happy enough to go through the day. 

The problem, or at least my problem, is I don't know what to cook. I've lived 26 years and I only know about 20 dishes. I believe I've tried at least 50 dishes during my lifetime, but for some reason I weirdly understand (because it's so me) I can't recall those other 30ish dishes when I need them. To say I'm not knowledgeable about food is probably correct.

When I have eggs, onion, olive oil, and potato, I can only think of omelet or sunny side egg with potato. I have zero creativity in cooking.

I've been hoping for some application or program to help me and people like me, where I can easily input all the ingredients that I have and the program will tell me what fancy dish I can make with them.

Wishful thinking, isn't?
Except it's not.

Few days ago, out of desperation I tweeted if someone knew certain application. And one of the responses direct me to www.supercook.com, which is exactly what I mean!

I tried it yesterday, I input eggs, onion, olive oil, and potato and I got more than 20 recipes that I  work with! The husband and I ended up having Italian potato soup for dinner yesterday. :D

I think the website is basically only matching your ingredients with the recipes in other cooking sites. Because once I clicked on the recipe I got redirected to another site.

If you have the same problem as mine, you really should try this supercook.com. Great stuff!


Aug 21, 2012

Memaafkan

Sekitar awal bulan puasa ini, saya baca sebuah tweet dari seorang teman yang mengutip ceramah agama yang sedang atau baru saja disimak. Kira-kira isinya begini, lebaran itu bukan tentang saling meminta maaf tapi saling memberi maaf.

Tweet itu cukup bikin saya kepikiran dan mengingat-ingat pengalaman meminta dan memberi maaf. Dan setelah saya renungkan selama 7 menit hari 7 detik malam, rasanya memang memaafkan itu lebih sulit daripada meminta maaf ya. Well, tergantung sejauh mana kita rela swallowing our pride juga sih. Soalnya kalau saya ogah minta maaf ketika saya tahu sebenarnya saya salah itu biasanya karena gengsi lagi tinggi. :P

Tapi untuk mampu memaafkan, sincerely forgiving, dibutuhkan keikhlasan. We know that it ain't easy, yes? I think it's not about forgetting but more about letting go. Pun, ketika misalnya kita bilang sudah memaafkan seseorang tapi masih merasa senang kalau dengar kabar buruk tentang orang tersebut atau merasa dengki saat mendengar kabar baiknya, apakah masih bisa dikatakan sudah ikhlas memaafkan? For me, I think can say that I have sincerely forgiven someone when I no longer feel any hint of bitterness when I heard that he/she is doing well and happy. Let bygones be bygones. Kita tahulah untuk sampai pada tahap itu seringkali tidak mudah dan cepat. Ramadhan dan Lebaran mestinya menjadi momen untuk membiasakan hati dengan keikhlasan. Ikhlas memaafkan dan ikhlas juga bila tidak belum dimaafkan. :)

Oh, dan ikhlas swallowing the pride untuk meminta maaf. :P

Having said that, saya ikhlas nih swallowing my pride (if I have any...) dan mengucapkan:

Selamat hari raya Idul Fitri 1433 H. Mohon maaf lahir batin, ya.
Kalau diantara orang-orang yang baca blog ini ada yang merasa punya salah sama saya, insyaallah sudah saya maafkeun (bukannya saya merasa ada yang merasa salah lho yaa)

:)







Jul 31, 2012

Keep It Updated

This is me trying to keep my blog updated though I don't really have anything time to say anything right now. :P

Well... unless.. err...*thinking real hard*....

Happy fasting, guys!



PS. I always have soft spot for Maddinah al Munawarah. It's love at the first sight! :)



Jun 15, 2012

Minamoto no Yoritomo: My Very Much Comfort Moment

It's a beautiful afternoon, a bit cloudy but you can feel a hint of warmth is lingering on your neck. You are in this nice cafe, sitting on a comfy sofa while enjoying a cup of your favorite hot drink. Your best friend, whom you haven't met for a while, is on the other side of the small round table, talking about all juicy unimportant details of her recent life. Every 5 minutes you cut and give her unhelpful and not very much related comment, but it's okay. This afternoon is not about solving anyone's problem anyway, it's only about drowning yourself in this very much comfort moment of yours. You silently wish for time to stay still or the next agenda in your schedule got canceled.

