Oct 20, 2007

mati

Rasanya baru saja saya melintas di depan taman itu bersama teman-teman. Membicarakan seseorang yang beberapa waktu lalu meninggal di tempat tersebut.
Rasanya hanya dalam hitungan jam yang lampau saya duduk di meja itu, membicarakan tugas yang harus saya dan teman-teman selesaikan.
Rasanya, baru beberapa menit yang lalu saya berjalan di antara lorong-lorong buku di perpustakaan.

Dan sekarang, saya mendapati diri saya telah menjadi ruh tanpa raga. Ada yang bilang saya sudah meninggal. Entahlah. Soalnya, saya tak ingat bagaimana saya meninggal. Kapannya pun saya tak tahu pasti. Yang jelas baru-baru ini. Karena saya masih dapat melihat dunia yang berjalan saat ini masih sama keadaannya dengan terakhir kali saya hidup.

Sudahlah. Sejauh ini, kematian saya ini belum menjadi persoalan besar buat saya. Karena biarpun status saya sudah meninggal, arwah saya masih bebas pergi kesana kemari. Sudah begitu, orang terdekat saya juga masih bisa merasakan kehadiran saya, bahkan mereka masih bisa melihat dan mengobrol dengan saya.
Begitulah, keadaan saya saat ini tidak terlalu beda jauh dengan keadaan ketika saya masih hidup. Saya bahkan masih tetap mengerjakan tugas-tugas kuliah saya lho. Soalnya saya kan tetap mau diwisuda Juli nanti.
Oya, saya juga masih bisa mengendarai mobil saya. Seperti saat ini. Saya sedang melaju menuju rumah orang tua saya.
Namun di tengah perjalanan saya teringat, sepertinya saya belum shalat Ashar tadi. Saya kemudian singgah dahulu ke sebuah mushola. Shalat, sekalian istirahat dulu, pikir saya.
Begitu masuk ke mushola, ternyata ada orang lain yang sedang memakai mukenanya. Ya sudah, saya tunggu saja di pojok ruangan sambil baca-baca. Namanya juga mushola, jadi bacaan yang tersedia ya Al Qur’an.
Begitu membuka halaman pertama, tiba-tiba kalimat yang pernah berkali-kali diucapkan guru dan orang tua saya terlintas di kepala.
Putus amal ibadah orang yang telah meninggal kecuali 3 hal : ilmu yang bermanfaat, amal jari’ah dan doa dari anak saleh.

Saya tersentak. Kaget luar biasa. Rasanya seperti disiram air es di sekujur badan. Saya kan sudah meninggal… Artinya, amal ibadah saya saat ini tidak akan diterima lagi?! Saya belum pernah mengamalkan ilmu yang bermanfaat, saya tak punya amal jari’ah dan saya juga belum punya anak! Artinya, tak ada maknanya lagi saya shalat Ashar sekarang?! Tak ada lagi artinya saya mengucap taubat sekarang?! Saya akan membawa dosa sebanyak ini dan pahala sesedikit ini hingga kiamat nanti?!
Tidak! Tidak! Saya belum siap! Saya belum berani mati sekarang! Saya belum sanggup menghadap Sang Khalik dengan nilai rapor seperti saat ini! Ah celaka, saya pasti masuk neraka! Ya Tuhan, mana sanggup saya menahan siksa nerakaMu!

Saya merasakan gelombang kekalutan menjalari tubuh saya. Saya berdoa, saya berteriak, saya belum mau mati sekarang! Saya tidak berani menghadapi siksaanMu, ya Allah!
Saya segera lari sekencang-kencangnya menuju rumah orang tua saya. Saya butuh solusi. Harus ada solusi dari semua ini.
Percuma.

Orang tua saya hanya dapat memandangi saya dengan raut sedih. Saya menangis dan meraung sekuat-kuatnya. Berharap Tuhan akan iba pada saya dan menghidupkan saya kembali. Paling tidak berilah saya waktu 1 atau 2 tahun lagi. Banyak utang dan janji yang belum saya lunasi. Berjuta maaf yang belum sempat saya sampaikan. Dan masih banyak banyaaaaak sekali dosa yang belum saya tebus.
Saya menangis dan menangis. Meskipun saya tahu ini tak ada gunanya. Saya kan sudah mati. Tak mungkin saya bisa hidup lagi. Tapi tak ada lain yang dapat saya lakukan. Shalat sejuta kali pun, saat ini tak akan menghantar saya lebih dekat kepada surga. Maka saya hanya menangis… tak berhenti…

