Oct 30, 2007

saya, kemarin

Kemarin adalah hari sibuk dan superrr melelahkan buat saya.
Ini gara-gara ada pengumpulan tugas-tugas seperti Laporan Kerja Praktek dan tugas Perancangan Tata Letak Pabrik (PLO) dari Pak Anas. Pluss, progress modul 6 PLO berupa ARC. Pluss, UTS Komunikasi Profesional.

Saya menginap di kosan Nadya malam sebelumnya lantaran minta diajarkan bahasa Perancis. Soalnya minggu kemarin saya bolos satu pertemuan CCF. Daripada nanti cengo di kelas, mending saya kejar dulu bahan kemarin, begitu menurut pemikiran saya.

Pagi-pagi, saya dan Desti (teman sekamar saya) pulang. Kenapa jadi ada Desti di kosan Nadya?
Itu karena Desti juga menginap di sana. Tapi bukan di kamar Nadya melainkan di kamar Galuh,
demi mengerjakan PLO.

Nah, jadi saya pulang ke rumah sekitar jam 7 lewat dikit. Sebelumnya mampir dulu ke Dipati Ukur untuk mengambil laporan KP kami yang baru dijilid terus beli kupat tahu dulu untuk saya sarapan (yang akhirnya dengan sukses tidak saya habiskan).

Sampai di rumah, saya menimang-nimang laporan KP saya. Senangnya sudah selesai... Jadi terharuuu... Hiks...

Lalu saya pun membaca-baca lagi laporan tersebut sambil senyum-senyum sendiri. Lalu tiba-tiba saya menangkap suatu keanehan yang terlalu panjang kalau saya jelaskan disini.
Intinya, ada data yang salah ketik!

Wah, gimana ya? Ya sudahlah, pasrah saja. Toh belum tentu dosen pengujinya ngeh. Begitu pikir saya.

Namun, ternyata hidup memang tidak mudah. Setelah saya baca dan cermati lebih dalam, ternyata itu bukan sekedar salah ketik, tapi juga salah hitung!
Mampus!

Akhirnya, sekitar jam 8 kurang, saya print ulang 2 halaman yang salah tersebut. Kemudian saya tergopoh-gopoh ke kamar teman saya untuk meminjam cutter. Setelah di potong pinggir kanan dan bawah, kemudian di tempel dengan double tape hasil perhitungan yang salah itu pun hilang tak berjejak.

Hore...

Karena penasaran, kok bisa-bisanya saya salah, saya lihat lagi data di komputer. Ternyata saya menemukan kenyataan yang sempat membuat saya lemas seketika. Hmm.. tapi tidak akan saya kasih tahu disini ah. Mana tahu ada dosen yang baca-baca blog saya. Hehe.
Tapi sudahlah, kesalahan itu saya yakin insyaallah tidak akan ketahuan. Amin.

Menjelang setengah 10, saya buru-buru mandi biarpun Desti menyarankan untuk absen mandi saja pagi ini. Tapi saya tidak mau ah. Daripada nanti waktu ujian nggak konsen gara-gara badan saya gatal. Oya, kekhawatiran Desti ini cukup beralasan mengingat waktu ujian kami adalah jam 10. Saya mandi secepat kilat, bersih tidak bersih yang penting kalau ada yang nanya saya bisa bilang saya sudah mandi.


Jam setengah 10 saya siap. Tapi saya tidak langsung berangkat ke kampus. Soalnya Nisa baru datang dan mau mengerjakan tugas PLO Pak Anas yang saya sebutkan tadi. Mengisi waktu kosong sementara Nisa mengerjakan tugas nya (dibantu Desti), saya berusaha mereview ulang bahan ujian.

Akhirnya, sekitar jam 10 kurang 15 kami ngebut ke kampus. Untungnya tidak telat.
Selama 105 menit kemudian, saya pun berusaha mengerjakan soal-soal ujian. Hanya satu kata : bingung.

Selesai ujian, saya pun mengumpulkan tugas PLO dan kembali ke rumah. Karena tidak membawa mobil, saya pulang naik angkot. Selama perjalanan, hanya satu hal yang memenuhi pikiran saya...

**

Begini, kira-kira beberapa waktu lalu, ISENG-ISENG saya menanyakan kepada salah seorang teman, "Gimana lo sama si X (nama pacar teman saya)?".
"Baik baik.."
"Kapan nih nikahnya", sekali lagi saya tegaskan bahwa saya menanyakan itu hanya untuk ISENG. Namun ternyata pertanyaan iseng itu punya jawaban serius,
"Paling cepet setelah wisuda Juli depan"
Hah??
"Eh, lo beneran udah mau nikah?", saya tak menyangka akan mendapat jawaban seyakin itu.
"Hehe. Doain ya. Tapi rencananya sih 2009, paling cepet ya Juli 2008".
OMG.

