Jan 2, 2013
The Nice-to-have
Some years ago I asked a good friend of mine, "how do you know what you really want in your life?"
At that time I had just finished my undergraduate study and found myself overwhelmed with things I planned for myself next. I wanted to continue my study I wanted to have a career in a multinational company. I wanted to establish my own business. I wanted to get married before I reached 29 and have 3 kids then. And also some other things that I couldn't recall now. Shortly, I wanted everything.
While I was anxious, my friend was pretty certain with his life plan. I could say that because I knew that he had turned down some offers that other people would kill to get for things that he thought were truly matter. "Don't you worry that you're going to regret it one day?", my other question.
To my latter question, he responded, "no, it's not something that I really want", which led to my former question.
I was, and probably still am, a kind of person who thinks I want and need everything. My friend back then advised me that I should find out which ones I truly want and which ones that are only nice-to-haves. For example, everyone would love to have a private jet but only a few who truly want a private jet. Sure it's nice to have one, but does it motivate me to work hard? No, not yet, at least.
Another example are my red high heels. I told myself, "yes I want those" but never successfully bring myself to buy them. I finally had them though, someone gave me as a gift. Am I happy that I have them know? Of course I am! Though I only wore them twice since. First, I am not that daring to wear red high heels everywhere. Second, they hurt like hell! Honestly, my life would be just as fine if I didn't have them. If they are stolen, I won't be rushing to buy another pair. Hell, I might not!
My Crocs, on the other side, are a completely different story. I'm may not crazy about the design but I need them. Even on my worst day, at least I don't have to worry about my feet. In Indonesia, those pair of rubber are not cheap though, escpecially the ones with a slightly decent style. In fact, I bought the ones that I have now at the same price with the red high heels that I always want yet fail to purchase. Somehow, I could always put aside some money for Crocs. If my Crocs are stolen, I could see myself rushing to the mall and buy another pair within a week.
If I think about what my friend said about the nice-to-have back then, those red high heels are probably a good example. Something that I want to have for "buat punya-punya aja". However, of course at the time he told me about the nice-to-have things, I didn't fully understand what that meant. Don't think I have fully captured it now too. Hahaha.
Nevertheless, after a few years of bouncing around from one thing to another, I could see how true what my friend said then, which is not everyhing that I think I want is truly what I want. It took some time for me to understand. Some people that I know, found out what exactly they want to do in their lives, took it out from the merely nice-to-haves, and focused on what really matter. Amazing.
As I quote my friend, there's always gimmick that may disctract you to do other things. I, personally, think that the most alluring gimmick is the thought that it is a one in a lifetime opportunity or it is something that everybody else wants.
You know a quote that goes "20 years from now you'll regret things that you didn't do instead of things that did"? I don't really buy it. It's not choosing between doing or not doing, it's always choosing doing something instead of doing another thing. It's not about working or not working, but more like working or sleeping, working or spending time with your kids, working or studying.
Back to my question years ago: "how do you know what you really want in your life?". I don't know for sure yet, but I think one way that you can do is to ask yourself: "are you gonna be just fine without it?"
If your answer is "yes", you might want to drop it and focus on those that really make your life worthwhile, because you are neither young nor live forever.
Nov 27, 2012
Bahasa Indonesia
Ujian Bahasa Indonesia itu rasanya semacam tebak tebak buah manggis, tidak tahu mana yang benar, mana yang salah. Sehari-hari berbahasa Indonesia pun sepertinya tidak banyak membantu. Bagaimana bisa membantu kalau yang terucap kebanyakan kalau tidak bahasa sleng ya bahasa Inggris atau Jawa yang diserap dan dimodifikasi sembarangan. Nah, kan, baru paragraf kedua saja saya sudah pakai istilah sleng.