**

Suara pintu dibuka membangunkan saya. Ya Tuhan, itu tadi mimpi!
Saya lihat jam di dinding, sudah pukul setengah 6 pagi. Sayup-sayup saya mendengar suara takbir menggema. Hari ini Idul Fitri. Hari ini, saya masih hidup sehat wal afiat.
Tak berani saya membuang waktu untuk segera shalat Subuh, mohon ampun. Mumpung sempat. Mimpi yang sungguh terasa nyata sekali. Saya bahkan masih dapat merasakan sesaknya dada ini karena menangis.
Saya jadi ingat perkataan seseorang dulu. Bersiaplah untuk kematian, karena manusia hidup untuk mati.

Oct 6, 2007

blog dari waktu ke waktu

Dilandasi keinginan untuk memanfaatkan jatah berinternet sebanyak-banyaknya sebelum ke Jakarta, pagi ini (atau subuh ini, tepatnya), saya berencana melanglang dunia maya.
Dan ternyata, bukan situs dari belahan dunia lain yang membuat saya terpaku di depan laptop. Saya justru keasyikan membaca postingan-postingan lama saya.

Kalau diperhatikan, ada proses transformasinya lho. Dilihat dari penggunaan kata ganti saja, dulunya 'gue; sekarang jadi 'saya'. Membacanya kembali membuat saya mengingat kejadian apa saja yang melatar belakangi sebuah posting. Rasanya seperti baru kemarin. :)

Dari beberapa postingan lama tersebut (2005 - 2006), saya pilih beberapa yang menurut saya lucu atau menarik.
  1. Postingan ini, entah kenapa agak banyak yang menanggapi (sayang nggak semuanya nulis di comment). Mungkin karena membahas soal HTS ya? Padahal saya juga bikinnya iseng saja, sampai-sampai tak saya beri judul. Hehe. Ternyata ada yang terpancing. Silakan baca disini.
  2. Ini postingan nggak jelas banget. Keliatan sih dari judulnya : fufufufu.... Ya ampun, apa coba maksudnya? Saya geli sendiri jadinya.
  3. Entah kenapa, saya suka postingan ini. Memang sih alurnya agak membingungkan. Jadi alur cerita dari postingan yang ini sebenarnya berjalan mundur ke belakang. Tapi di akhir cerita, kembali lagi ke depan. Yah gitulah. Bingung tak? Coba saja dibaca.
  4. Ini pengamalan pribadi saya naik angkot di Jakarta. Wuih, serem pisan. Membacanya membuat saya kembali lagi ke hari itu.
  5. Postingan pertama saya, 9 Januari 2005 (sudah lama juga ya?). Hihi. Jadi ingat, dulu bikin blog itu ikut-ikutan anak-anak Boulevard saja. Bingung bingung mau dikasih nama apa ya blog saya... Ya sudahlah pakai nama sendiri saja. Tapi memang ada alasan lain sih kenapa akhirnya memakai nama floresianayasmin.blogspot.com. Oia, jadi ingat juga, dulu judul blog saya itu Know Me Better. Kenapa begitu? Baca disini.

Yah, pokoknya begitulah kira-kira perjalanan blogging saya selama hampir 3 tahun ini. Dipikir-pikir, saya berterimakasih pada Boulevard yang telah mengenalkan saya pada dunia blogging.

:)

Buku : Travelers Tale, Barcelona : Belok Kanan!

Penulis : Adhitya Mulya, Alaya Setya, Iman Hidajat, Ninit Yunita.
Penerbit : Gagas Media

Buku ini mengisahkan empat orang sahabat yang tinggal di belahan Bumi berbeda.
Francis, keturunan Cina yang menjadi pianis, berkeliling dunia dari konser ke konser.
Farah, disebutkan sebagai campuran Arab-Jawa, bekerja di Hoi An, Vietnam.
Retno, yang dari namanya saya simpulkan sebagai orang Jawa, tinggal di Koppenhagen, Denmark.
Terakhir, Jusuf, tidak jelas ras nya, bekerja di Cape Town, Afrika Selatan.