Nah, kejadian tersebut sudah lewat beberapa minggu lalu. Kemudian beberapa hari kemarin, di sela-sela gladi resik wisuda, saya mendapat kabar dari teman saya yang lain.
"Eh, lo tau gak si Z (nama teman saya yang mau nikah 2009) kan mau nikah"
"Oh iya, waktu itu dia bilang. Katanya paling cepet setelah lulus" saya merasa senang karena bisa terkesan up to date.
"Bukannya mau bulan Mei?"
"Hah? Masa? Siapa yang bilang?" saya mulai merasa out of date.
"Dari...."
Pembicaraan selanjutnya tidak saya tulis karena menyangkut kepentingan banyak orang terutama para agen suplai gosip yang sedang menyamar.


Nah, kemarin itu, saya tidak sengaja bertemu teman saya itu (yang tadi kita namakan Z). Saya langsung tembak saja, "Eh denger-denger mau nikah bulau Mei?"
Yang ditanya kemudian nyengir lalu menjawab, "Hehe. Ya doain ya Min". OMG.
"Lho, berarti sebelum lulus dong?"
"Iya"
"Oh, gitu ya... Udah mulai bikin persiapan dong?"
"Ya, tapi sebelumnya kita harus menghadap ke orang tua dulu"
"Oooh... Jangan lupa undang gue ya", saya tak tau lagi mau ngomong apa.
"Pasti pasti. Lo harus dateng!". OMG.

**

Nah, hal tersebutlah yang kemudian menggelayuti pikiran saya selama beberapa jam setelah selesai UTS. Sejak naik angkot, turun di gang plesiran, mampir beli makan siang dan jus tomat, minum jus tomat sambil melanjutkan perjalanan, sampai di kosan, nyuci baju, makan siang, jemur baju, sampai menjelang tidur siang.

Dulu waktu sepupu saya yang lebih muda menikah, saya mengerti karena ia dibesarkan di desa nenek saya dimana orang-orang disana cenderung untuk menikah muda. Ketika teman saya yang lain menikah, saya mengerti karena toh dia 3 tahun di atas saya lagipula calon suaminya sudah cukup matang a.ka berumur.

Tapi teman saya yang si Z ini, dia seumur dengan saya. Malah lebih muda dia beberapa bulan. Dia juga dibesarkan di Jakarta seperti saya. Calon suaminya pun setahu saya hanya satu tahun di atasnya.

Dulu beberapa tahun yang lalu saya kadang suka main sama dia. Saya masih ingat dulu dia cerita tentang mantan pacar SMA nya, orang yang mendekati dia saat itu (dan orang itu bukan calon suaminya sekarang), dll. Entah dia ingat atau tidak, dulu kami pernah belanja di Superindo berdua. Yang dibeli ya barang-barang instan khas anak kos. Ternyata sekarang dia sudah mau menikah. Wah.. saya tak tahu mau ngomong apa.

Ada rasa senang, tapi juga ada rasa skeptis. Kok bisa ya? Kenapa mesti secepat itu sih? Memang nggak pengen seneng-seneng sendiri dulu? Memangnya sudah yakin benar? Bukannya baru satu atau dua tahun ya pacarannya? Pertanyaan-pertanyaan yang tentunya tidak berani saya tanyakan langsung kepada si Z. Mungkin benar seperti yang Novi dalam blog nya, time doesn't measure. Siapa bilang usia muda berarti belum siap menikah? Siapa bilang satu dua tahun pacaran belum cukup untuk memutuskan menikah? Toh saya tak tahu apa yang terjadi dibalik proses tercetusnya rencana menikah ini.
Biarpun saya juga bukan orang yang bercita-cita menikah (terlalu) muda. (Haha. Kalau ini mah karena belum ada calon nya aja! *kidding)

Tapi teman saya yang satu ini memang penuh kejutan. Saya berharap dia mendapatkan yang terbaik.


Saya semakin mengantuk. Akumulasi dari kelelahan selama gladi resik dan hari H wisuda. Capek tau berdiri selama satu jam lebih sambil berkonsentrasi pada para wisudawan yang sedang bersalaman dengan rektor. Saya dituntut untuk mengabadikan semua momen tersebut. Biarpun pada akhirnya ada juga sih yang lewat dan jauh dari sempurna (maaaaffffff sekaliiii....).


