Aug 30, 2007

berita buruk

Pagi itu saya dalam perjalanan menuju kantor tempat saya Kerja Praktek. Untuk mengusir rasa bosan selama 45 menit menyetir, saya nyalakan radio : Prambors. Sebagai pengendara mobil yang baik, konsentrasi saya tetap pada jalan di depan saya. Sehingga suara-suara di radio tersebut tidak lebih hanya sebagai pengiring saja.

Namun tiba-tiba perhatian saya tercuri. Lantaran suara cempreng penyiar di radio berubah menjadi suara yang datar dan serius. Tak hanya itu, layaknya nada pembaca berita di Metro TV, penyiar tersebut berkata :

“… (saya lupa bagian awalnya) beberapa korban telah ditemukan…”

Penasaran tentang kejadian tersebut, saya pun mengencangkan volume radio.

..petugas masih terus mencari korban-korban yang lain..

Waduh, dimana lagi nih ada kebakaran?

..reporter kami melaporkan langsung dari tempat kejadian..

Eh, atau gempa bumi?
Saya semakin prihatin.
Berikutnya, terdengarlah suara reporter yang berada di lokasi kejadian. Suara sang reporter yang lantang di tengah suara dengung kekacauan sebagai latarnya berkata,
“Baik. Saat ini saya sedang berada di lokasi kejadian. Telah ditemukan rambut rontok dimana-mana. Korban rambut rontok ini masuh terus bertambah..

… [speechless]

Korban, petugas… RAMBUT RONTOK?!
After all the things that happened in this country, some people think that it might be fun talking hair fall ‘disaster’ in a very similar way the real anchors talking and the real reporters reporting about earthquake or flood or tsunami.
I swear that the voices were constantly in the flat tone until the end. You just need to replace the “rambut-rontok” word to “manusia” and it would be a perfect bad news.
It was really really reaaaaally not funny at all!
Don’t they have any relatives that being a real victim or read any articles about the real victim of those real disasters?

For the closing statement, this shampoo advertisement (I’m not really sure, but I think it was Sunsilk. Please correct me if I was wrong) stated a very persuasive sentence (to hate them, of course) :

Hentikan berita buruk!

At that very moment I just couldn’t help myself from saying : TAI!

Aug 13, 2007

Journey to Arab [part 2]

Mereka menyebutnya Madinnah Al-Munawarrah. Mulanya, saya tak mengerti apa maksudnya. Ya sudahlah, bukankah memang wajar kalau tiap kota punya julukan masing-masing? Seperti Bogor kota hujan, Bandung kota Kembang (beeeut…), atau Palembang kota... Pempek(??).

Saya tiba di Madinnah menjelang sore. Beruntung sekali, hotel yang saya tempati berada di depan masjid Nabawi. Saya katakan “di depan”, tapi bukan berarti tinggal ngesot untuk masuk ke dalam. Karena saudara-saudara, yang namanya masjid Nabawi itu gedaaaaa benerrrrrr.

Berbeda dengan Masjidil Haram di Mekkah yang nyaris tidak memiliki halaman luar, masjid Nabawi ini memiliki halaman yang luas. Dari pagar depan masjid hingga ke pintu masuk kira-kira berjarak sekitar 100 meter (hoho. Ini hasil perkiraan kasar saya).
Konon, kota Madinnah di masa Nabi Muhammad hijrah dulu ya masjid Nabawi ini. Dengan kata lain, kota Madinnah jaman dahulu kala sebesar masjid ini. Pada zaman khulafaur rasyidin (zaman kepemimpinan sahabat-sahabat Nabi), kota Madinnah kemudian diperluas. Seluruh kotanya dijadikan masjid, dan sekitarnya, ya dijadikan kota. Terbayang kan bagaimana besarnya masjid ini?

Begitu sampai, saya sudah tak sabar ingin masuk ke dalamnya. Kabarnya, masjid ini tergolong mewah. Benar saja. Belum juga masuk, saya sudah terkagum-kagum dengan pintunya. Pintu kayu besaaaar dengan ukiran berlapis emas. Masuk ke dalam, semua ruangan full AC. Ini juga yang membedakannya dengan Masjidil Haram yang lebih terkesan terbuka sehingga mungkin meskipun ada AC, jadi tidak telalu terasa.

Sudah ber-AC, lantainya marmer pula, jadilah masjid ini menjadi tempat yang sejuk sekali. Tidak kalah dengan Masjidil Haram, di masjid Nabawi pun kita masih bisa menikmati air zam-zam. Di semua sudut masjid terdapat tempat-tempat air berisi air zam-zam berikut gelas-gelas plastic di sampingnya. Air zam-zam ini langsung “diimpor” dari Masjidil Haram.

Sama juga seperti Masjidil Haram, disini pun terdapat petugas-petugas keamanan yang mengecek tiap pengunjung yang masuk. Dan karena di masjid Nabawi ini tempat laki-laki dan wanita terpisah (lagi-lagi ini berbeda dengan di Masjidil Haram dimana pintu masuk antara laki-laki dan wanita tidak dipisahkan), maka yang memeriksa bagian wanita pun petugas wanita juga. Memakai pakaian hitam-hitam dan bercadar, petugas disini tampak cukup galak. Yang jelas, lebih galak daripada satpam-satpam di mal.