Belajar bahasa Inggris rasanya lebih mudah. Sebenarnya saya kurang tahu juga sih bahasa Inggris yang saya gunakan sudah benar atau tidak. Anggaplah sudah (agak) benar. Bila demikian, buku dan bahan bacaan berbahasa Inggris lainnya adalah salah satu hal yang paling berjasa dalam proses pembelajaran saya. Tidak tahu apakah karena bukan bahasa ibu saya, kalau membaca buku atau artikel bahasa Inggris itu rasanya enak betul ceritanya mengalir. Pilihan kata dan kalimatnya pun beragam. Memang tak bisa disamaratakan begitu semua, tapi sebagian besar buku berbahasa Inggris yang saya baca punya efek demikian. Bukan saya bilang bahwa buku-buku berbahasa Indonesia tidak mengalir penceritaannya. Hanya saja dari yang sudah saya baca selama ini, yang tulisannya terasa lancar kebanyakan bahasanya dicampur dengan bahasa lain atau menggunakan bahasa sleng, dengan sejumlah pengecualian tentunya. Mungkin memang saya saja yang kurang banyak membaca sih. Hasilnya, tulisan saya dalam bahasa ibu sendiri pun banyak disisipi berbagai kata dan kalimat asing atau serapan.
Nah, beberapa hari lalu, saya melihat-lihat sejumlah situs produsen
Bila bicara tentang bahasa Indonesia, saya selalu teringat mendiang nenek saya dari pihak ibu. Beliau kerap kail menggunakan kata-kata yang saya rasa tidak umum digunakan dalam percakapan, misalnya "lantas" bukan "kemudian" atau "terus"; "kencan" bukan "ketemuan" atau "janjian"; "kawan" bukan "teman". Secara makna, kata-kata tersebut lebih atau sama tepatnya, kan? Tapi tentu kalau saya gunakan dalam percakapan sehari-hari bisa-bisa saya dicap "jadul" (kata yang akan dibahasakan nenek saya sebagai "kuno").
Walaupun demikian, bagi saya, tetap ada kesenangan tersendiri ketika mendengar atau membaca tata bahasa Indonesia yang dipakai seelok itu. Mungkin saya memang kuno, ya?
Saya suka membaca beberapa blog karena alasan tersebut: karena tulisannya menggunakan bahasa Indonesia yang mengalir. Seperti blog milik Raie Kribo ini.
Komentar menarik lain yang pernah saya dengan tentang bahasa Indonesia datang dari teman saya, seorang warga negara Malaysia keturunan Cina. Teman saya ini bahasa Melayunya terpatah-patah, kalah jauh dari kemampuannya berbahasa Mandarin, Inggris, bahkan Spanyol. Meski demikian, diakuinya, bila hanya mendengar ia masih lumayan dapat memahami. Suatu kali ia pernah bilang pada saya bahwa ia pun bisa memahami sebagian percakapan dalam bahasa Indonesia walaupun ada kata-kata tertentu yang membuatnya bingung.
Tahu kata-kata apa?
Kata-kata seperti "sih", "dong", "kan", "deh". Apa artinya? Saya mau menjelaskan juga sulit. Bagaimana asal muasalnya dan kenapa semua orang Indonesia memakainya pun saya tidak mengerti.
Intinya, saya merasa saya harus banyak belajar lagi tentang bahasa Indonesia, memperluas kosakata, memahami pemakaian imbuhan, tanda baca, dsb. Saya akui, ketika saya mendengar seseorang berbicara atau melakukan presentasi dalam bahasa Inggris yang baik dengan lancar, saya selalu kagum. Tapi kekaguman yang sama juga saya selalu berikan pada mereka yang dapat bertutur kata dengan baik, runut, dan anggun dalam bahasa Indonesia, karena jujur saja, saya kira tidak banyak orang yang memiliki kemampuan demikian.
Sebenarnya, tanpa tata bahasa yang baik pun saya rasa orang-orang lain masih dapat memahami dan mengerti maksud perkataan kita. Namun dengan tata bahasa yang baik itulah tingkatan kita bisa terangkat jadi lebih terdidik, atau berbudaya, atau apapun, yang pasti meningkat.
Bisa juga jadi tampak lebih kuno sih. :P
Jan 8, 2012
Beauty
In 2004, a collaborative research done by Harvard University and London School of Economics and funded by Dove revealed some facts about how women throughout the world perceived the concept of beauty. Shortly short, according to the authors, many women didn't describe themseleves as beautiful and agreed that media had set unrealistic standard of beauty. Though many opposed the results (which is a common thing for every controversial research), Dove still proceed their next marketing strategy based on those. (In my opinion, since Dove did fund the research we couldn't really tell for sure whether the research was indeed driven to certain direction or not).