**

Rasanya pernah saya baca atau dengar kutipan seseorang "my best friends are my books", atau sesuatu yang seperti itu. Sepertinya saya paham.

Jadi begini, secara umum ada 2 hal yang menurut saya membuat pengalaman membaca sebuah buku menyenangkan:
Pertama, buku yang begitu mulai dibaca sulit untuk berhenti. Misalnya The Da Vinci Code. Rasanya seperti naik kereta ekspres ketika sedang buru-buru mau ujian (misalnya). Ingin cepat-cepat sampai, kalau bisa keretanya tidak usahlah pakai berhenti-berhenti dulu di stasiun lain. Langsung ke stasiun akhir, Mas (baca: masinis -red)!
Kedua, buku yang ketika dibaca memberikan perasaan nyaman layaknya ngerumpi dengan teman lama. Seperti waktu serial kesayangan tamat, rasanya semacam ditinggal teman. Nah, perasaan seperti ini bisa juga ditimbulkan oleh buku. Jadi ketika membaca antara ingin tahu kelanjutan cerita tapi juga cemas karena semakin dekat ke tamatnya cerita. Contoh buku seperti ini adalah Minamoto no Yoritomo.

Minamoto no Yoritomo ditulis oleh Eiji Yoshikawa. Belum pernah saya baca buku Eiji Yoshikawa sebelumnya. Tidak juga buku Musashi yang amat sangat digemari orang tua saya. Malah sebenarnya saya baru sadar bahwa si penulis adalah orang yang sama dengan yang mengarang Musashi setelah saya mulai membaca beberapa bab. Bila Musashi ditulis sebaik dan sedetail Minamoto no Yoritomo, saya mengerti betul kenapa orang tua saya betah mengikuti kisah tersebut hingga tujuh jilid. 

Minamoto no Yoritomo merupakan kisah berlatar belakang Jepang di abad ke-12 ketika persaingan antar klan samurai masih ramai. Inti dari perseteruan yang diangkat buku ini adalah antara klan Minamoto dan klan Taira. Cerita dimulai dengan kekalahan klan Minamoto yang telah lama berkuasa dari klan Taira. Pimpinan klan Minamoto, Minamoto no Yoshitomo beserta pengikut, termasuk dua anak tertuanya, terbunuh. Yang tersisa adalah keempat anak Yoshitomo yang lain. Secara garis besar, buku yang merupakan bagian pertama dari dwilogi ini menceritakan tentang anak ketiga dan anak bungsu dari Yoshitomo dalam membangun kekuatan melawan klan Taira.

Membaca buku ini membuat saya serasa berada di 'my very much comfort moment'. Mungkin karena detail sejarahnya, atau karakternya, atau alur ceritanya, pada suatu titik saya seperti membangun pertemanan dengan kisahnya. Maka ketika buku selesai dibaca, rasanya sedih juga. Tapi tidak terlalu juga sih, soalnya masih ada bagian keduanya. Hehe. Ya, kalau diumpamakan dengan serial, kira-kira rasanya seperti ketika season sekarang selesai dan menunggu season selanjutnya.



Hal besar yang akan terjadi akibat perbuatannya ini tentu sudah dia pikirkan baik-baik. Klan Houjou merupakan keluarga samurai besar, begitu juga Yamaki Hangan Kanetaka. Artinya, tindakannya ini akan menyebabkan peperangan. Demi cinta, sembilan turunan akan mengangkat tombak dan mengantar para petani ke bencana peperangan. Dia bukanlah wania bodoh yang tidak mengetahui betapa mengerikannya dosa ini...