Demi menghadiri pernikahan Francis di Barcelona, Spanyol, keempat sahabat itu pun bertolak dari tempat tinggal nya masing-masing. Yang menjadi persoalan disini adalah ternyata tiap orang memiliki perasaan terpendam terhadap yang lain. Francis yang cinta pada Retno. Farah yang cinta pada Francis. Jusuf yang cinta pada Farah. Dan Retno yang sesungguhnya juga cinta pada Francis namun tidak berani menerima perasaan Francis karena mereka berbeda agama.

Cerita dibangun dari masing-masing tokoh ini. Tiap tokoh mengisahkan ceritanya masing-masing secara bergantian.

Yang menarik dari buku ini, sepanjang cerita Anda akan disuguhi “suasana” berbagai macam negara. Mulai dari latar cerita Farah yang bergerak dari Hoi An, Amman, Buddapest, Wina dan Paris. Juga cerita Jusuf dari Cape Town, Nairobi, Abidjan, Dakkar dan Marrakech. Atau cerita Retno dari Koppenhagen, Amsterdam, Milan, dan Seville. Hingga kisah Francis dari Kansas City, Cleveland, Atlanta, Miami, dan New York. Semua perjalanan tersebut akan bermuara di Barcelona.

Di beberapa Negara pembaca akan diajak menelusuri tempat-tempat wisata berikut sejarah (sangat) singkat mengenai tempat tersebut. Bagi Anda yang suka traveling, buku ini bisa jadi bacaan yang menarik. Oia, saya katakan traveling, karena di buku ini dijelaskan perbedaan antara menjadi turis dan travelller. Turis cenderung bepergian untuk keperluan belanja dan menghabiskan uang untuk barang-barang. Sementara traveler bepergian untuk pengalaman dan menghabiskan uangnya untuk membeli pengalaman seperti naik gondola, atau ke tempat-tempat unik dan bersejarah.
Pada beberapa bagian, buku ini juga menyelipkan tips-tips traveling. Mulai dari tips barang bawaan, hingga pengaturan penempatan uang, kartu kredit dan paspor.

Ada satu bagian yang menarik dari buku ini. Yaitu ketika tokoh Jusuf mengunjungi patung pemain sepak bola di Senegal. Dijelaskan pada buku tersebut, patung itu dibuat dalam rangka memperingati masuknya Senegal ke perempat World Cup 2002. Jadi berandai-andai, kapan ya Indonesia bisa masuk perempat finalnya World Cup? Hehe.

Sayangnya, pada beberapa bagian, saya menemukan ketidaksinkronan antara alur yang satu dengan yang lain. Terutama antara cerita Francis dan cerita Retno. Misalnya, dari cerita Retno, saya menangkap kesan pertemuan mereka adalah di Starbucks La Rambla. Sementara menyimak cerita Francis, saya menangkap kesan lain : Francis dan Retno bertemu di tempat konser Francis dan bersama-sama menuju Starbucks La Rambla.
Selain bagian di atas, masih ada lagi bagian lain yang janggal. Tapi saya lupa yang mana. Ketidaksinkronan itu sampai membuat saya berpikir jangan-jangan salah satu dari mereka menderita delusi?

Memang, keempat orang ini melakukan perjalanannya masing-masing atas nama cinta. Namun, alasan mengapa mereka saling mencintai hingga bertahan sekian tahun pun tidak jelas.
Maka, jangan pula mengharapkan romance yang berlebihan disini. Karena memang tak ada yang istimewa dengan romansanya. Standar sajalah.

Dan tak salah diberi judul Traveller’s Tale, karena memang perjalanan merekalah yang menarik. Alur cerita jadi mengalir dengan enak. Karakter tokohnya pun sengaja dibuat berbeda. Terlihat dari bahasa kata ganti orang pertama yang digunakan masing-masing tokoh yang bervariasi dari saya, aku, gue hingga gua.

Secara keseluruhan, novel ini cukup enak dinikmati. Terutama untuk Anda yang suka traveling atau suka mendengarkan cerita traveling.




*
Tulisan ini sudah lama sebetulnya. Tapi belum sempat saya post. Saya belum pernah me review buku sebelumnhya (kecuali kalau tulisan saya tentang The Alchemist itu bisa disebut review). Hehe.. menurut Anda bagaimana?