Dove then launched a global campaign, which you might have already known, titled Real Beauty. The campaign basically encourage people, especially women, to embrace their own beauty despite of the standard that established by the media. in their ads, they use rather "common people" instead of models. By "common people" means people with any shapes, races, and ages. The campaign got much attention and has been research object multiple times for its uniqueness.
Shortly short (again), my analysis concern more about how the global campaign implemented in Indonesia. Not gonna go in details to that . ;)
One of the most interesting things about this campaign is a short movie called "Dove Evolution" (2006). It was released as part of their campaign to promote self-confidence. Based on several articles, "Dove Evolution" was quite famous at the time it was launched. See for yourself.
While doing the analysis, I remember a good friend mine who is, in my opinion, having a self-confidence issue about her physical appearance, To be perfectly honest, there's nothing wrong with her look.Surely, she doesn't look like those beautiful faces we see on TV but who does?
Not only that she's beautiful, but she's also one of the nicest people I've ever known. She holds a degree from one of the most reputable universities in this country (and believe me, the degree also comes from the most prestigious faculty in that unversity). I never really understand why she often doubts herself while I wish to be more like her.
Going back to Dove Evolution movie, I wonder if it really portrays our standard of beauty? Are women mostly defined by how they look instead of what degree they hold or their attitudes? You can say "no" but I know some people do judge women mostly from their looks.
So, in my attempt to be somewhat wise, I quoted Dr. Seuss to my friend: "those who mind dont matter. Those who matter don't mind".
Say you have droopy eyes, big nose, thin hair, or soft-and-lack-of-characters bone structure like mine, you might meet some people who mind your shortcomings. Those people don't matter or important for you. Because those people who really matter for you are those who don't mind with those because they see beyond your outer qualities. Having said that, I think it's better to stay confidence about ourselves, which I acknowledge as something that is not easy.
As part of their Real Beauty campaign, Dove also encourage women to be confident. They argue that those features you have that don't match the common standard are not ugly, they are just different and there's no reason to feel bad about them only because they are not portrayed as ideal by the media.
I must agree with this point. I often meet women with curly hairs, dark skin, small eyes, or huge body whom I secretly envy because they look very attractive. True story (or 'stories', in this case). One thing these women never fail to have is confidence (without "over" before the word). At the end, I genuinely believe that most people look attractive because they believe they do look good. The rest (and minority group of people) are granted such extraordinary beauty that they don't need confindence factor to be attractive.
Sep 27, 2011
Alternative Cities
Pertama, Jakarta ini pusatnya perputaran uang. Peluang karir disini jauh lebih banyak daripada di kota lain. Kedua, apapun ada di Jakarta ini. Mal dimana-mana, tempat makan enak di setiap sudut kota, pokoknya segala macam fasilitas ada disini. Ketiga, kualitas pendidikan disini cenderung lebih baik daripada kota lain. Setidaknya pilihan sekolah dari A sampai Z ada. Keempat, orang tua saya disini. Saya bahkan beberapa kali bercerita tentang bagaimana cintanya saya dengan kota ini disini dan disini.
Intinya, tinggal di Jakarta adalah sebuah kepastian dan tidak perlu lagi saya pertanyakan.
...Sampai dua tahun terakhir ini.
Seperti yang pernah saya ceritakan disini, untuk mencapai kantor di Senayan saya butuh menyisihkan waktu kira-kira dua jam di jalan. Lalu dua jam lagi untuk pulang dari Senayan ke rumah. Mungkin karena saya pernah merasakan empat tahun di Bandung, rasanya agak sulit buat saya menerima keadaan ini. Empat jam mameeeeen!!
Sementara orang-orang lain meskipun kesal tapi tampaknya bisa menerima. Suatu kali saya terpikir untuk ngekos saya dekat kantor. Akan tetapi, pertama, harga kosan yang decent di pusat Jakarta itu mahal bo. Kedua, sedih amat sih sampai ngekos. Nanti pulang kantor ga ketemu adik-adik saya dong. Maka pikiran ngekos itu saya bubarkan.
