Oct 31, 2010

Lamunan Jalanan Pohon Jati

Ini adalah salah satu kebiasaan saya yang telah berulang kali diprotes oleh adik perempuan saya. Ketika saya berada di mobil, tidak menyetir, saya tidak akan memperhatikan jalan. Saya tidak akan ingat berapa lampu merah yang terlewati, apakah di perempatan terakhir kami belok kiri atau kanan atau terus atau putar balik, apakah gedung tinggi eksentrik telah dilalui, pendeknya saya bengong, melamun. Inilah mengapa saya sulit menghapal jalan. Dan ini jugalah yang seringkali menjadi akar pertengkaran saya dan adik perempuan saya.

Bukannya saya tidak berniat ya. Beberapa kali saya telah meniatkan diri kok, kali ini saya akan memperhatikan jalan! Namun 10 menit kemudian saya akan menemukan diri saya gelagapan karena kok tiba-tiba saya sudah ada di dunia lamunan? Dan ketika kembali ke dunia nyata, saya sudah sudah tidak tahu lagi ada di belahan dunia mana saya ini.

Hal ini terjadi tak terkecuali, bahkan lebih-lebih, dalam sebuah perjalanan panjang. Ketika saya melewati jalanan dua jalur yang panjang, dimana kanan kirinya pohon-pohon jati tinggi menjulang (sekarang sebagian besar sudah ditebang dan berganti pohon-pohon kecil). Ini bukan di Jakarta tentunya. Tidak usah berharap banyak. Setiap kali saya melewati jalan ini, lamunan saya akan melayang ke sebuah cerita yang saya dengar beberapa tahun lalu. Juru ceritanya seorang wanita sepuh berusia hampir 80. Ceritanya tentang masa lalu, ketika Indonesia baru merdeka kurang lebih 3 tahun.

**
Hari itu adalah hari Lebaran. Hari besarnya umat Islam, dirayakan dimana-mana sebagai penutup bulan puasa. Tak terkecuali di sebuah desa kecil di tengah pulau Jawa. Kalau menutup mata saya dapat membayangkan suasananya. Dingin, sejuk, orang-orang berbondong-bondong menuju balai desa atau mungkin masjid atau musola dengan pakaian terbaik yang mereka miliki. Tidak bagus mungkin, apalagi rapi, tapi lebih baik daripada pakaian yang mereka pakai sehari-hari. Saya tidak tahu persis sih. Seperti saya bilang, ini hanya bayangan saya.

Orang-orang desa, sepanjang saya perhatikan, merayakan Lebaran dengan lebih ‘meriah’. Bukan berarti pakaian mereka lebih indah, kue nastar mereka lebih banyak, angpau mereka lebih besar atau apa. Tapi terlihat lebih niat. Ya, itu kata yang benar. Mereka memaknai Lebaran sebagai hari yang sangat spesial. Mungkin karena tak banyak hari spesial yang mereka punya dalam setahun. Ini hanya pengamatan saya saja lho.

Kembali ke lebaran sekian puluh tahun lalu. Kali itu lebaran tidak berakhir dengan sukacita, meskipun awalnya demikian. Pada masa itu Jepang sudah angkat kaki dari Indonesia. Yang kembali adalah tentara Hindia Belanda di bawah bendera KNIL.

Usai shalat Ied, usai makan ketupat, kira-kira setelah Dzuhur terdengar 2 kali tembakan. Belanda akan datang. Konon, mencari seorang bernama Hizbullah(atau semacamnya) yang telah getol melawan Belanda. Para laki-laki buru-buru disuruh kabur ke gunung oleh warga desa. Tak terkecuali ketua desanya yang kebetulan juga anggota Masyumi. Dibekali uang 20 talen uang 25 sen oleh istrinya, kaburlah si ketua desa bersama para laki-laki lain.

Menjelang sore Pak Ketua Desa malah kembali ke rumah. Tak tega ternyata hatinya meninggalkan istri dan anak-anaknya. Apalagi anak bungsunya baru berusia satu bulan. Dikembalikannya 20 talen uang 25 sen kepada istrinya. Untuk makan di rumah, ia bilang.

Saat itu Belanda sudah masuk desa. Tembakan terdengar dimana-mana. Sudah terkepung dan tak ada jalan keluar. Digiringlah Pak Ketua Desa bersama 51 pria desa lainnya ke bawah sebuah jembatan kecil di pinggiran desa tersebut. Dari atas jembatan tentara Belanda memberondongkan pelurunya. Bau mesiu merebak, tak lama bercampur juga dengan bau anyir.

Pak Ketua Desa yang sekarat digotong kembali ke rumahnya. Tidak mengerti saya siapa yang menggotong, mungkin warga desa lain yang lolos dari pembantaian. Kakinya sudah patah dan peluru-peluru sudah bersarang di badannya. Konon, 16 butir peluru.

Pak Ketua Desa pun meninggal tak lama setelahnya. Demikian juga 51 orang yang diberondong peluru di bawah jembatan sore itu.
**

10 tahun setelahnya si anak sulung Ketua Desa, yang di saat kejadian masih berusia 12 tahun, menikah dengan seorang pemuda yang ditemuinya di Purwokerto namun ternyata juga berasal dari desa yang sama. Setahun setelahnya ia melahirkan anak pertama, yang disusul anak kedua dan ketiga.

Beberapa tahun lalu, puluhan tahun setelah kematian bapaknya, ia menceritakan kisah ini kepada saya. Kisah yang mengingatkan saya bahwa penjajahan itu nyata, bukan hanya dongeng karangan yang melegenda. Kisah yang saya lamunkan setiap melewati jalanan dua jalur yang panjang, dimana kanan kirinya pohon-pohon jati tinggi menjulang. Jalanan yang saya lewati setiap kali saya akan berkunjung ke rumahnya.


2 comments:

  1. me too. Gw kalau jalan pasti ngelamun atau bengong. Jadi ga pernah hapal jalan sebelum 10 tahun melewati jalan yang sama hihi..

    ceritanya bikin sesak-sesak di dada gitu Min.. *drama*

    ReplyDelete
  2. tuh kan mbak yasmin, pasti udah ga tau lagi deh kita lagi dimana. tukang ngelamun ih :p

    ReplyDelete

Humor me. Drop some comment.

The Other Blog

Dear all, This blog is not going to be updated often as I have created another one at www.floresianay.wordpress.com which will be focusi...