Sep 29, 2007

Ketika Dunia Dilanda Asmara

5 menit berlalu dan wanita itu belum menyentuh makanannya lagi. Sup panas yang dipesannya sudah mulai mendingin. Ponselnya erat memeluk telinga sedari tadi. Sesekali ia tertawa. Bila tidak tertawa, ia tersenyum simpul. Matanya menerawang entah kemana. Ia seolah berada di dunia lain. Jauh dari hingar bingar restoran tempat raganya berada. Semua yang melihat akan tahu, ia sedang dilanda asmara.

**

Akhir-akhir ini, semua orang sepertinya sedang dilanda asmara. Dari mulai bangun pagi, saya sudah mendapati teman sekamar saya ditelepon pacarnya dari Belanda. Berangkat ke kampus, saya melihat pasangan muda mudi bergandengan tangan menyebrang jalan. Sampai di kampus, pasangan yang sedang kasmaran bertebaran dimana-mana. Mau di jurusan atau di unit, sama saja.

Di Bandung ini, saya punya 4 sahabat dekat. 3 diantara mereka tengah dilanda asmara. Yang seorang lagi, ternyata juga baru saja jadian. Lengkaplah sudah.

Semua orang dilanda asmara. Kecuali saya.

Ada sedikit rasa cemburu ketika saya melihat binar mata mereka. Atau suara tawa lepas mereka. Ya, terasa sekali mereka sedang bahagia. Saya kangen perasaan itu.

Saya kangen pada kupu-kupu yang beterbangan di hati saya. Membuat sensasi tersendiri. Membuat detak jantung saya berpacu lebih cepat. Membuat saya tersenyum bahkan tanpa saya menyadarinya.

Cukup sampai disitu.
Saya tidak kangen pada perasaan harap-harap cemas yang menyiksa. Saya tidak kangen pada perasaan sesak di dada. Saya tidak kangen pada rasa sakit yang menusuk hati. Saya tidak kangen pada rasa panas yang menggenang di pelupuk mata saya.

Mungkin saya ingin dilanda asmara. Mungkin juga tidak. Entahlah.
Saya tak berani memutuskan. Hati ini masih dibolak balik olehNya. Bila saatnya tiba, biar Ia yang menetapkan.

Sep 28, 2007

sang dewi

Saya masih ingat betul , tiga tahun lalu, hari pertama saya kuliah di ITB. Saya datang 20 menit sebelum kuliah pertama pukul 7. Banyak pertanyaan dalam kepala saya.
Seperti apa teman-teman saya nanti?
Apa saya dapat membaur dengan mereka?
Bagaimana rasanya kuliah?
Bagaimana rasanya jadi mahasiswa?
Saya ingat, pagi itu saya berputar-putar kebingungan mencari ruangan 9134. Apa itu 9134? Memangnya di ITB ada sampai 9000an ruangan ya? Begitu banyak gedung, saya harus menuju kemana?
Bingung, tapi juga excited. Saya tidak sabar duduk di ruang kelas, mendengarkan dosen mengajar. Saya tidak sabar untuk kuliah. Saya bertanya ke orang yang sedang melintas di depan saya. 9134 itu dimana ya? Bukan jawaban yang saya dapat. Tapi justru nasihat agar melihat peta ITB saja. Untungnya, orang kedua yang saya tanyai memberikan jawaban solutif. Ia langsung mengarahkan telunjuknya ke bangunan yang di kemudian hari saya kenal dengan GKU Lama atau GKU Barat.

Terhitung Agustus 2007 ini, resmi sudah saya masuki tahun keempat saya di ITB. Tapi kenangan akan hari pertama itu, masih melekat jelas di ingatan. Bukan, postingan ini bukan tentang pengalaman perkuliahan saya di ITB. Cerita di atas hanya gambaran tentang salah satu kepingan kecil sejarah saya di ITB.

Posting ini tentang dia yang telah menjadi bagian dari kehidupan saya selama saya di ITB. Mungkin saya tak ingat tiap detail hari yang telah saya lewatkan bersamanya layaknya saya ingat hari pertama saya di ITB, namun tentang dia, insyaallah saya tak akan lupa.

Namanya Batari. Kalau menurut si empunya nama, Batari artinya Dewi. Di belakang nama Batari, disambung dengan kata Saraswati. Yang (lagi-lagi) menurut si empunya nama, berarti Ilmu Pengetahuan. Maka Batari Saraswati saya artikan sebagai Dewi Ilmu Pengetahuan.
Batari Saraswati adalah sahabat pertama saya di ITB.