Saya pun tertidur.

worse!!

My English is getting worse. Oh God, I even don't remember when I have to use 'had' or 'have had' or 'verb+ing'. In fact, I don't even know wheter I am writing right grammars now.

When I was in high school, I took English course in ILP. It didn't last for long (only for 3 terms) because I was getting bored (Is it right? Or I should write 'I got bored'?).

Several weeks ago I bought Newsweeks and I found it was very difficult to me to understand the articles. Then I try to read Globe. It was easier, maybe because it was written by Indonesian journalist. But still, every time I go to international site, I don't think I really understand what the sites saying (Again, is it right to put 'saying' after the subject without 'to be'?)

I do I do I do envy people who can speak English very fluently without thinking before they say it or write it.
Uh!

Oct 20, 2007

mati

Rasanya baru saja saya melintas di depan taman itu bersama teman-teman. Membicarakan seseorang yang beberapa waktu lalu meninggal di tempat tersebut.
Rasanya hanya dalam hitungan jam yang lampau saya duduk di meja itu, membicarakan tugas yang harus saya dan teman-teman selesaikan.
Rasanya, baru beberapa menit yang lalu saya berjalan di antara lorong-lorong buku di perpustakaan.

Dan sekarang, saya mendapati diri saya telah menjadi ruh tanpa raga. Ada yang bilang saya sudah meninggal. Entahlah. Soalnya, saya tak ingat bagaimana saya meninggal. Kapannya pun saya tak tahu pasti. Yang jelas baru-baru ini. Karena saya masih dapat melihat dunia yang berjalan saat ini masih sama keadaannya dengan terakhir kali saya hidup.

Sudahlah. Sejauh ini, kematian saya ini belum menjadi persoalan besar buat saya. Karena biarpun status saya sudah meninggal, arwah saya masih bebas pergi kesana kemari. Sudah begitu, orang terdekat saya juga masih bisa merasakan kehadiran saya, bahkan mereka masih bisa melihat dan mengobrol dengan saya.
Begitulah, keadaan saya saat ini tidak terlalu beda jauh dengan keadaan ketika saya masih hidup. Saya bahkan masih tetap mengerjakan tugas-tugas kuliah saya lho. Soalnya saya kan tetap mau diwisuda Juli nanti.
Oya, saya juga masih bisa mengendarai mobil saya. Seperti saat ini. Saya sedang melaju menuju rumah orang tua saya.
Namun di tengah perjalanan saya teringat, sepertinya saya belum shalat Ashar tadi. Saya kemudian singgah dahulu ke sebuah mushola. Shalat, sekalian istirahat dulu, pikir saya.
Begitu masuk ke mushola, ternyata ada orang lain yang sedang memakai mukenanya. Ya sudah, saya tunggu saja di pojok ruangan sambil baca-baca. Namanya juga mushola, jadi bacaan yang tersedia ya Al Qur’an.
Begitu membuka halaman pertama, tiba-tiba kalimat yang pernah berkali-kali diucapkan guru dan orang tua saya terlintas di kepala.
Putus amal ibadah orang yang telah meninggal kecuali 3 hal : ilmu yang bermanfaat, amal jari’ah dan doa dari anak saleh.

Saya tersentak. Kaget luar biasa. Rasanya seperti disiram air es di sekujur badan. Saya kan sudah meninggal… Artinya, amal ibadah saya saat ini tidak akan diterima lagi?! Saya belum pernah mengamalkan ilmu yang bermanfaat, saya tak punya amal jari’ah dan saya juga belum punya anak! Artinya, tak ada maknanya lagi saya shalat Ashar sekarang?! Tak ada lagi artinya saya mengucap taubat sekarang?! Saya akan membawa dosa sebanyak ini dan pahala sesedikit ini hingga kiamat nanti?!
Tidak! Tidak! Saya belum siap! Saya belum berani mati sekarang! Saya belum sanggup menghadap Sang Khalik dengan nilai rapor seperti saat ini! Ah celaka, saya pasti masuk neraka! Ya Tuhan, mana sanggup saya menahan siksa nerakaMu!

Saya merasakan gelombang kekalutan menjalari tubuh saya. Saya berdoa, saya berteriak, saya belum mau mati sekarang! Saya tidak berani menghadapi siksaanMu, ya Allah!
Saya segera lari sekencang-kencangnya menuju rumah orang tua saya. Saya butuh solusi. Harus ada solusi dari semua ini.
Percuma.