Keistimewaan lain dari kota Madinnah adalah karena disinilah adanya makam Nabi Muhammad saw. Di sebuah tempat di dalam masjid Nabawi yang disebut dengan Roudlah. Sebenarnya tidak tepat begitu juga sih.
Jadi begini ceritanya. Dahulunya, ketika Nabi Muhammad saw masih hidup dan masjid Nabawi belum segedaaaa sekarang, Nabi memiliki rumah di belakang masjid. Antara rumah Nabi dan mimbar yang biasa dipakai Nabi Muhammad untuk berdakwah terdapat sebuah taman. Diceritakan bahwa Nabi Muhammad saw pernah bersabda bahwa diantara taman-taman yang ada di surga, salah satunya adalah taman yang berada antara rumahnya dan mimbarnya. Tempat itu lah yang kemudian disebut Roudlah yang saat ini sudah menjadi bagian dari masjid Nabawi. Makam Nabi Muhammad saw sendiri tidak jauh dari situ. Karena sesuai pesannya, Nabi Muhammad saw dimakamkan di rumahnya.

Roudlah ini tidak setiap hari di buka. Hanya pada hari tertentu dan jam-jam tertentu saja. Ramenya minta ampuuuun. Uniknya, dalam menghadapi massa yang demikian banyak, pihak keamanan masjid memiliki strategi sendiri. Sebelum pintu Roudlah dibuka, pengunjung diminta berbaris sesuai dengan Negara asal masing-masing. Setelah itu barulah tiap Negara mendapatkan gilirannya masing-masing. Tapi biarpun sudah diatur demikian, tetap saja selalu ada celah hingga keadaan menjadi rusuh.

Di daerah sekitar masjid Nabawi terdapat berbagai macam toko-toko. Ada yang menjual makanan, perhiasan, pakaian, mainan, sampai toko kelontong. Kalau mau berjalan sedikit, maka ada juga pasar yang menjual barang-barang dengan harga lebih murah. Bentuknya mirip-miriplah sama Pasar Tebet yang ada di Jakarta itu. Hanya saya pasar disini tidak sesesak yang di Tebet itu. Paling tidak masih ada ruang untuk bernafas.

Saya sudah bilang kan ya kalau masjid Nabawi itu gedaaa banget? Namun, entah mengapa, ketika waktu shalat tiba, keadannya tetap menjadi penuh sesak.Membuat saya bertanya-tanya ada berapa milyar orang sih di dalam sini? Hah, berlebihan sih. Nggak mungkinlah sampai milyaran, memangnya RRC? Tapi entahlah berapa jumlahnya, pastinya banyak sekali sampai penuh.Padahal, saya kembali mengingatkan… Masjid ini kan dulunya KOTA.

Pernah suatu kali saya tarawih di masjid bersama ibu dan adik saya. Sampai selesai shalat Isya, keadaan masih terkendali. Yah, paling-paling kesikut sana sini. Maklumlah, disana saya termasuk bertubuh kecil apabila dibandingkan wanita-wanita Arab dan Afrika (yes!).
Menjelang shalat tarawih, mulailah menjadi agak ricuh. Serombongan ibu-ibu Arab tiba-tiba mengambil tempat di depan saya. Membuat saya bertanya-tanya, dimana akan saya letakkan kepala saya ketika sujud nanti? Sebelum ibu-ibu ini datang saja saya hanya punya ruang sekitar 20 cm di depan saya. Itu saja sudah membuat saya jungkir balik melipat tubuh saya yang mungil ini saat sujud atau ruku’.
Ternyata benar saja, kehadiran para ibu membuat ruang sujud saya jadi limit mendekati 0 cm. Kecuali saya gadis plastic atau pemain sirkus, rasanya hampir mustahil jidat saya ini bisa menyentuh lantai.
Maka, selesai dua rakaat pertama, saya pun berniat pindah ke belakang. Saya cari-cari ke belakang, kok tidak ada tempat juga ya? Jangankan untuk shalat, untuk berjalan saja susah. Saya pun mulai agak panik. Mana shalat tarawih ronde kedua sudah mau mulai lagi. Saya terus berjalan ke belakang, berharap menemukan sepetak tampat kosong. Nihil.
Hingga akhirnya saya terdampar di halaman. Meskipun tidak penuh, di halaman masjid pun cukup banyak orang yang shalat. Ya sudahlah, shalat di halamannya pun tak apa.

Namun justru dengan berada di belakang itu saya dapat melihat keunikan lain. Di masjid Nabawi, dalam satu malam tarawih, biasanya dibaca satu juz Al-Qur’an. Yes honey, it’ll take quite a long time. Dan saya akui memang lelah rasanya berdiri selama itu.
Nah, untuk ibu-ibu yang sedang sakit atau sudah tua atau capek, bisa melaksanakan shalat sambil duduk di bangku. Tidak hanya ibu-ibu, anak-anak maupun remaja juga ada yang demikian. Biasanya mereka sudah membawa bangku kecil dari rumah. Bahkan belakangan saya lihat di depan masjid juga ada yang menyewakan bangku-bangku itu. Disini shalat sambil duduk ternyata bukan hal aneh.

Yang paling saya syukuri dari “terlempar”nya saya ke halaman masjid adalah akhirnya saya menyadari mengapa mereka menyebutnya Madinnah Al Munawarrah. Di tengah hitamnya langit malam, lampu-lampu yang seolah terpasang di sekujur dinding masjid Nabawi bersinar terang membuat masjidnya Nabi Muhammad saw ini layaknya istana dalam dongeng.

Sebuah kota dimana terdapat makam Nabi Muhammad saw di dalamnya, bersinar dengan indahnya, Saya mengerti sekarang. Memang sungguh namanya yang pantas bagi Madinnah.

Madinnah Al Munawarrah, Madinnah yang bercahaya.


nb. hingga saat ini pun, hanya dengan mendengar kata Madinnah Al Munawarrah, masih dapat membuat pemandangan malam itu terbayang jelas dalam ingatan saya.
Subhanallah.

The Other Blog

Dear all, This blog is not going to be updated often as I have created another one at www.floresianay.wordpress.com which will be focusi...