Kalau orang Jawa punya pepatah “witing trisna jalaran saka kulina”, suka itu ada karena biasa, mungkin itu juga yang terjadi pada saya dan Batari. Kami sekelas, kami satu unit. Di unit tersebut, kami ditugaskan membuat artikel bersama. Dari sana lah awal komunikasi saya dan Batari meningkat. Mulai dari membahas artikel, hingga menyumpah serapahi Pemimpin Redaksi unit kami ketika itu.

Singkat cerita, memasuki semester kedua, saya dan Batari semakin dekat. Karena saya (terutama dulu) adalah tipe orang yang cukup tertutup, maka tak mudah bagi saya menceritakan masalah-masalah pribadi saya pada orang lain. Maka ketika saya dapat merasa nyaman bercerita tentang masalah pribadi saya kepada seseorang, ketika itulah saya sudah resmi menganggap dia sebagai sahabat saya. Demikian pula yang terjadi pada Batari.

Demikianlah, saya dan Batari pun berteman dekat. Meskipun memasuki tingkat dua kami tak sekelas lagi, namun berkomunikasi dengannya tetap tak menjadi masalah. Malah, pada tahun ketiga kuliah, saya pindah ke rumahnya yang sebagian kamarnya memang untuk dikostkan.

Dulu, Batari pernah bilang dia iri pada saya. Karena apa ya? Saya juga tidak tahu.
Tapi sekarang, justru saya yang iri padanya. Iri ini bukan asal iri. Ada beberapa alasan yang saya rasa cukup pantas membuat saya iri pada Batari :
1. Batari punya disiplin diri yang tinggi, kecuali soal diet.
2. Batari punya IPK cumlaude.
3. Batari punya banyaak sekali teman yang sayang padanya.
4. Batari bisa menjadi orang yang baik hati sekaligus tegas.
5. Batari punya otak yang brilian.
6. Batari bisa betah mencatat di kelas.
7. Batari selalu pintar mencari kesempatan untuk mengembangkan kemampuannya.
8. Batari sering menang lomba ilmiah.
9. Batari itu modis dan manis.

Kira-kira awal tahun ini, Batari mendaftarkan diri mengikuti program exchange ke Jepang. Prosesnya agak lama, melewati tahap demi tahap. Sejak awal, saya tahu ia mengikuti seleksi tersebut. Namun saya baru ngeh betul setelah ia masuk ke tiga kandidat besar. Pada titik itu, kondisi Jepang sudah bukan lagi mimpi di siang bolongnya.

Sayang, ia tak lolos tahap terakhir. Batari bilang dia sedih. Saya pun ikut prihatin. Tapi di sisi lain tak dapat saya pungkiri ada kelegaan dalam hati. Batari tak jadi ke Jepang. Batari masih akan tetap di Bandung. Dunia pun berjalan normal.

Suatu malam ia bilang pada saya. Proposalnya yang dulu dimentahkan itu, ternyata masih berlanjut. Ada seorang profesor di universitas Tohoku yang tertarik dan bersedia menjadi pembimbing Batari. Approval dari sang profesor tersebut berdampak sangat besar, membawanya semakin dekat ke Jepang.

Sudah 95% OK, kata Batari. Diambil atau tidak ya? Ia bertanya.

Ambil saja Bat, ujar saya spontan ketika itu. Saat itu saya mengerti, kalau pun bukan kali ini, suatu saat nanti Batari pasti akan pergi ke Jepang atau manapun yang dia inginkan. Kegagalan justru akan melecutnya untuk menjadi lebih baik. Dan saya yakin, kalau ia melewatkan kesempatan ini, ia akan menyesal dan itu juga akan melecutnya untuk menjadi lebih baik. Intinya, sekarang atau nanti ia pasti pergi. Memang begitulah Batari.

Kira-kira satu atau dua bulan lalu, kepastian itu datang. 30 September ini Batari akan terbang ke Jepang dan baru akan kembali ke Indonesia April tahun depan. Studinya akan terlambat satu tahun, tapi kalau sudah sampai Jepang,siapa yang peduli berapa tahun Anda menyelesaikan Strata 1 Anda?

Hari-hari ini, menjelang kepergiannya saya tak sedih. Teman-teman di kampus sering bilang pada saya “jangan sedih ya Min..”, saya tersenyum saja. Saya menolak untuk bersedih. Tak ada gunanya buat saya atau pun buat Batari. Dan memang tak ada yang perlu disedihkan kan?
Memang, 6 bulan ke depan saya tak akan bertemu dengannya. Tapi bukankah 6 bulan itu singkat? Ia kan bukannya akan amnesia atau apa sekembalinya dari Jepang. Ia pasti akan masih ingat teman-temannya. Karena Batari memang begitu.