Jun 4, 2012

Escalation of Commitment


When a decision maker discovers that a previously selected course of action is failing, she is faced with a dilemma: Should she pull out her remaining resources and invest in a more promising  alternative, or should she stick with her initial decision and hope that persistence will eventually pay off?  Management scholars have documented a tendency of decision makers to escalate commitment to previously selected courses of action when objective evidence suggests that staying the course is unwise.  In these situations, decision makers often feel they have invested too much to quit and make the errant decision to “stick to their guns”.
(Kelly & Milkman)

**

Lecturer: Escalation of Commitment happens when the company’s in a bad shape, despite of the huge investment it’s already put in there, and the management reacts to the circumstances by putting more investment in hope that it’ll help the company to perform better.... It’s like a bad relationship.

Me: [laughing softly]

Lecturer: Yasmin, do you understand? Can you explain it to the class?

Me: Err, no. It’s okay.

Lecturer: No, please. Because it seems that you pick up my idea. Can you explain it to your friends?

Me: Well, it’s like when you’re in a relationship for so long, 5 years, and it doesn’t go well, but you think you’ve already put too much effort in it that you don’t want to end it.

Lecturer: And instead you get married, escalating your commitment, hoping that the problem will be solved by the escalated commitment. Exactly!


How could I pick the idea so easily? Obviously, because I’ve witnessed some of my friends do or did that to some extent. I just didn’t know there’s a term for it. And how do we know if we are in the circumstances?


Me: And how do we know if we are in the circumstances? That we shouldn’t put more investment?

Lecturer: That’s why people go to MBA, to answer that kind of question.


Isn’t making the right decision expensive?

May 3, 2012

Rumah Cokelat: Ibu, Karir, Anak

Saya punya teman di kantor saya yang dulu, ibu satu anak yang tinggal di Bogor. Waktu saya kenal dia adalah masa-masa pertama saya mencicipi kehidupan kerja di Jakarta. Kantor tempat saya bekerja ketika itu di daerah Sunter. Perusahaan Jepang, kerja dari jam 7 sampai jam 4. Buat saya yang ketika itu masih bawa mobil, mudah saja bolak balik rumah-kantor, karena ada tol yang menghubungkan dari Jatiwaringin ke Sunter. Berangkat kerja paling lama makan waktu 50 menit (tidak pernah sampai 1 jam). Pulangnya yang agak ribet, sekitar 1 sampai 1,5 jam. Tidak terlalu buruk sebenarnya untuk ukuran Jakarta.

Untuk si Ibu satu anak, perjuangannya lebih berat (menurut saya). Pulang pergi naik kereta, sampai rumah sekitar jam 8an malam, belum lagi kalau lembur. Berangkatnya jangan ditanya, yang pasti sebelum saya bangun pagi. Saya sempat terheran-heran, bagaimanalah teman saya ini mengatur waktu dengan keluarganya terutama anaknya. Kapan ketemunya?

Aneh juga sih saya berpikiran begitu karena saya pun anak hasil didikan ibu bekerja. Tapi karena profesi ibu saya dokter, jadi jadwalya lebih fleksibel. Lagipula lalu lintas Jakarta 20 atau 15 tahun lalu belum separah sekarang, jadi waktu yang terbuang di jalan juga tak sebanyak saat ini.

Sejak saat itu saya jadi bertanya-tanya, apakah ibu yang bekerja memang harus begitu ya? Hanya sempat bertemu anak sebelum matahari muncul dan setelah matahari jauh terbenam. Tentu saja ada yang namanya akhir pekan. Apakah akhir pekan cukup? Tidak tahu saya, belum pengalaman sih.

Maka ketika suatu kali di toko buku saya lihat buku "Rumah Cokelat" karangan Sitta Karina (penulis Lukisan Hujan, dkk itu lho) dan baca sekilas sinopsisnya, saya jadi tertarik.

Rumah Cokelat bercerita tentang Hannah, seorang ibu muda berusia di akhir 20-an yang sedang sibuk-sibuknya meniti karir. Si anak, Razsya, yang berusia 20 bulan pun diasuh oleh neneknya dan Upik, pengasuh yang usianya baru 16 tahun. Sementara sang nenek sudah tua dan tak lagi gesit, maka Razsya lebih banyak bersama Mbak Upik.

