Feb 20, 2011

For Free!

Last Saturday, as usual, I spent the day with bf. After had (very late) lunch at Pizza e Birra and shopped some groceries at Menteng Huis, we went to Glodok Elektronik (GE) in Sarinah because he wanted to buy some lamp.
I had never been to this place before but bf mentioned this place several times and he told me that he could find almost everything there. As I walked into the place, I knew what he meant. I found televisions, stereos, digital frames, kid's toys, kid's school bags, mosquito rackets, cute paper bags, etc. And at the back of the store I even found a popcorn machine.

But this is not the "wow" thing.

As I starred at the machine, bf casually said, "you can have the popcorn if you want. It's for free". I cracked a smile. Bf is a funny man and he likes to make jokes. "Seriously", he added. Oh, he insisted, which made me chuckle.
But apparently this time he was no joking.

Read this.


I can felt my jaw dropped.
And not just the popcorn, the store also provide free pastries and sausages, and some drinks. Lime, lemon tea, they even have a Nestle machine (what is the name for this thing, actually??)!!


Is it really working?, I was wondering when I looked at the Nestle machine. Maybe this is only for display, who knows?
So I took one plastic cup, put it in the machine and pushed "Milo". And it worked!!



I got my hot Milo for free!!
The only thing you should remember is that you may not take more than one plastic cup. I think it doesn't matter if you reuse your cup for different drinks.

As these were not fascinating enough, bf put a cherry on top, "sometimes they even put some things in the corner for the customers to bring home, for free".

Seriously, who the hell gives away things for free in Jakarta??

It's a "wow", right?

Feb 14, 2011

Shape up!

Di living room rumah saya, Mama memasang kaca di belakang samping kiri dan kanan TV. Lebarnya masing-masing sekitar satu meter kurang sedikit dan tingginya sampai langit-langit. Jadi sembari menonton TV, kalau saya duduk agak menyamping, saya bisa nyambi ngaca-ngaca.

Suatu malam minggu lalu, sambil menonton TV saya bisa menangkap bayangan saya di kaca. Iseng-iseng saya menggoyang-goyangkan kaki saya.
AAAAAAA.... saya menyaksikan pergerakan daging saya menggelonyor-gelonyor seperti agar-agar.

Baiklah, mungkin ini benar-benar saatnya saya berkomitmen pada olahraga rutin dan mendaftar di gym. Niatan yang sudah tertunda dari tahun lalu, atau bahkan beberapa tahun lalu kalau dihitung sejak pertama kali ide tersebut terlintas di pikiran saya.

Saya pun browsing-browsing di Internet. Mencari gym yang lokasinya dekat dengan kantor saya. Ada dua yang saya temukan: Fitness First di Sency dan Celebrity Fitness di fX.
Dua-duanya VIP club! Sial. Sial. The downside of working in an elite area.

Adik dan Mama saya sudah lebih dulu bergabung dengan Celebrity Fitness yang di Metropolitan Mall Bekasi. Aduh, tapi kayaknya nggak mungkin deh saya menyempatkan datang kesana kecuali weekend. Jadi kalau saya memang mau ikutan gym, memang seharusnya saya cari yang dekat kantor.

Tapi saya putuskan tak apalah melihat-lihat saja. Mana tahu darisitu saya bisa tahu kalau ada alternatif tempat lain yang juga tak jauh dari kantor. Maka saya datanglah ke Celebrity Fitness hari ini, dengan niatnya.

Seperti biasa, saya disambut seorang sales yang menjelaskan soal fasilitas yang ada, diberikan tur meliahat-lihat ke dalam gym, dan bahkan dites kondisi fisik (ternyata saya underweight, dan harus menaikkan 4 kg lagi supaya bisa normal). Usai lihat-lihat masuklah ke penawaran harga.

Ahak.
Sudah saya duga, harganya selangit. Kekekekekek.
Registration fee-nya saja 2 juta. Plus biaya administrasi 231 ribu. Plus tiap bulanan ada fee yang uhuy mahalnya.
Mulailah saya mengeluarkan jurus-jurus untuk kabur darisana. Saya pikir-pikir dulu ya Mas... Saya pengennya yang regular aja sebenernyaaa.... Saya cuma lihat-lihat aja kok hari ini...