Tak ada yang perlu disedihkan karena tak ada perpisahan disini. Kalaupun bukan 6 bulan lagi, mungkin satu tahun lagi atau 10 tahun lagi, saya masih bisa bertemu Batari. Memang, menyayangi seseorang bukan berarti melulu harus berada di dekatnya. Tapi mendukung apa pun yang terbaik baginya. Saya yakin Jepang adalah yang terbaik bagi Batari.

Mungkin kalaupun ada hal yang membuat saya sedih adalah pemikiran kapan ya saya bisa mengejar ketertinggalan saya dari Batari? Kadang rasanya tak percaya Batari itu sahabat saya. Benarkah orang yang terpilih mengerjakan riset di Jepang itu adalah orang yang sama dengan yang menemani saya makan Hot Chocolate Delight? Benarkah orang yang mendapat rekomendasi dari profesor Jepang itu adalah orang yang sama dengan yang mendengarkan curhat-curhat saya?
Kalau bersama Batari, rasanya seperti tak ada yang mustahil. Ia adalah salah satu inspirator terbesar dalam hidup saya.

Hari Minggu malam besok sang Dewi Ilmu Pengetahuan itu akan bertolak ke Jepang. Saya hanya dapat berpesan : enjoy your time!



Nb. : dalam kamus Batari, enjoy = belajar.


Aug 30, 2007

berita buruk

Pagi itu saya dalam perjalanan menuju kantor tempat saya Kerja Praktek. Untuk mengusir rasa bosan selama 45 menit menyetir, saya nyalakan radio : Prambors. Sebagai pengendara mobil yang baik, konsentrasi saya tetap pada jalan di depan saya. Sehingga suara-suara di radio tersebut tidak lebih hanya sebagai pengiring saja.

Namun tiba-tiba perhatian saya tercuri. Lantaran suara cempreng penyiar di radio berubah menjadi suara yang datar dan serius. Tak hanya itu, layaknya nada pembaca berita di Metro TV, penyiar tersebut berkata :

“… (saya lupa bagian awalnya) beberapa korban telah ditemukan…”

Penasaran tentang kejadian tersebut, saya pun mengencangkan volume radio.

“..petugas masih terus mencari korban-korban yang lain..”

Waduh, dimana lagi nih ada kebakaran?

“..reporter kami melaporkan langsung dari tempat kejadian..”

Eh, atau gempa bumi?
Saya semakin prihatin.
Berikutnya, terdengarlah suara reporter yang berada di lokasi kejadian. Suara sang reporter yang lantang di tengah suara dengung kekacauan sebagai latarnya berkata,
“Baik. Saat ini saya sedang berada di lokasi kejadian. Telah ditemukan rambut rontok dimana-mana. Korban rambut rontok ini masuh terus bertambah..”

… [speechless]

Korban, petugas… RAMBUT RONTOK?!
After all the things that happened in this country, some people think that it might be fun talking hair fall ‘disaster’ in a very similar way the real anchors talking and the real reporters reporting about earthquake or flood or tsunami.
I swear that the voices were constantly in the flat tone until the end. You just need to replace the “rambut-rontok” word to “manusia” and it would be a perfect bad news.
It was really really reaaaaally not funny at all!
Don’t they have any relatives that being a real victim or read any articles about the real victim of those real disasters?

For the closing statement, this shampoo advertisement (I’m not really sure, but I think it was Sunsilk. Please correct me if I was wrong) stated a very persuasive sentence (to hate them, of course) :

“Hentikan berita buruk!”

At that very moment I just couldn’t help myself from saying : TAI!

Aug 13, 2007

Journey to Arab [part 2]

Mereka menyebutnya Madinnah Al-Munawarrah. Mulanya, saya tak mengerti apa maksudnya. Ya sudahlah, bukankah memang wajar kalau tiap kota punya julukan masing-masing? Seperti Bogor kota hujan, Bandung kota Kembang (beeeut…), atau Palembang kota... Pempek(??).