Nah itu weekdays nya. Tapi siksaan kemacetan yang sesungguhnya adalah pada akhir minggu terutama Jumat malam dan Sabtu malam. Catat!
Di Jumat malam, waktu perjalanan bisa sampai tiga sampai tiga setengah jam.
Semakin saya pikirkan rasanya semakin tidak mungkin buat saya untuk tetap tinggal disini. Entahlah bagaimana orang-orang lain yang bisa bertahan hidup di Jakarta dengan pola hidup seperti itu. Ibu saya termasuk orang yang senang bertahan di Jakarta, tapi itu karena tempat kerjanya ke arah Bekasi dan Halim paling pol juga satu setengah jam. Kalau normal kurang dari satu jam.
Pada orang-orang yang seperti saya dulu, saya bertanya-tanya apakah Anda yakin yang Anda jalani sekarang ini adalah hidup yang baik? Apa iya tidak ada alternatif yang lebih baik di kota lain?
Saya sih sudah menyerah. Tak mau saya selamanya terjebak di kota ini. Dan ketika saya memutuskan ini, saya menemukan ada kota-kota lain di luar Jakarta yang sebenarnya potensial.
Solo, misalnya. Ini adalah kota asal Ibu saya maka saya sudah cukup familiar dengan kota ini. Paling tidak setahun sekali saya mudik kesana. Solo beberapa tahun terakhir ini semakin menjanjikan. Kotanya masih kultural, tapi kalau Anda jalan-jalan bisa dilihat ada banyak usaha-usaha kecil dan besar yang berkembang. Kotanya pun cukup tertib dengan jalan utama yang cukup besar. Terakhir saya kesana lebaran tahun lalu, saya jadi makin jatuh cinta.
Persis di seberang hotel tempat saya menginap, Best Western, ada yang namanya PGS (mungkin kepanjangan dari Pusat Grosir Solo). Di PGS ini isinya mirip ITC tapi yang dijual batik. Dari hasil bertanya-tanya, sebagian batik-batik ini dibuat di workshop-workshop yang ada di sekitar Solo. PGS hanya buka sampai sore, karena malamnya, di bagian luarnya dijadikan semacam pusat lesehan, dimana berbagai macam masakan khas bisa ditemukan.
Oh ya, Solo juga punya bandara international, yang artinya kota ini terbuka dari mancanegara.
Lalu ada juga Yogya. Saya menghabiskan 7 tahun pertama hidup saya di kota ini. Dulu sih seingat saya kotanya dingin sekali, apalagi saya tinggal di Kaliurang km 6,6. Sekarang sudah tidak sedingin dulu dan sudah lebih ramai oleh, terutama, motor. Bagusnya kota ini juga punya bandara international dan sudah lebih berkembang kalau dibandingkan Solo. Di kota ini juga ada UGM yang menyediakan fasilitas pendidikan yang baik.
Dan tentu ada Bandung. Tidak ada bandara international disini, tapi untungnya dia tidak jauh dari Jakarta. Biaya hidup di Bandung ini sayangnya lebih tinggi daripada di Solo atau Yogya tapi untuk tempat-tempat hiburan modern memang lebih banyak disini. Lalu ada ITB dan Unpad untuk alternatif tempat pendidikan. Yang saya khawatirkan hanya kepadatannya. Akhir-akhir ini sepertinya tingkat kepadatan di Bandung makin meninggi. Saya tidak yakin 25 tahun dari sekarang Bandung tidak akan menjadi seperti Jakarta.
Selain tiga kota tadi, rasanya masih banyak yang lain yang belum saya tilik. Intinya, kehidupan tidak hanya berputar di Jakarta. Mungkin tinggal di Jakarta berarti penghasilan lebih besar, tapi toh pengeluaran juga lebih besar, dan yang paling penting, waktu yang terbuang di jalan juga lebih besar. Uang bisa dicari tapi kalau waktu dimana bisa dibeli?
Ralat.