Orang tua saya hanya dapat memandangi saya dengan raut sedih. Saya menangis dan meraung sekuat-kuatnya. Berharap Tuhan akan iba pada saya dan menghidupkan saya kembali. Paling tidak berilah saya waktu 1 atau 2 tahun lagi. Banyak utang dan janji yang belum saya lunasi. Berjuta maaf yang belum sempat saya sampaikan. Dan masih banyak banyaaaaak sekali dosa yang belum saya tebus.
Saya menangis dan menangis. Meskipun saya tahu ini tak ada gunanya. Saya kan sudah mati. Tak mungkin saya bisa hidup lagi. Tapi tak ada lain yang dapat saya lakukan. Shalat sejuta kali pun, saat ini tak akan menghantar saya lebih dekat kepada surga. Maka saya hanya menangis… tak berhenti…

**

Suara pintu dibuka membangunkan saya. Ya Tuhan, itu tadi mimpi!
Saya lihat jam di dinding, sudah pukul setengah 6 pagi. Sayup-sayup saya mendengar suara takbir menggema. Hari ini Idul Fitri. Hari ini, saya masih hidup sehat wal afiat.
Tak berani saya membuang waktu untuk segera shalat Subuh, mohon ampun. Mumpung sempat. Mimpi yang sungguh terasa nyata sekali. Saya bahkan masih dapat merasakan sesaknya dada ini karena menangis.
Saya jadi ingat perkataan seseorang dulu. Bersiaplah untuk kematian, karena manusia hidup untuk mati.

Oct 6, 2007

blog dari waktu ke waktu

Dilandasi keinginan untuk memanfaatkan jatah berinternet sebanyak-banyaknya sebelum ke Jakarta, pagi ini (atau subuh ini, tepatnya), saya berencana melanglang dunia maya.
Dan ternyata, bukan situs dari belahan dunia lain yang membuat saya terpaku di depan laptop. Saya justru keasyikan membaca postingan-postingan lama saya.

Kalau diperhatikan, ada proses transformasinya lho. Dilihat dari penggunaan kata ganti saja, dulunya 'gue; sekarang jadi 'saya'. Membacanya kembali membuat saya mengingat kejadian apa saja yang melatar belakangi sebuah posting. Rasanya seperti baru kemarin. :)

Dari beberapa postingan lama tersebut (2005 - 2006), saya pilih beberapa yang menurut saya lucu atau menarik.
  1. Postingan ini, entah kenapa agak banyak yang menanggapi (sayang nggak semuanya nulis di comment). Mungkin karena membahas soal HTS ya? Padahal saya juga bikinnya iseng saja, sampai-sampai tak saya beri judul. Hehe. Ternyata ada yang terpancing. Silakan baca disini.
  2. Ini postingan nggak jelas banget. Keliatan sih dari judulnya : fufufufu.... Ya ampun, apa coba maksudnya? Saya geli sendiri jadinya.
  3. Entah kenapa, saya suka postingan ini. Memang sih alurnya agak membingungkan. Jadi alur cerita dari postingan yang ini sebenarnya berjalan mundur ke belakang. Tapi di akhir cerita, kembali lagi ke depan. Yah gitulah. Bingung tak? Coba saja dibaca.
  4. Ini pengamalan pribadi saya naik angkot di Jakarta. Wuih, serem pisan. Membacanya membuat saya kembali lagi ke hari itu.
  5. Postingan pertama saya, 9 Januari 2005 (sudah lama juga ya?). Hihi. Jadi ingat, dulu bikin blog itu ikut-ikutan anak-anak Boulevard saja. Bingung bingung mau dikasih nama apa ya blog saya... Ya sudahlah pakai nama sendiri saja. Tapi memang ada alasan lain sih kenapa akhirnya memakai nama floresianayasmin.blogspot.com. Oia, jadi ingat juga, dulu judul blog saya itu Know Me Better. Kenapa begitu? Baca disini.

Yah, pokoknya begitulah kira-kira perjalanan blogging saya selama hampir 3 tahun ini. Dipikir-pikir, saya berterimakasih pada Boulevard yang telah mengenalkan saya pada dunia blogging.

:)

Buku : Travelers Tale, Barcelona : Belok Kanan!

Penulis : Adhitya Mulya, Alaya Setya, Iman Hidajat, Ninit Yunita.
Penerbit : Gagas Media

Buku ini mengisahkan empat orang sahabat yang tinggal di belahan Bumi berbeda.
Francis, keturunan Cina yang menjadi pianis, berkeliling dunia dari konser ke konser.
Farah, disebutkan sebagai campuran Arab-Jawa, bekerja di Hoi An, Vietnam.
Retno, yang dari namanya saya simpulkan sebagai orang Jawa, tinggal di Koppenhagen, Denmark.
Terakhir, Jusuf, tidak jelas ras nya, bekerja di Cape Town, Afrika Selatan.