Mbak Upik adalah orang yang memandikan, memberi makan, menemani bermain hingga mengajari dengan menggunakan flashcard yang telah disediakan sang Ibu. Mbak Upik juga yang pertama mengetahui dan dengan telaten mencatat bahwa Razsya alergi pepaya, Razsya harus selalu pakai body lotion karena kulitnya kering, kepala Razsya suka gatal kalau pakai shampo tertentu dan lain-lain. Bagi Hannah, Mbak Upik adalah malaikat penolongnya. Hingga suatu hari dalam tidurnya Razsya bergumam bahwa ia menyayangi Mbak Upik. Hannah pun merasa insecure.

Rumah Cokelat bercerita bagaimana Hannah mencoba merebut perhatian dan kasih sayang putranya kembali. Karir bukanlah godaan tunggal bagi Hannah. Sebagai wanita modern, Hannah masih mau kongkow-kongkow dengan teman-temannya, ngopi-ngopi di mall, belanja online, baca majalah People dengan tenang, hingga menyalurkan hobi melukisnya. Apalagi ada Smitha, sahabat karibnya yang berjiwa bebas dan hobi keluyuran meski sudah punya satu anak kecil. Di sisi lain ada Mbak Ria Sugono, tetangganya yang "militan ASI", yang rajin menyindir Hannah tentang caranya mendidik anak. Sementara itu sang nenek, Eyang Yani, yang awalnya diamanahi untuk menjaga Razsya, lebih banyak memanjakan daripada mendidik sang cucu, melonggarkan aturan-aturan yang telah dibuat Hannah dan Wigra, suaminya, terhadap sang anak.

Kisah ini menarik buat saya karena mengangkat konflik ibu-ibu muda metropolitan. Topik yang belum pernah saya baca sebelumnya. Bahasa dan alur ceritanya juga mengalir enak, seperti buku Sitta Karina yang lain. Saya rekomendasikan buku ini terutama untuk wanita-wanita yang bercita-cita punya karir dan anak suatu hari nanti. Bukunya tidak terlalu tebal hanya 226 halaman, bisa selesai dibaca sepanjang sore sambil tidur-tiduran. ;)

**

Anak-anak dan babysitter. Pemandangan di jalanan membuatnya miris. Masih mending kalau ini hanya berlangsung di pagi hari. Di siang hari saat si anak makan, si mbak lagi yang nongol keluar. Bahkan saat bermain sore! Seolah-olah bermain di luar, terkena sinar matahari langsung, hanya berlaku untuk si anak dan si mbak saja.

Bagaimana mungkin sampai Razsya berpikir demikian? Karena intensitas mereka bertemu yang kurang? Karena Upik selalu berada di sisinya, sedangkan ia tidak? Tidakkah Razsya mengerti bahwa perempuan muda ini hanya pengasuh sementara dan ia -- ia adalah ibunya? Sosok yang akan selalu ada, mendampinginya tumbuh; saat naik sepeda pertama kalinya, saat bergabung dengan tim olahraga pertama kalinya, bahkan saat Razsya menemukan tambatan hatinya?
Tapi, Razsya selalu merasa kehadira dirinya, perhatiannya kurang. Lantas, apa yang salah, apa yang sebenarnya kurang?

(Rumah Cokelat - Sitta Karina)



Apr 25, 2012

Souvenirs


What was one thing in my wedding that made me really happy?

Oh, there were some and I couldn't choose one. One of them was having my best friends got excited helping me getting through the process. From cloth to waxing, manicure to guest books, pep talks to sari tilawah. Somehow I have been saved from insanity. Some of my besties couldn't attend the wedding but I know they hardly wish they could. 

I once read a quote that sounds something like this: a true friend is sad when you're at the bottom and happy when you're at the top.

I am very happy that they are happy for me. :)

Plus, I got the sweetest birthday present one week before the wedding here. :D




Some people are missing, but you know I love you. 
xoxo


The Other Blog

Dear all, This blog is not going to be updated often as I have created another one at www.floresianay.wordpress.com which will be focusi...