Bandara di Bandung itu international juga ternyata. Thanks to Bat untuk ralatnya :)
Sep 10, 2011
Working Life
Aug 24, 2011
Rivalry
Aug 13, 2011
Self Control
Jun 28, 2011
Work. Study. Plans. Life lately

"Happiness is a risk. If you’re not a little scared, then you’re not doing it right."
May 26, 2011
The Precious Hot Chocolate Delight

Apr 23, 2011
Trivial Messages
Apr 10, 2011
Growing old
Dec 25, 2010
Big Things
Oct 24, 2010
Changes
Aug 17, 2010
Dementor

Aug 4, 2010
Elephant in the Room

Jun 14, 2010
Virus Menikah Muda
Ah, wedding invitation. Berarti ini adalah invitation ke-2 untuk bulan Juli. Sementara untuk bulan Juni sendiri, sudah ada 4. Betapa sibuknya sang pembuat janur kuning.
*
Syahdan, di sebuah waktu di masa yang lampau saya pernah bercita-cita ingin menikah di usia 27 atau 28. Mengapa?
Errr... Entahlah. 27 atau 28 terdengar matang dan, ketika itu sih, terdengar masih lama dari masa kini. :P
Maka ketika room mate saya memutuskan untuk menikah tahun 2008 silam, I can't help but wonder why does she want to tie the knot so quick?
Tak hanya sekali dua kali saya bertanya, setengah bercanda juga sih, lo yakin mau nikah?. Pertanyaan yang seandainya didengar oleh calon suaminya akan berakibat pada melayangnya sebuah panci ke arah kepala saya.
Dan room mate saya menjawab, kenapa enggak?
Quick facts tentang room mate saya:
1. Ia dan pacarnya sudah pacaran (ketika itu) sekitar 3 atau 4 tahun.
2. Ia setahun lebih tua dari saya dan pacarnya beberapa tahun lebih tua dari dia.
3. Ketika itu pacarnya sedang S3 di Eropa.
4. Pacarnya sudah punya penghasilan tetap.
5. Teman saya akan melanjutkan S2 di tempat yang sama dengan pacarnya.
Intinya saya jadi bingung juga dengan jawaban kenapa enggak itu. Sebenarnya saya punya tanggapannya sih, tetapi saya urungkan niat mengutarakannya karena terdengar kekanak-kanakkan dan labil. Fufufu.
Maka saya mengganti pertanyaan dengan kok lo bisa yakin sih mau nikah sama dia?
Kali ini mungkin yang melayang kompor, lengkap dengan gasnya dan api yang menyala.
Dan room mate saya lagi-lagi menjawab pertanyaan dengan pertanyaan, emang mau cari yang gimana lagi?
Yang gimana kek.
It was not because I didn't like his guy. Saya yakin kok pacar teman saya ini baik dan mereka cocok dan seterusnya. Saya hanya amazed pada fakta bahwa teman saya ini, yang ketika itu usianya belum 23 tahun, bisa yaqqiiin mbuliqqiin (istilah Mama untuk benar-benar yakin) untuk berkomitmen pada satu pria ini ini. Seumur hidup. For better for worse.
Ini sebenarnya tanggapan kekanak-kanakan dan labil yang tadi ingin saya sampaikan: kalau beberapa tahun kemudian teman saya ini menemukan pria lain yang lebih ia sukai, bagaimana?
Tapi teman saya ini terlihat yakin dan mantap. Tercermin dari caranya yang santai menjawab pertanyaan-pertanyaan bodoh saya sambil disambi dengan menyetrika baju, minum teh, atau berkebun. Tak sekalipun ia tampak jadi gusar atau ragu karenanya.
Ya sudahlah, saya pikir ketika itu, mungkin saya memang belum sampai pada tahap itu atau memang saya belum menemukan orang yang bisa membuat saya seyakin teman saya itu.
*
Dua tahun berlalu sejak saat itu dan saat ini berita pernikahan teman hampir sama seringnya dengan iklan menjual mobil Avanza (perumpamaan yang aneh...). Virus menikah muda menyebar hampir sama cepat dengan influenza. Lagi-lagi, can't help but wonder, usia yang sedang hip untuk menikah sudah bergeser ke middle twenties ya?