Lalu si Mas ini memanggil orang lain yang tampaknya dari bagian finance atau apalah. Si Kokoh finance ini pun menjanjikan akan memberikan diskon menarik blablablablabla. Haduh, saya masih ingin kabur....
Sampai si Kokoh menjabarkan soal diskon-diskonnya.
Registration fee jadi hanya 50 ribu (where the hell the other 1.95 mios goes?). Biaya administrasi gratis. Dan potongan 50% untuk fee bulanan selama 13 bulan.

Next time I know, I handed them my card and I officially join to the club.

Di jalan pulang saya pikir-pikir sinting juga ya saya tiba-tiba ikutan gym di saat kerjaan dan ReadingWalk lagi sibuk-sibuknya. But, this is important, right?? (mencari dukungan)
Being healthy and have a goop shape are important. (menyemangati diri).
This is definitely a primary need. (masih menyemangati diri)

Go me.


Feb 9, 2011

Life As We Know It

I was having an exhausting week in Perth. I'm not gonna tell you how worked late every nite or how I had my breakfast while still doing my work. Not interesting and not proud of it.

Pokoknya sampailah akhirnya saya di pesawat yang akan membawa saya dari Perth ke Bali dimana saya akan menyambung penerbangan ke Jakarta. Mungkin saking lelahnya saya, sampai-sampai saya tak bisa tidur di perjalanan. Untunglah pesawat Garuda yang ini dilengkapi dengan fasilitas tv/video untuk tiap penumpangnya.
Ihiy!

Pilih pilih pilih. Akhirnya saya putuskan untuk menonton Life As We Know It. Komedi romantis adalah film yang paling tepat ditonton di saat lelah dan di saat saya butuh pure hiburan.


Life As We Know It bercerita tentang Holly (diperankan Katherine Heigl) dan Messer (diperankan Josh Duhamel) yang tidak saling menyukai meskipun mereka berada dalam lingkaran pertemanan yang sama. Jelasnya, sahabat Holly menikah dengan sahabat Messer. Kencan pertama hasil perjodohan berakhir dengan kacau balau bahkan sebelum dimulai. Sejak itu, Holly dan Messer selalu berada pada sisi yang berseberangan.

Hingga, pada suatu hari, sahabat mereka ini meninggal dalam kecelakaan dan menyerahkan pengasuhan anak mereka, Sophie (yang adalah anak baptis dari Holly dan Messer) kepada dua orang yang saling anti satu sama lain ini.

Intrik benci jadi cinta memang sudah jutaan kali disuguhkan di berbagai cerita sepanjang jaman. Yang paling menarik buat saya justru ketika film ini bercerita tentang bagaimana Holly dan Messer yang aslinya masih single harus beradaptasi dengan kehadiran seorang bayi dalam kehidupan mereka.

Ya ampun, kebayang ga sih?
Tidak bisa lagi keluar rumah sewaktu-waktu. Harus siap siaga setiap waktu. Bahkan di saat-saat sedang makan malam sama kecengan pun bisa tiba-tiba ada panggilan mendadak karena si bayi demam. Forget about watching your favorite tv shows, ketika si bayi ingin nonton acara anak-anak, apa mau dikata harus mengalah. Biarpun yang akan kita tonton adalah episode terakhir Grey's Anatomy, atau final World Cup.

The baby becomes the center of your world. Dan (sayangnya) tidak seperti pacar atau teman atau bahkan mungkin pasangan hidup, si bayi ini tidak bisa ditinggalkan karena dia tidak bisa hidup sendiri. She completely depends on you.

I like this movie. Well, iya sih in general masih mengusung ke-klise-an yang sama dengan film-fil, komedi romantis lainnya. Tapi tambahan faktor anak ini memberi pengaruh baru yang menyegarkan. Kalau buat saja yaa.

Sayang, Katherine Heigl lagi-lagi terjebak di karakter yang mirip-mirip dengan yang dia perankan di 27 dresses dan The Ugly Truth: a perfectionist insecure woman.