Demi menghadiri pernikahan Francis di Barcelona, Spanyol, keempat sahabat itu pun bertolak dari tempat tinggal nya masing-masing. Yang menjadi persoalan disini adalah ternyata tiap orang memiliki perasaan terpendam terhadap yang lain. Francis yang cinta pada Retno. Farah yang cinta pada Francis. Jusuf yang cinta pada Farah. Dan Retno yang sesungguhnya juga cinta pada Francis namun tidak berani menerima perasaan Francis karena mereka berbeda agama.

Cerita dibangun dari masing-masing tokoh ini. Tiap tokoh mengisahkan ceritanya masing-masing secara bergantian.

Yang menarik dari buku ini, sepanjang cerita Anda akan disuguhi “suasana” berbagai macam negara. Mulai dari latar cerita Farah yang bergerak dari Hoi An, Amman, Buddapest, Wina dan Paris. Juga cerita Jusuf dari Cape Town, Nairobi, Abidjan, Dakkar dan Marrakech. Atau cerita Retno dari Koppenhagen, Amsterdam, Milan, dan Seville. Hingga kisah Francis dari Kansas City, Cleveland, Atlanta, Miami, dan New York. Semua perjalanan tersebut akan bermuara di Barcelona.

Di beberapa Negara pembaca akan diajak menelusuri tempat-tempat wisata berikut sejarah (sangat) singkat mengenai tempat tersebut. Bagi Anda yang suka traveling, buku ini bisa jadi bacaan yang menarik. Oia, saya katakan traveling, karena di buku ini dijelaskan perbedaan antara menjadi turis dan travelller. Turis cenderung bepergian untuk keperluan belanja dan menghabiskan uang untuk barang-barang. Sementara traveler bepergian untuk pengalaman dan menghabiskan uangnya untuk membeli pengalaman seperti naik gondola, atau ke tempat-tempat unik dan bersejarah.
Pada beberapa bagian, buku ini juga menyelipkan tips-tips traveling. Mulai dari tips barang bawaan, hingga pengaturan penempatan uang, kartu kredit dan paspor.

Ada satu bagian yang menarik dari buku ini. Yaitu ketika tokoh Jusuf mengunjungi patung pemain sepak bola di Senegal. Dijelaskan pada buku tersebut, patung itu dibuat dalam rangka memperingati masuknya Senegal ke perempat World Cup 2002. Jadi berandai-andai, kapan ya Indonesia bisa masuk perempat finalnya World Cup? Hehe.

Sayangnya, pada beberapa bagian, saya menemukan ketidaksinkronan antara alur yang satu dengan yang lain. Terutama antara cerita Francis dan cerita Retno. Misalnya, dari cerita Retno, saya menangkap kesan pertemuan mereka adalah di Starbucks La Rambla. Sementara menyimak cerita Francis, saya menangkap kesan lain : Francis dan Retno bertemu di tempat konser Francis dan bersama-sama menuju Starbucks La Rambla.
Selain bagian di atas, masih ada lagi bagian lain yang janggal. Tapi saya lupa yang mana. Ketidaksinkronan itu sampai membuat saya berpikir jangan-jangan salah satu dari mereka menderita delusi?

Memang, keempat orang ini melakukan perjalanannya masing-masing atas nama cinta. Namun, alasan mengapa mereka saling mencintai hingga bertahan sekian tahun pun tidak jelas.
Maka, jangan pula mengharapkan romance yang berlebihan disini. Karena memang tak ada yang istimewa dengan romansanya. Standar sajalah.

Dan tak salah diberi judul Traveller’s Tale, karena memang perjalanan merekalah yang menarik. Alur cerita jadi mengalir dengan enak. Karakter tokohnya pun sengaja dibuat berbeda. Terlihat dari bahasa kata ganti orang pertama yang digunakan masing-masing tokoh yang bervariasi dari saya, aku, gue hingga gua.

Secara keseluruhan, novel ini cukup enak dinikmati. Terutama untuk Anda yang suka traveling atau suka mendengarkan cerita traveling.




*
Tulisan ini sudah lama sebetulnya. Tapi belum sempat saya post. Saya belum pernah me review buku sebelumnhya (kecuali kalau tulisan saya tentang The Alchemist itu bisa disebut review). Hehe.. menurut Anda bagaimana?

The Other Blog

Dear all, This blog is not going to be updated often as I have created another one at www.floresianay.wordpress.com which will be focusi...