Seorang teman mengatakan bahwa semua itu tergantung fokus hidup seseorang. Hmm, I can't completely agree with her. Saya rasa orang menikah ketika mereka telah sampai di tahap seperti room mate saya, kenapa enggak?
Saya punya analisa sendiri tentang mengapa orang-orang jaman sekarang (atau paling tidak orang-orang di sekitar saya) banyak yang menikah di usia middle twenties ke bawah.
Ini karena saat ini pendidikan dapat diselesaikan dalam waktu yang relatif lebih cepat daripada dulu. Ambilah contoh ITB yang konon-konon dulunya untuk bisa selesai kuliah dalam 7 tahun saja sudah bagus. Sekarang, lewat dari 6 tahun sudah kena DO. Sebagian besar selesai 4 tahun atau 4,5 tahun. S2 pun sekarang banyak yang 1 atau 1,5 tahun.
Bila mengikuti siklus hidup yang standar, selesai kuliah berarti bekerja. Dan orang-orang jaman sekarang pintar sekali mencari uang. Peluangnya pun memang lebih besar dari jaman dahulu. Ide-ide menyebar dengan cepat via televisi dan internet.
Bisnis perusahaan-perusahaan yang mempekerjaan orang-orang ini juga berkembang lebih pesar. Ujung-ujungnya berpengaruh juga pada gaji yang dibayarkan pada karyawannya.
Dua tahun kerja, para new hires ini sudah bisa mencicil mobil atau bahkan mungkin rumah. Lalu datanglah fase itu ketika mereka mulai bertanya, kenapa enggak?
Ya, kenapa enggak? Gelar ada, mandiri iya, dewasa iya, tabungan banyak, rumah in progress. Lalu ada satu sentilan tambahan, mengapa menunda hal yang baik?
Menikah itu lebih baik daripada tidak menikah, jelas ada di Al-Quran.
Yah kecuali kalau memang belum ada orang yang diyakini bisa diajak menikah. :)
Lepas dari persoalan diatas, memang tinggal masalah perasaan dan keyakinan saja.
Saya pikir lagi sekarang, aneh juga ya dulu saya punya patokan menikah usia 27 atau 28. Kenapa umur yang dipatok? Bukannya seharusnya yang jadi patokan adalah kondisi dan stage hidup saya? Ketika saya sudah mencapai ini itu dan anu, saya akan mau menikah. Misalnya begitu.
Beberapa teman saya lebih beruntung bisa mencapai stage tersebut lebih cepat. Saya turut berbahagia untuk mereka.
Jun 1, 2010
Victimized
Datanglah seorang ibu-ibu. "Udah ada uang buat bayar kontrakan belom?", hardik si ibu-ibu.
Si kakak, dibantu adiknya, berdiri, "Maaf, Bu, tapi belum ada uangnya", ujarnya memelas.
"Eeehh, gimana sih, ga ada uang ga ada uang. Lo udah nunggak 5 bulan!", si ibu makin ketus.
"Iya, Bu, tapi saya belum ada uang", yak, si Kakak merepetisi.
"Lo kira ini rumah punya engkong lo!", si ibu menghardik makin kasar.
"Tapi Bu, saya belum ada uang," macam burung Beo ini si Kakak. Lalu ditambahkan, "besok, kalau saya ada uang, pasti saya bayar."
Jedaaang!!
Adegan di atas bukan kisah nyata. Cuma potongan sinetron yang kebetulan menarik perhatian saya ketika browsing.
Peran protagonis disini sebenarnya si adik-kakak yang cantik-cantik itu. But none of my sympathy goes for them. Ya iyalah si yang punya kontrakan marah.
Tunggakan udah 5 bulan.
Ditagih, malah membeo 'saya belum punya uang'.
Sekalinya ada kata 'besok', itu pun diikuti kata 'kalau punya uang'.
Solusi tidak ada.
Paling buruknya adalah, tayangan sinetron ini memposisikan mereka seolah-olah korban dari pemilik kontrakan. Tokoh utama yang penting baik, pasrah dan cantik. Tidak perlu pintar-pintar amat, apalagi solutif.