Saya tiba di Madinnah menjelang sore. Beruntung sekali, hotel yang saya tempati berada di depan masjid Nabawi. Saya katakan “di depan”, tapi bukan berarti tinggal ngesot untuk masuk ke dalam. Karena saudara-saudara, yang namanya masjid Nabawi itu gedaaaaa benerrrrrr.

Berbeda dengan Masjidil Haram di Mekkah yang nyaris tidak memiliki halaman luar, masjid Nabawi ini memiliki halaman yang luas. Dari pagar depan masjid hingga ke pintu masuk kira-kira berjarak sekitar 100 meter (hoho. Ini hasil perkiraan kasar saya).
Konon, kota Madinnah di masa Nabi Muhammad hijrah dulu ya masjid Nabawi ini. Dengan kata lain, kota Madinnah jaman dahulu kala sebesar masjid ini. Pada zaman khulafaur rasyidin (zaman kepemimpinan sahabat-sahabat Nabi), kota Madinnah kemudian diperluas. Seluruh kotanya dijadikan masjid, dan sekitarnya, ya dijadikan kota. Terbayang kan bagaimana besarnya masjid ini?

Begitu sampai, saya sudah tak sabar ingin masuk ke dalamnya. Kabarnya, masjid ini tergolong mewah. Benar saja. Belum juga masuk, saya sudah terkagum-kagum dengan pintunya. Pintu kayu besaaaar dengan ukiran berlapis emas. Masuk ke dalam, semua ruangan full AC. Ini juga yang membedakannya dengan Masjidil Haram yang lebih terkesan terbuka sehingga mungkin meskipun ada AC, jadi tidak telalu terasa.

Sudah ber-AC, lantainya marmer pula, jadilah masjid ini menjadi tempat yang sejuk sekali. Tidak kalah dengan Masjidil Haram, di masjid Nabawi pun kita masih bisa menikmati air zam-zam. Di semua sudut masjid terdapat tempat-tempat air berisi air zam-zam berikut gelas-gelas plastic di sampingnya. Air zam-zam ini langsung “diimpor” dari Masjidil Haram.

Sama juga seperti Masjidil Haram, disini pun terdapat petugas-petugas keamanan yang mengecek tiap pengunjung yang masuk. Dan karena di masjid Nabawi ini tempat laki-laki dan wanita terpisah (lagi-lagi ini berbeda dengan di Masjidil Haram dimana pintu masuk antara laki-laki dan wanita tidak dipisahkan), maka yang memeriksa bagian wanita pun petugas wanita juga. Memakai pakaian hitam-hitam dan bercadar, petugas disini tampak cukup galak. Yang jelas, lebih galak daripada satpam-satpam di mal.

Keistimewaan lain dari kota Madinnah adalah karena disinilah adanya makam Nabi Muhammad saw. Di sebuah tempat di dalam masjid Nabawi yang disebut dengan Roudlah. Sebenarnya tidak tepat begitu juga sih.
Jadi begini ceritanya. Dahulunya, ketika Nabi Muhammad saw masih hidup dan masjid Nabawi belum segedaaaa sekarang, Nabi memiliki rumah di belakang masjid. Antara rumah Nabi dan mimbar yang biasa dipakai Nabi Muhammad untuk berdakwah terdapat sebuah taman. Diceritakan bahwa Nabi Muhammad saw pernah bersabda bahwa diantara taman-taman yang ada di surga, salah satunya adalah taman yang berada antara rumahnya dan mimbarnya. Tempat itu lah yang kemudian disebut Roudlah yang saat ini sudah menjadi bagian dari masjid Nabawi. Makam Nabi Muhammad saw sendiri tidak jauh dari situ. Karena sesuai pesannya, Nabi Muhammad saw dimakamkan di rumahnya.

Roudlah ini tidak setiap hari di buka. Hanya pada hari tertentu dan jam-jam tertentu saja. Ramenya minta ampuuuun. Uniknya, dalam menghadapi massa yang demikian banyak, pihak keamanan masjid memiliki strategi sendiri. Sebelum pintu Roudlah dibuka, pengunjung diminta berbaris sesuai dengan Negara asal masing-masing. Setelah itu barulah tiap Negara mendapatkan gilirannya masing-masing. Tapi biarpun sudah diatur demikian, tetap saja selalu ada celah hingga keadaan menjadi rusuh.