Feb 6, 2011

Princess Diaries, the last piece

First time I read Princess Diaries was when I was in high school, or junior high. I had the series from the 1st book to the 4th and fell in love with Michael Moscovitz character. Well, you know, I was still, like people say, ABG labil back then.

After the 4th book, I lost my interest. The story became too complicated to follow, and Michael's part was not so much anymore, so I gave up. I also thought, it's time to read some more mature books (read: the ones which will make me proud if I was caught dead while reading them).

Then, few weeks ago, I was on my to
TS's office in Perth. I decided to walked a little bit before taking a bus. Then I passed some kind of book store (I think), where they put a big big "BIG SALE. EVERYTHING MUST GO" banner on the window. The next thing I knew, I was already inside the store, choosing some books.

Oh, then I found this book:

You see the writing at the very top of the cover page? Yeah, "The LAST book". Here it is, I thought, the last series of Princess Diaries.
And it was only for.... wait for it... 6 dollar!!

So I bought it. For old time sake, I thought.

Aaaaand, you know what... I enjoy the book so much!
Beside the fact that Michael is a big part of the story, it also really helped me relax my mind after one crazy week full of work. It is fun, light, and hilarious.

Mia, the Princess, seems to be way more fashionable than the last time I remember from the 4th book. But still, the clumsiness and paranoia are big parts of her.
Even though I skipped like 3 or 4 books, and yeah at some points I didn't understand how some things had changed a lot (like in the last book, Lana is a best friend of Mia. The last time I remember, she was the biggest nemesis of her...), but in general I could follow very well.

After I read it, I was happy. And that's what Chicklits are for, right? :)
Hail to all the people who write Chicklits!

Planning

Hey!

Duh, kelamaan nggak nge-blog. Masih ada yang baca blog saya ga ya? Hihi.

Belakangan ini waktu terasa sempit sekali. Nge-tweet pun sudah jarang sekali. Sebagian besar waktu sadar saya digunakan untuk kerja kerja dan kerja.
Yea, kerjaan di kantor sedang lumayan menggila beberapa bulan terakhir ini. Membuat saya mesti menatap laptop hingga larut malam, kadang pagi (yang mana tampaknya membuat mata saya minus lagi. I blame you for this, TS!!).

Di waktu-waktu senggang, saya tak sanggup lagi memacu pikiran untuk drop some lines di blog. Biasanya saya habiskan dengan nonton TV (AMTM, Law & Order, HIMYM, etc.). Atau pacaran! Yak, pacaran itu sehat tau! Ihihihi.
Kalau saya sedang lebih bersemangat, saya browsing-browsing beasiswa S2 di Internet. Sudah saatnya urusan sekolah ini dibereskan. Kalau terlalu lama digantung, bisa-bisa malah nggak akan kejadian.

Jadi yang saya kerjakan sekarang, kalau tidak sedang menjadi budak perusahaan, nonton TV, atau pacaran, adalah merenung (kesannya mikir sambil duduk di toilet...).
Merenungkan nantinya rencana ke depan bagaimana. Saya sudah putuskan, insyaAllah, saya akan mulai kuliah lagi tahun ini. Kalau tidak dapat beasiswa penuh ke luar negeri, saya mau ambil di UI saja. For each scenario I should prepare a plan. So, now I'm making some good plans. (Ihiy, now I do sound like a Planning Analyst. Kekekekek.)

Skenario terbaiknya adalah full scholarship to study abroad. Oh, that would be great. Travelling, master degree, experiences, all on someone else's nickels. Hahah.

Pun, skenario kuliah di UI is not less exciting. Karena dengan berada disini, saya tak perlu jauh-jauh dari my loved ones, dan saya bisa mencari pekerjaan yang fleksibel with less pressure (than what I have now).

In general, mempertimbangkan semua untung rugi dari implikasinya, keduanya sama baiknya dan sama excitingnya. The best thing is that any of these plans will take me to a new chapter in my life. I'm (finally) going to start getting my master degree. Sebuah target atau milestone akan segera saya (proses untuk di-) capai.

I will keep you posted. Promise. :)

The Other Blog

Dear all, This blog is not going to be updated often as I have created another one at www.floresianay.wordpress.com which will be focusi...