Yeah, great. Kalau semua orang begitu, ditunggu sampai kiamat juga Indonesia nggak akan maju.
Malam ini saya ingin berdoa:
Semoga sinetron bukanlah cerminan pola pikir orang-orang Indonesia.
Semoga penonton sinetron mengerti bahwa tingkah victimized tokoh sinetron tidak patut ditiru.
Semoga adik kecil sana dan anak-anak saya dan anak-anak Anda nanti tidak tercemar pola pikir itu.
Amin.
May 16, 2010
After Break Up
You know, I hate break-ups. When you are in a relationship (either as couple or just HTS-an thingy) for quite a long time, let's say a year, you and your significant other will be, automatically, best friend. You do a lot of things together, you share your daily routine, you listen to each other's secrets, etc. You are not only having a romantic relationship, you are also getting a friendship.
Then when your romantic relationship is over (or one of you decide that it is over), you are not only lose a boyfriend/girlfriend, but also a best friend. The last one might be harder to overcome than the first one.
So this is what usually happens, you try to keep being a best friend for your ex (or ex-crush). You keep exchanging stories of your daily routine, you keep calling each other, you keep going out together. All on the name of friendship.
There might be awkward moments, but you try to neutralize it.
Well, in my opinion, it is actually normal for being awkward. Even for ex-couple who mutually agree that the relationship should be ended, I believe that there will be awkward situation and it is normal. As for ex-couple who one of them is not agree about the break-up, the situation will be even more awkward, and it is even more normal.
I once read a book called "Its Called A Break Up Because It is Broken" which said that after you break up, you better to not have any kind of communication with your ex at least for 2 months. I have to agree with the statement. Keep being your ex's best friend after break up is dangerous because one of you might trapped in the nostalgic feeling.
Let's accept that when you break up, you also lose one of your best friends temporarily. Yes, temporarily. One day, if you and your ex are indeed friends, you can get your best friend back. And it needs time. Even though the feeling has gone, you might need time to adjust your position. The awkwardness doesn't indicate that you still have feeling whatsoever, it means that you still couldn't find the right position as your ex's friend. I believe that it will come naturally as the time passes.
For how long? One of my friend said that at least it would take the same amount of time of the romantic relationship. So if you dated for 3 years, then it would take 3 years for everything back to normal and for you get your best friend back.
I say there's no rule about the amount of time. When you and your ex together could sincerily make fun of your past romantic relationship without feeling any awkwardness, that is the time you say "welcome back" to your old best friend.
May 15, 2010
Resigning
The decision of my resignation have been made about couple months ago. There were only few people knew about this and there were various opinions. Some said go ahead, some questioned the decision, some said I should've wait a little longer.
The last opinion basically advices me to gain more experience first before I go to another job, to another company. Spend at least a year or two before I move out so that when I back to the job market, I will have experience/value to offer.
Well well, the problem is, I don't have a year or two. I mean, I don't have time to stick around to a job which I don't really enjoy. It's not that doing the job is excrutiating, because in fact I know I can live with it. I will be okay doing the job.
But 'okay' doesn't seem enough for me. 'Okay' is not good enough.
I don't have time to feel just 'okay' about my job.
I have my time limit for being an employee. That is why I want to enjoy every moment I pass doing the job. If I don't have time limit, I might accept the just 'okay' situation. Somehow, I am grateful for having limited time.
It reminds me of a quote by Randy Pausch which I tweeted via readingwalk several days ago. He said:
The key question to keep asking is, Are u spending your time on the right things? Because time is all you have.
I used to thought like I had unlimited time (or I refused to admit that time has limit), like I would be in my twenties forever. That is why, sometimes, I hate birthday, getting older, because it reminds me that time is not unlimited. Well, you know what, time is limited. At least our time is limited. 40 years from now, I might have died. During the next 40 years I have many agendas to do. If I think the way I used to be, someday I will wake up in the morning 10 years from now, and still haven't accomplish anything significant. God forbids!
Like Randy said, time is all we have. In life, there is a finish line.