Di daerah sekitar masjid Nabawi terdapat berbagai macam toko-toko. Ada yang menjual makanan, perhiasan, pakaian, mainan, sampai toko kelontong. Kalau mau berjalan sedikit, maka ada juga pasar yang menjual barang-barang dengan harga lebih murah. Bentuknya mirip-miriplah sama Pasar Tebet yang ada di Jakarta itu. Hanya saya pasar disini tidak sesesak yang di Tebet itu. Paling tidak masih ada ruang untuk bernafas.

Saya sudah bilang kan ya kalau masjid Nabawi itu gedaaa banget? Namun, entah mengapa, ketika waktu shalat tiba, keadannya tetap menjadi penuh sesak.Membuat saya bertanya-tanya ada berapa milyar orang sih di dalam sini? Hah, berlebihan sih. Nggak mungkinlah sampai milyaran, memangnya RRC? Tapi entahlah berapa jumlahnya, pastinya banyak sekali sampai penuh.Padahal, saya kembali mengingatkan… Masjid ini kan dulunya KOTA.

Pernah suatu kali saya tarawih di masjid bersama ibu dan adik saya. Sampai selesai shalat Isya, keadaan masih terkendali. Yah, paling-paling kesikut sana sini. Maklumlah, disana saya termasuk bertubuh kecil apabila dibandingkan wanita-wanita Arab dan Afrika (yes!).
Menjelang shalat tarawih, mulailah menjadi agak ricuh. Serombongan ibu-ibu Arab tiba-tiba mengambil tempat di depan saya. Membuat saya bertanya-tanya, dimana akan saya letakkan kepala saya ketika sujud nanti? Sebelum ibu-ibu ini datang saja saya hanya punya ruang sekitar 20 cm di depan saya. Itu saja sudah membuat saya jungkir balik melipat tubuh saya yang mungil ini saat sujud atau ruku’.
Ternyata benar saja, kehadiran para ibu membuat ruang sujud saya jadi limit mendekati 0 cm. Kecuali saya gadis plastic atau pemain sirkus, rasanya hampir mustahil jidat saya ini bisa menyentuh lantai.
Maka, selesai dua rakaat pertama, saya pun berniat pindah ke belakang. Saya cari-cari ke belakang, kok tidak ada tempat juga ya? Jangankan untuk shalat, untuk berjalan saja susah. Saya pun mulai agak panik. Mana shalat tarawih ronde kedua sudah mau mulai lagi. Saya terus berjalan ke belakang, berharap menemukan sepetak tampat kosong. Nihil.
Hingga akhirnya saya terdampar di halaman. Meskipun tidak penuh, di halaman masjid pun cukup banyak orang yang shalat. Ya sudahlah, shalat di halamannya pun tak apa.

Namun justru dengan berada di belakang itu saya dapat melihat keunikan lain. Di masjid Nabawi, dalam satu malam tarawih, biasanya dibaca satu juz Al-Qur’an. Yes honey, it’ll take quite a long time. Dan saya akui memang lelah rasanya berdiri selama itu.
Nah, untuk ibu-ibu yang sedang sakit atau sudah tua atau capek, bisa melaksanakan shalat sambil duduk di bangku. Tidak hanya ibu-ibu, anak-anak maupun remaja juga ada yang demikian. Biasanya mereka sudah membawa bangku kecil dari rumah. Bahkan belakangan saya lihat di depan masjid juga ada yang menyewakan bangku-bangku itu. Disini shalat sambil duduk ternyata bukan hal aneh.

Yang paling saya syukuri dari “terlempar”nya saya ke halaman masjid adalah akhirnya saya menyadari mengapa mereka menyebutnya Madinnah Al Munawarrah. Di tengah hitamnya langit malam, lampu-lampu yang seolah terpasang di sekujur dinding masjid Nabawi bersinar terang membuat masjidnya Nabi Muhammad saw ini layaknya istana dalam dongeng.

Sebuah kota dimana terdapat makam Nabi Muhammad saw di dalamnya, bersinar dengan indahnya, Saya mengerti sekarang. Memang sungguh namanya yang pantas bagi Madinnah.

Madinnah Al Munawarrah, Madinnah yang bercahaya.


nb. hingga saat ini pun, hanya dengan mendengar kata Madinnah Al Munawarrah, masih dapat membuat pemandangan malam itu terbayang jelas dalam ingatan saya.
Subhanallah.

The Other Blog

Dear all, This blog is not going to be updated often as I have created another one at www.floresianay.wordpress.com which will be focusi...