As in working as employee, I also have my finish line. So, really, I don't have time for 'okay'.
Apr 24, 2010
Jakarta, GoMaps, Pots of Gold
Maka suatu sore usai dari kantor, saya memanfaatkan fitur tersebut untuk menuntun saya menuju Sarinah, Thamrin. Masukkan start point dan end point, lalu voila, rute jalan tersedia berikut keterangan jarak dan estimasi waktu tempuh. Coba tebak berapa jauh jarak antara Sunter dan Sarinah?
12,3 kilometer saja, Kawan!
Estimasi waktu tempuh?
20 menit!
Kenyataannya?
Kira-kira satu jam saya berjibaku dengan traffic Jakarta.
Contoh lain, pernah juga si GoMaps mengestimasi waktu 12 menit antara Tanah Abang ke Simprug. Nyatanya, jelas jauuuuh dari 12 menit.
Intinya, setelah beberapa kali memanfaatkan aplikasi Google Maps, saya jadi sadar bahwa sebenarnya jarak antar tempat di Jakarta tidak terlampau jauh. It's the traffic, for God sake!
Sebenarnya saya suka Jakarta. Saya sudah 18 tahun tinggal disini (dipotong 4,5 tahun di Bandung) dan kadang saya sulit membayangkan untuk tinggal di kota lain selain Jakarta. The city is actually very lovely (in sophisticated way). Coba lihat!
http://kotakendari.wordpress.com/2009/07/08/capital-of-indonesia/
Jakarta itu kereeen. Seperti tak pernah tidur, hingga malam pun kota ini masih hingar bingar. Ritme kehidupannya dinamis seolah tidak pernah berhenti walau sejenak. Saya ingin nantinya tetap tinggal di Jakarta atau kota sekelas Jakarta.
Tapi beberapa minggu terakhir ini saya benar-benar lelah 'hidup' di jalanan Jakarta. Dari satu kemacetan ke kemacetan yang lain. Orang bilang penduduk Jakarta tua di jalan, and I couldn't be more agree. Iya banget. Saya masih beruntung, kalau pagi saya hanya butuh kurang dari 1 jam untuk sampai di kantor. Pulangnya sekitar 1 - 1.5 jam. Tapi kan, tak selalu saya langsung pulang ke rumah. Kalau sudah bermain di daerah pusat kota, oh my... bisa 3 jam saya habiskan di jalanan.
Namun begitulah aturan mainnya. Jam-jam itu yang harus siap dikorbankan para Jakartenis untuk bisa sekedar survive di kota metropolitan ini. Saya jadi mulai bertanya-tanya, is it really worth the effort?
10 tahun dari sekarang, apa saya masih mau menuruti aturan main ini dan menghabiskan seperlima hari saya di jalanan?
Ada orang yang hidup untuk kerja, atau hidup untuk keluarganya, atau hidup untuk bersenang-senang. Apa ada orang yang hidup untuk tua di jalan?
Membahas soal ini saya jadi ingat lagu Pots of Gold dari Mama's Gun ini.
Ada bagian liriknya yang saya suka:
Cos I don't wanna waste a lifetime chasing pots of gold
I don't wanna miss the sunshine standing in the cold
I don't wanna be the one who's left behind I wanna catch a glimpse of life
No i don't wanna be the one who lets you down
With you I couldn't bear to live without
Ooh, lalu saya juga jadi ingat cerita dalam buku Undomestic Goddes yang beberapa waktu lalu pernah saya tulis disini dan saya review di situs ini.
The Other Blog
Dear all, This blog is not going to be updated often as I have created another one at www.floresianay.wordpress.com which will be focusi...
-
Anak perempuan itu bernama Iis. Usianya baru 12 tahun. Baru lulus SD. Tingginya mungkin sekitar 145 cm. Dadanya masih rata, perawakannya kur...
-
Di suatu petang. Dua orang adik kakak perempuan mengobrol di teras rumah. Datanglah seorang ibu-ibu. "Udah ada uang buat bayar kontraka...
-
About a couple weeks ago, a friend of mine asked me a question, “Can you forgive, if you can’t forget?”. The question reminded me of an epis...



